KINERJA PLN

Beban dan pasokan listrik barat Jawa tak imbang

Petugas PLN melakukan perbaikan jaringan listrik, Desember 2018
Petugas PLN melakukan perbaikan jaringan listrik, Desember 2018 | Mohamad Hamzah /AntaraFoto

Perusahaan Listrik Negara (PLN) berjanji bakal menginvestigasi penyebab pemadaman listrik massal di DKI Jakarta, Banten, sebagian Jawa Barat dan Jawa Tengah, pada Minggu (4/8/2019) malam.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN Sripeni Intan Cahyani menjamin investigasi bakal digelar oleh tim independen sehingga perbaikan akan kerusakan yang terjadi benar-benar signifikan.

Tidak ada waktu pasti kapan investigasi tersebut harus rampung. Sripeni hanya berharap setidaknya dalam rentang satu hingga tiga bulan ke depan pihaknya sudah memiliki gambaran yang komprehensif terkait penyebab pemadaman massal ini.

PLN sudah pasti kalang kabut. Pemadaman listrik secara massal (blackout) dari Jawa hingga Bali terakhir kali terjadi 22 tahun silam, saat infrastruktur jauh lebih usang ketimbang saat ini.

Apalagi, Sripeni belum genap seminggu menjabat sebagai bos perusahaan setrum pelat merah itu.

Kronologi kejadian, versi Sripeni, berawal dari gangguan di Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 KV Ungaran-Pemalang, pada Minggu sekitar pukul 11.45 WIB. Akibatnya, terjadi penurunan tegangan yang menyebabkan jaringan SUTET Depok dan Tasikmalaya ikut terganggu.

Kendati ada gangguan, pada saat itu listrik di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali tetap berjalan normal. Baru pada sekitar pukul 11.48 WIB, Jawa Barat dan DKI Jakarta mendadak padam serentak.

Mitigasi awalnya adalah dengan memasok aliran listrik dari Jawa Timur yang tidak terdampak ke PLTA Saguling dan PLTA Cirata yang berfungsi sebagai penstabil daya dan tegangan.

Dari dua PLTA itu, pasokan listrik dikirim ke barat menuju PLTU Suralaya melalui GITET Cibinong, Depok, Gandul, Lengkong, dan Balaraja.

Pasokan yang masuk ke GITET Gandul kemudian disalurkan ke Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Muara Karang. Dari Muara Karang ini lah pasokan listrik ke ibu kota masuk dengan estimasi waktu pemulihan minimalnya 3 jam. Maka dari itu, arus listrik di Jakarta mulai berangsur normal pada kisaran pukul 19.27 WIB ke atas.

Di luar dari hal itu, PLN semestinya sudah memiliki solusi untuk mengatasi beban berat listrik di wilayah bagian barat pulau Jawa.

Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Djoko Raharjo Abumanan tegas menyatakan penyebab utama pemadaman listrik secara massal ini akibat kelebihan beban listrik di tiga titik: Jakarta, Bekasi, dan Banten.

Kelebihan beban listrik di tiga titik ini tentu wajar, sebab populasinya tinggi. Karenanya, menjadi tidak wajar apabila pasokan listrik untuk wilayah barat Jawa ini hanya mengandalkan pembangkit di wilayah timur Jawa.

Sebab ada kecurigaan konsumsi listrik di tiga titik ini melonjak jauh lebih tinggi dari kemampuan pasokan listrik yang masuk. “Di barat hanya andalkan Suralaya, Cilegon, dan Muara Karang. Muara Karang pun tidak continue, hanya sebagai penstabil saja,” kata Djoko dalam detikcom.

Tidak berimbangnya pasokan dan konsumsi ini yang diyakini Djoko sebagai pemicu gangguan sistem transmisi kelistrikan Ungaran dan Pemalang (500 kV).

“Kalau dia turun, pembangkit-pembangkit di sisi barat langsung kolaps semua,” tuturnya.

Muara Karang tulang punggung DKI

CNBC Indonesia mengestimasi kebutuhan listrik Jakarta mencapai 5.500 MegaWatt (MW). PLTGU Muara Karang yang berada di utara Jakarta, diklaim sebagai pemasok sekitar 30 persen dari total kebutuhan tersebut.

Total kapasitas pasokan listrik yang berasal dari Komplek PLTGU Muara Karang‎ sebesar 1.600 MW, terdiri dari 11 generator dan tiga pembangkit yakni PLTGU 2x200 MW, PLTGU 500 MW dan‎ PLTGU 700 MW.

General Manager PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Rachmat Azwin menyebut PLTGU Muara Karang sebagai tulang punggung pasokan listrik untuk tempat-tempat VVIP di Jakarta seperti Istana Negara, gedung pemerintahan, bandara, gedung parlemen, hingga pusat belanja di Jl. MH Thamrin.

Rencananya, pasokan listrik Jakarta bakal ditambah 500 MW lagi dari PLTGU Muara Karang Blok 3.

Sampai Juni 2019, progres pembangunannya sudah mencapai 68,25 persen. Jika berhasil memenuhi target, pembangkit baru ini bisa beroperasi pada Maret 2020.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR