BENCANA ALAM

Bencana hidrometeorologi masih menghantui Indonesia

Tim SAR gabungan mengevakuasi warga korban terdampak banjir menggunakan perahu karet di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019). Ratusan warga terdampak banjir mengungsi ke tempat aman karena rumah mereka terendam banjir dengan ketinggian satu hingga dua meter.
Tim SAR gabungan mengevakuasi warga korban terdampak banjir menggunakan perahu karet di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (23/1/2019). Ratusan warga terdampak banjir mengungsi ke tempat aman karena rumah mereka terendam banjir dengan ketinggian satu hingga dua meter. | Abriawan Abhe /Antara Foto

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menerbitkan peringatan untuk mewaspadai terjadinya potensi bencana hidrometeorologi di seluruh wilayah Indonesia. Bencana hidrometeorologi adalah bencana alam yang terjadi sebagai dampak dari fenomena meteorologi seperti angin kencang hujan lebat, dan gelombang tinggi.

Dalam keterangan BMKG yang disiarkan Antaranews.com, Sabtu (2/3/2019), peringatan tersebut berlaku untuk periode 2 hingga 8 Maret 2019 lantaran potensi peningkatan curah hujan tinggi di wilayah Indonesia. Beberapa fenomena atmosfer yang terpantau muncul secara bersamaan menjadi penyebab potensi hujan tinggi.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, R Mulyono Rahadi Prabowo, kepada Republika.co.id mengungkapkan pihaknya mengidentifikasi aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) di Samudera Hindia. Ini adalah fenomena gelombang atmosfer yang bergerak merambat dari barat (Samudera Hindia) ke timur dan dapat meningkatkan potensi curah hujan di daerah yang dilaluinya.

"Aktivitas MJO ini diprakirakan akan bergerak melintas wilayah Indonesia yang dapat bertahan hingga satu pekan ke depan. Kondisi ini menyebabkan masuknya aliran massa udara basah dari Samudera Hindia ke wilayah Indonesia," jelas Mulyono, Sabtu (2/3).

Beberapa wilayah tersebut terutama di Indonesia bagian barat dan tengah. Potensi curah hujan tinggi akan terjadi di wilayah Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, hingga Sulawesi.

Selain MJO, sambung Mulyono, BMKG melalui analisis pola pergerakan angin mendeteksi adanya sirkulasi siklon di Samudera Hindia sebelah barat Sumatra. Akibatnya terbentuk daerah pertemuan angin cukup konsisten di wilayah Sumatra, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jawa.

"BMKG mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada pada periode awal Maret, khususnya dampak dari potensi curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin," imbuh Mulyono.

Kondisi ini menurut dia, dapat meningkat hingga pertengahan Maret 2019. Wilayah-wilayah yang berpotensi hujan lebat antara lain di wilayah Sumatra Barat, NTB, Jambi, NTT, Bengkulu, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Lampung, Kalimantan Selatan, Banten, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta - Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, D.I. Yogyakarta, Maluku, Jawa Timur, Papua Barat, Bali dan Papua.

"Serta potensi gelombang tinggi 2,5 hingga 4 meter diperkirakan terjadi di Perairan selatan Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Selat Bali bagian selatan, Samudera Hindia Barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung, Samudera Hindia selatan Pulau Jawa hingga Bali," ujarnya.

477 Kali bencana selama 2019

Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi bencana sebanyak 477 kali sepanjang 2019 berjalan hingga 7 Februari. Mayoritas adalah bencana hidrometeorologi.

"Lebih dari 98 persen bencana yang terjadi merupakan bencana hidrometeorologi," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (8/2), seperti dikutip Tribunnews.com.

Sutopo merinci jenis bencana tersebut adalah puting beliung, tanah longsor, banjir, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, letusan gunung api, dan gelombang pasang atau abrasi.

"Banjir yang terjadi di Sulawesi Selatan merupakan bencana yang banyak menimbulkan korban meninggal dan hilang," jelas Sutopo.

Tercatat 102 orang meninggal, 11 orang hilang, 164 orang luka-luka, dan 326.345 orang mengungsi akibat bencana yang terjadi.

Tak hanya itu, 6.290 unit rumah rusak (1.013 rusak berat, 723 rusak sedang, 4.554 rusak ringan), dan 144 fasilitas umum rusak.

Lebih lanjut dalam laporannya, BNPB mengungkapkan bahwa terjadi peningkatan kejadian bencana dari 320 kali bencana (data 7 Februari 2018) dibandingkan sekarang telah terjadi 477 kali kejadian bencana (7 Februari 2019).

Peningkatan juga terjadi dari sisi jumlah korban meninggal dunia dan hilang yakni dari 33 orang (7 Februari 2018) menjadi 113 orang (7 Februari 2019). Begitu juga pada korban luka-luka meningkat menjadi 164 orang dari 71 orang. Begitu juga yang mengungsi dari 242.715 orang naik menjadi 326.345 orang. Sementara rumah rusak alami penurunan dari 10.850 menjadi 6.290.

Sutopo juga mengungkapkan, ada sekitar 40,90 juta jiwa yang tinggal di daerah berpotensi longsor sedang hingga tinggi. "... (Jumlah) 40,90 jiwa itu diambil berdasarkan sensus penduduk 2010," kata Sutopo, Rabu (2/1), seperti dinukil dari CNN Indonesia.

Puluhan juta penduduk itu, sebut Sutopo, tersebar di 274 kabupaten atau kota. Daerah rawan longsor itu tersebar di sepanjang Bukit Barisan di Sumatra, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Daerah-daerah yang berpotensi longsor tambah Sutopo, mestinya tidak boleh untuk permukiman. Daerah permukiman seharusnya ditempatkan di wilayah yang lebih aman dan harus berdasarkan pertimbangan analisis risiko bencana dan tata ruang yang detail.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR