TELEKOMUNIKASI

Beban berat perusahaan telekomunikasi hadapi perang tarif

Petugas menunjukkan aplikasi M-banking Telkomsel yang terinstall di ponsel pintar pada peluncurannya  di Community Area Palembang  Indah Mall, Sabtu (22/12/2018).
Petugas menunjukkan aplikasi M-banking Telkomsel yang terinstall di ponsel pintar pada peluncurannya di Community Area Palembang Indah Mall, Sabtu (22/12/2018). | Fenny Selly /Antara Foto

Pertumbuhan industri telekomunikasi di Indonesia mengalami tekanan yang cukup berat tahun lalu. Persaingan bisnis yang ketat hingga regulasi yang tidak mendukung menjadi sejumlah faktor yang menggerus nilai bisnis komunikasi.

Anggota Komite Regulasi Telekomunikasi - Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), I Ketut Prihadi, menyebut bahwa perang tarif menjadi salah satu penyebab kurang sehatnya industri telekomunikasi, khususnya seluler.

Ia berkata, persaingan antar operator di Indonesia terbilang paling keras di dunia. Alhasil, untuk menarik minat pengguna beralih ke jaringannya, sejumlah operator terpaksa menerapkan tarif data yang disinyalir sudah berada di bawah harga produksi.

Dalam jangka pendek, tarif murah mampu mengerek jumlah pelanggan secara signifikan. Sayangnya, peningkatan trafik yang melonjak drastis tidak sepadan dengan pendapatan yang diterima. Alhasil, praktek jual rugi ini akan mengancam kondisi keuangan operator. Bukan tak mungkin, operator bisa jatuh dan ujungnya konsumen yang dirugikan.

"Ini yang kemudian membuat masalah karena pelaku industri justru menjadi tidak sehat. Harga yang tak wajar tersebut diyakininya hanya akan bagus dalam jangka pendek bagi masyarakat, tetapi untuk jangka menengah dan panjang justru malah menjadi bumerang," ujar Ketut kepada Beritagar.id, Jumat (29/3/2019).

Saat ini sudah ada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mengatur formula tarif jasa telekomunikasi, khususnya untuk layanan suara dan SMS. Sedangkan untuk akses internet atau data, memang belum diatur.

Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyebut, pendapatan industri telekomunikasi pada 2018 mencapai Rp148 triliun, turun 6,4 persen dibandingkan tahun 2017 yang mencapai Rp158 triliun. Empat perusahaan penyedia jasa telekomunikasi terbesar di Indonesia pun mencatatkan kinerja yang kurang cemerlang.

Pertama, hingga kuartal III tahun lalu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. melaporkan penurunan laba bersih sebesar Rp14,426 triliun, turun 20,59 persen dibandingkan periode yang sama (year-on-year/yoy) di 2017 sebesar Rp17,922 triliun.

Kedua, PT XL Axiata Tbk. mencatatkan kinerja keuangan negatif yakni rugi Rp145 miliar selama periode Januari-September 2018. Angka ini membaik dibandingkan laporan laba rugi periode yang sama pada 2017, yakni rugi Rp238 miliar.

Lalu PT Indosat Tbk mengalami kerugian sebesar Rp1,53 triliun selama periode Januari-September 2018. Mengutip laporan keuangan perusahaan pada kuartal III-2018, kinerja Indosat menurun drastis dibandingkan periode sama di 2017 yang untung Rp1,09 triliun. Kerugian Indosat hingga kuartal III didorong oleh turunnya pendapatan, yakni dari Rp22,565 triliun di 2017 menjadi Rp16,76 triliun di 2018.

Terakhir ialah PT Smartfren Telecom Tbk. Perusahaan telekomunikasi ini mencatatkan kerugian paling besar, yakni Rp2,5 triliun selama 9 bulan pertama di 2018. Namun kerugian perusahaan milik Sinar Mas Group itu lebih baik dibandingkan dengan catatan rugi pada periode Januari-September 2017 yang sebesar Rp2,8 triliun.

Buyback bukan solusi

Wacana untuk menyelamatkan salah satu perusahaan telekomunikasi dari kebangkrutan pun disuarakan oleh calon Wakil Presiden Sandiaga Uno. Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno berjanji akan mengambil alih kendali Indosat apabila ia terpilih dengan cara pembelian saham kembali atau buyback.

Kini sebanyak 65 persen atau setara 3.532.056.600 lembar saham Indosat dikuasai oleh Ooredoo Asia Pte. Ltd, sekaligus menjadikan perusahaan asal Qatar itu pengendali Indosat.

Namun, menurut Analis Reliance Sekuritas Indonesia, Lanjar Nafi, rencana buyback Indosat kurang menguntungkan karena saat ini mereka tengah merugi. Menurutnya, lebih baik mendirikan perusahaan baru daripada membeli lagi Indosat. Ia mengatakan perusahaan yang sudah ada maka hanya memindahkan kepemilikan, sedangkan investasi sudah ada di usaha tersebut.

Belum lagi, bisnis di bidang komunikasi membutuhkan investasi yang terus menerus untuk mengaplikasikan teknologi terkini.

"Industri di bidang komunikasi adalah bisnis yang padat modal dengan keuntungan yang kecil," ujarnya.

Pemerintah dorong konsolidasi

Untuk menekan kerugian dan meringankan biaya operasional, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menilai konsolidasi operator bisa menjadi solusi bagi masalah ini.

Dalam kesempatan wawancara khusus dengan Beritagar.id Selasa 12 Februari lalu, mantan petinggi XL Axiata itu mengatakan konsolidasi perusahaan operator memang tidak mudah dilakukan. Sebab, masih butuh persetujuan dari pemegang saham.

"Aksi konsolidasi atau akuisisi itu bukan level manajemen, tapi sudah level share holder (pemegang saham). Saya sudah sampaikan ke beberapa pemegang saham operator, sudah saatnya dipikirkan untuk lebih baik saling konsolidasi," ucapnya.

Namun ia memastikan manfaat konsolidasi yang bisa didapatkan operator. Pertama, persaingan akan semakin berkurang. Kedua, operator mendapatkan manfaat dari pembangunan jaringan.

Ia mencontohkan, bila perusahaan telekomunikasi berkonsolidasi, pembangunan jaringan hanya dibutuhkan satu kali saja, dan bisa mengurangi belanja modal hingga separuhnya.

Hal positif lainnya yang bisa dipetik bagi para pemain jika semakin sedikit kompetitor adalah adanya tarif yang lebih sehat. Maklum, tarif menjadi salah satu upaya berbagai operator telekomunikasi untuk meningkatkan jumlah pelanggannya.

"Jika dulu pendapatan operator telekomunikasi berasal dari tarif voice dan SMS, kini masyarakat lebih memilih mengkonsumsi data karena lebih efisien. Komunikasi yang pada masanya memanfaatkan tarif voice dan SMS kini lebih murah dengan memanfaatkan tarif data," katanya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR