BAURAN ENERGI

Belum dapat dana, puluhan proyek energi bersih terancam tutup

Foto udara instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di  Rumah Sakit Pertamina Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (26/10/2018). Karena tak mendapat dana, 24 proyek energi bersih terancam ditutup.
Foto udara instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Rumah Sakit Pertamina Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (26/10/2018). Karena tak mendapat dana, 24 proyek energi bersih terancam ditutup. | Idhad Zakaria /Antara Foto

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)(Persero) bakal menutup rencana pembangunan 24 proyek pembangkit listrik Energi Baru Terbarukan (EBT) alias energi bersih. Penutupan Puluhan proyek ini bakal ditutup jika pada Juni 2019 belum juga menyelesaikan financial close alias belum dapat dana.

Padahal, kewajiban pembiayaan hanya diperbolehkan hingga 12 bulan sejak kontrak perjanjian jual beli listrik (Power Purchasing Agreement/PPA) diteken.

Sebanyak 24 proyek ini merupakan bagian dari 70 proyek yang PPA diteken PLN pada 2017. Total kapasitas 1.214 Megawatt (MW). Lalu, pada 2018 ada 5 PPA tambahan, dengan total kapasitas 372 MW.

Dari total 75 PPA, ada 5 yang sudah beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD). Kemudian, yang telah memasuki tahap konstruksi yakni 30 kontrak. Selain itu, 40 masih melakukan proses final pendanaan.

"Sudah dibantu cari pendanaan, tapi tidak dapat juga," kata Direktur Bisnis Regional Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara PLN Djoko Rahardjo Abumanan kepada Katadata.co.id, Selasa (19/3/2019).

Djoko menyatakan, kenapa 24 proyek ini tak juga mendapatkan dana, sebabnya macam-macam. Misalnya, proyek tersebut diragukan kelayakannya atau masalah administrasi salah ketik kapasitas listrik. Harusnya 3 x 3 MW, tapi ditulis 3,3 MW.

"Untuk hal seperti ini, kami sudah bantu (Independent Power Producer/IPP) mengubah administrasinya ke regulator, yakni Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Selama permintaannya sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG), maka tentu kami bantu," kata dia seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Target dan tantangan penggunaan energi baru dan terbarukan
Target dan tantangan penggunaan energi baru dan terbarukan | Sandy Nurdiansyah /Beritagar.id

Hingga 2017, pencapaian bauran energi bersih baru mencapai 12,3 persen. Batu bara masih mendominasi pembangkit listrik di Indonesia, hingga 58,3 persen dari total daya terpasang; diikuti gas (23,2 persen); dan minyak bumi (6 persen). Sementara, Rancangan Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL 2018-2027, Kementerian ESDM), menyebut porsi batu bara masih mencapai 54,4 persen. Pemerintah punya target menggandakan porsi energi bersih ini menjadi 23 persen pada 2025.

Tapi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan, pernah pesimistis dengan target ini. Pertama, investasi pembangkit energi bersih ini masih mahal, sehingga membuat tarif listrik tak terjangkau masyarakat. Lalu, bahan baku untuk BBM Etanol, terbatas karena bersinggungan dengan kebutuhan pangan.

Dengan kondisi tersebut, dia pun mengakui akan sulit mencapai target bauran EBT. "Mungkin kita cobalah sampai 20 persen," kata Jonan di Jakarta, Kamis (15/11/2018) seperti dinukil dari Bisnis.com.

Belakangan, target ini dicanangkan ulang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2019-2028. "Ini tantangan yang amat besar, sehingga pemerintah memutuskan inisiatif pembangkit EBT di bawah 10 MW tidak perlu ada dalam RUPTL," kata Jonan di kantor PLN, Jakarta, Senin (18/3/2019), seperti dipetik dari Tirto.id. Pembatasan kapasitas pembangkit ini demi mengejar bauran energi yang berasal dari EBT.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR