INDUSTRI PARIWISATA

Bencana gerus potensi wisata Rp28 triliun

Wisatawan asing menyeret koper pascagempa di Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Senin (6/8/2018). Rentetan bencana, membuat pemerintah kembali merevisi target wisman  tahun ini dari 18 juta menjadi 16 juta orang.
Wisatawan asing menyeret koper pascagempa di Kecamatan Pemenang, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Senin (6/8/2018). Rentetan bencana, membuat pemerintah kembali merevisi target wisman tahun ini dari 18 juta menjadi 16 juta orang. | Ahmad Subaidi /Antara Foto

Rentetan bencana yang menimpa Indonesia, membuat potensi wisata sebesar AS$2 miliar atau setara Rp28 triliun menghilang. Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, potensi ini hilang sesuai penurunan target jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun ini.

Arief menjelaskan, perkiraan realisasi kunjungan yang turun 2 juta orang berdampak pada penurunan devisa pariwisata sekitar AS$2 miliar. Dengan kata lain, target devisa pariwisata 2019 sebesar 20 miliar dolar AS bisa tak tercapai.

"Devisa pariwisata wisman per orang sekitar AS$1.220 atau kita bulatkan 1.000 dolar AS per orang. Jadi kira-kira kita kehilangan 2 miliar dolar AS," kata Arief di Kementerian Pariwisata, Jakarta, Senin (9/9/2019) seperti dikutip dari Republika.co.id.

Awalnya, Presiden Joko 'Jokowi' Widodo memasang target 20 juta kunjungan wisman pada 2019. Target ini kemudian diturunkan menjadi 18 juta kunjungan.

Tapi sepanjang Januari-Juli 2019, kunjungan wisatawan asing baru sekitar 9,31 juta orang. Jumlah ini hanya naik 2,63 persen dibanding periode sama tahun lalu. Padahal untuk mencapai target 18 juta kunjungan, dibutuhkan pertumbuhan 13,92 persen.

Rentan bencana alam

Letak Indonesia di pertemuan dua lempeng gunung api, membuat negeri ini rentan bencana alam. Sepanjang dua tahun ini, bencana datang berurutan. Mulai Gunung Agung pada September 2017, baru mulai pulih awal 2018. Belum lama pulih, pada Mei 2018 bom mengguncang Surabaya, disusul gempa di Rinjani dan Lombok pada Juli dan Agustus 2018.

Pada September 2018, Palu juga ikut diguncang gempa dan tsunami. Kemudian pada Oktober 2018, pesawat Lion Air jatuh membuat pariwisata kembali terdampak. Pada November 2018, polemik soal penutupan Taman Nasional Komodo ikut mempengaruhi sektor pariwisata. Lalu di penghujung 2018, tsunami menyapu Selat Sunda.

Rentetan bencana ini berdampak pada pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara yang dipatok 18 juta orang. "Diprediksi hanya tercapai 16 juta atau kehilangan 2 juta wisman,” kata Arief seperti dipetik dari Beritasatu.com.

Ketua Ikatan Cendekia Pariwisata Indonesia (ICPI) Azrill Azhari menilai, pemerintah harusnya tak menjadikan bencana sebagai alasan tak tercapainya target itu.

Menurut Azril, revisi ini menunjukkan pemerintah tak memperhitungkan bencana alam saat menetapkan target. Bencana alam sudah seharusnya diperhitungkan ketika menetapkan target secara ilmiah, bukan sekadar target yang ambisius setiap tahunnya. "(Bencana) itu berulang terjadi, seharusnya ikut dihitung,” katanya kepada Bisnis.com, Senin (9/9/2019).

Azril menjelaskan, berdasarkan riset lembaganya, sepanjang 2000-2014 kunjungan wisman ke Indonesia rerata tumbuh 8,99 persen per tahun. Riset tersebut, menurutnya telah mempertimbangkan terjadinya bencana alam.

Dia menilai target yang ditetapkan pemerintah terlalu ambisius dan sulit untuk dicapai. Misal, target 20 juta wisman jauh dibandingkan dengan realisasi tahun lalu sebesar 15,8 juta. Artinya, target pertumbuhannya 26 persen. "Sangat sulit tercapai, toh akhirnya target tersebut direvisi kembali kan oleh Kemenpar?” ujar Azril.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR