Bayu Skak berpose untuk Beritagar.id di kantor Beritagar, Selasa (26/2/2018).
Bayu Skak berpose untuk Beritagar.id di kantor Beritagar, Selasa (26/2/2018). Wandha Saphira / Beritagar.id
BINCANG MINI

Bayu Skak: Saya ingin menjadi lidah rakyat

Jangan pernah malu akan kedaerahan sendiri. Bayu Skak mencoba melestarikannya melalui film dan Youtube.

Bukan sekali dua kali ia mendapat olokan atau sekadar guyonan: ndeso. Konten YouTube dengan bahasa Jawa menjadi pangkalnya. Bayu Eko Moektito sudah terbiasa dengan olokan dan gurauan itu.

Di ranah maya, Bayu Eko dikenal dengan Bayu Skak. Nama akhir Skak itu diambil dari grup komedi yang pernah digagas bersama temannya di SMK Grafika di Malang. Kepanjangannya Sekumpulan Arek Kesel.

"Selama ini orang liat saya dari kelemahan sehingga diejek YouTuber ndeso karena memakai bahasa Jawa," kata pemuda kelahiran Malang, 13 November 1993 itu.

Ketika banyak orang yang menganggap ndeso, Bayu justru memandangnya sebagai peluang. Ia konsisten dengan bahasa Jawa-nya.

Nama Bayu melambung. Kanal YouTube milik Bayu dengan konten menggunakan bahasa Jawa telah memiliki subscribers lebih dari 2 juta. Ia pun beberapa kali diundang ke istana bersama YouTuber lainnya.

Tak hanya YouTube, Bayu pun membuat film drama komedi yang dominan menggunakan bahasa Jawa. Film Yowis Ben pertama dirilis pada 22 Februari 2018. Bayu menjadi co-sutradara dan pemain.

Film pertama sukses dengan 950 ribu penonton. Film pertama itu pula yang memicu Bayu sehingga lulus kuliah dari Universitas Negeri Malang. Kini, Bayu membuat Yowis Ben 2 yang akan tayang 14 Maret 2019.

Pada film kedua itu, ada sosok yang turut menjadi sorotan: Gibran Rakabuming Raka. Pemilik warung martabak Markobar dan anak sulung Presiden Joko Widodo itu turut bermain dalam film Yowis Ben 2.

Di sela kesibukannya tur ke beberapa media, Bayu Skak berbincang di kantor Beritagar.id pada Selasa (26/2/2018). Ia pun tak luput menyelipkan bahasa Jawa sebagai khasnya dalam percakapan selama sejam ini.

Bayu Skak berpose untuk Beritagar.id di kantor Beritagar, Selasa (26/2/2018).
Bayu Skak berpose untuk Beritagar.id di kantor Beritagar, Selasa (26/2/2018). | Wandha Saphira /Beritagar.id

Film Yowis Ben 2 akan diluncurkan Maret, berdekatan Pemilu. Apakah ada kekhawatiran film larut dalam politisasi?
Enggak. Yowis Ben itu bukan politis. Hubungan saya sama Mas Gibran itu pertemanan doang. Aku ono film iki, sampean kan ono Markobar. Kebetulan ada karakter di film yang punya warung. Gimana kalau warungnya Markobar, kita kerja sama. Tandem. Tidak ada sangkut pautnya sama Pemilu.

Sama sekali tak bicara politik?
Enggak ada. Selama syuting tidak pernah ada obrolan tentang Pemilu. Malah kita berguraunya yowis yang lucu-lucu aja.

Bagaimana bisa kenal dengan Gibran?
Pertama kali ketemu Mas Gibran pas di acara talkshow. Dia bilang sering nonton YouTube saya. Akhirnya tukeran nomor hp. Ketika ke Solo, saya kontakan dan bertemu di Markobar. Dari situ obrolan mengalir, termasuk soal film. Saya memberanikan diri menawari Mas Gibran main film, meski hanya satu scene. Dia mengiyakan.

Bagaimana awalnya sehingga Anda membuat film Yowis Ben yang menggunakan bahasa Jawa?
Saya menulis cerita film Yowis Ben ini. Ketika saya punya konsep film dengan dominasi bahasa Jawa, awalnya rumah produksi berpikir tidak bakal laku. Kamu terlalu idealis, sekarang kan musimnya horor. Mengapa kamu enggak bikin horor aja. Saya mikir kalau ikut-ikutan yang lagi populer akan kebawa trend terus. Kapan kita mikir di luar kotaknya.

Terus, bagaimana Anda meyakinkan rumah produksi?
Saya memberanikan diri sendiri dengan memberikan opsi. Saya tidak perlu dibayar kalau misalnya filmnya tidak tembus 500 ribu penonton. Itu yang membuat produser-produser melirik dikit. Loh kamu berani, akhirnya deal sama Starvision.

Ternyata sukses ya...?
Iya sampai 950 ribu penonton. Itu di luar ekspektasi. Saya mikir untuk mencapai 500 ribu penonton saja pasti capek dan susah. Ternyata yang saya paparkan itu diterima di masyarakat.

Apa yang membuat Yowis Ben bisa diterima masyarakat?
Karena sangat related banget sama kehidupan. Kenapa orang menerima cerita Yowis Ben ini karena dekat. Makna dari cerita itu tentang persahabatan dan keluarga. Jadi, ketika orang ke luar dari bioskop bukan hanya ketawa doang. Mereka dapat dari intisari ceritanya.

"Saya ingin memberikan informasi kepada orang-orang agar kita tidak melupakan daerah."

Bayu Skak

Apakah Yowis Ben mencerminkan kehidupan Anda?
Oh bukan. Bayu yang ada di Yowis Ben itu beda dengan Bayu saya. Kadang orang salah mereka mengira kalau Bayu yang ada di Yowis Ben itu saya. Namanya aja sama. Bayu di film kan anak yang jualan pecel. Kesal diolok terus dengan sebutan pecel boy. Akhirnya ia punya keinginan pengen buat band yang eksis dan terbentuklah Yowis Ben.

Mengapa latarnya di Malang?
Saya besar dan lahir di Malang. Saya ingin memperkenalkan kepada dunia bahwa banyak tempat bagus, misalnya Kampung Warna-warni. Saya melihat banyak yang syuting jauh buat gengsi. Tak usah jauh-jauh ke luar negeri karena banyak daerah di Indonesia bagus. Saya ingin memberikan informasi kepada orang-orang agar kita tidak melupakan daerah.

Apakah Anda melihat kecenderungan generasi muda melupakan kedaerahnnya?
Bisa dibilang begitu. Misalnya di Kota Malang. Anak-anak kecilnya sudah ngomong lu gua. Lha koe iki neng Malang opo Jakarta. Kalau bahasa daerah dilupakan, ke depannya akan benar-benar punah.

Apa yang ingin Anda capai dengan menonjolkan kedaerahan itu?
Selama ini kita didoktrin bahwa orang daerah ke kota menjadi pembantu. Menganggap orang daerah rendah. Ndeso. Itu yang pengin saya ubah. Daerah mana pun, bukan Jawa aja, jangan pernah malu akan kedaerahan sendiri. Saya mencoba melestarikannya dengan cara saya sendiri. Melalui film dan YouTube sehingga anak-anak muda tahu.

Apakah film dengan bahasa daerah bisa meraih sukses?
Bisa saja. Yowis Ben yang menggunaan bahasa Jawa tetapi tayangnya secara nasional. Sekarang ini ada beberapa yang sudah syuting menggunakan bahasa Batak, Bali, dan Makassar. Kan bagus.

Anda di YouTube juga menggunakan bahasa Jawa. Apa alasannya?
Kanal YouTube saya kebanyakan menggunakan bahasa Jawa. Saya tahu pasar saya di mana. Pasar saya adalah orang yang berbahasa Jawa. Di Republik ini ada sekitar 40 persen yang berbahasa Jawa loh.

Sebagai YouTuber, Anda beberapa kali diundang ke istana. Bagaimana prosesnya?
Awal saya diundang ke istana itu karena kenal dengan beberapa orang, termasuk Kaesang (Kaesang Pangarep, putra bungsu Presiden Joko Widodo) yang juga YouTuber.

Apa yang disampaikan Presiden?
Ketika saya naik pesawat kepresidenan dan datang ke istana, sebenarnya Pak Presiden mau bilang: kalian para YouTuber itu punya follower dan penonton. Ketika kalian bilang A penonton kalian itu bilang A. Jadi kalian harus hati-hari membuat konten. Jangan SARA. Jangan ada yang berantem.

Tidak khawatir dibilang buzzer istana ?
Enggak. Kalau buzzer istana kan ada yang sudah terang-terangannya. Kalau saya enggak. Saya ingin omongan saya ini mewakili masyarakat. Bukan calon presiden tertentu. Saya ingin menjadi lidah rakyat.

Bagaimana Anda sebagai pemuda melihat Pemilu sekarang?
Miris karena banyak hoaks gitu. Lebih miris lagi ketika melihat yang menyebarkan hoaks masih percaya diri. Sekarang ini era Internet. Banyak juga orang-orang lebih kritis melihat Pemilu. Mereka tidak dapat dibodohi. Mereka enggak akan tergerus kok. Mungkin yang kena simpatisan.

Bisa diceritakan pengalaman Anda ketika menjadi duta SMK dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan?
Saya kan memang anak SMK. Ketika Yowis Ben 1 sukses, saya menjadi contoh bahwa ada anak SMK Malang sukses bikin film. Saya tur ke beberapa tempat untuk memberikan informasi bahwa anak SMK itu bisa kuliah dan kerja di mana saja.

Apa yang didapat dari film Yowis Ben?
Film Yowis Ben 1 itu membuat saya mendapat banyak hal. Karya berhasil dan mendapat dua penghargaan. Lewat film itu juga saya bisa lulus kuliah dan dapat pacar. Saya harus banyak bersyukur karena Yowis Ben 1 ini. haha.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR