LION AIR JT610

Bencana informasi yang mengitari jatuhnya Lion Air

Petugas mengidentifikasi barang milik korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di Posko Evakuasi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (31/10/2018). Kecelakaan ini diikuti oleh para penebar hoaks dengan menyebarkan foto atau video palsu.
Petugas mengidentifikasi barang milik korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 di Posko Evakuasi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (31/10/2018). Kecelakaan ini diikuti oleh para penebar hoaks dengan menyebarkan foto atau video palsu. | Muhammad Adimaja /Antara Foto

Tampaknya menjadi kaidah umum di Indonesia, selepas ada musibah atau bencana alam, lalu disusul bencana informasi. Dalam kasus bencana alam di Sulawesi Tengah akhir bulan lalu, polisi setidaknya menangkap sembilan penyebar hoaks.

Tampaknya hal ini tak membuat jera penyebar hoaks lainnya. Hoaks dan kabar-kabar bohong terkait jatuhnya pesawat Lion Air JT610, Senin (29/10/2018) mulai bertebaran.

Dalam unggahan akun Twitter Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia Sutopo Purwo Nugroho, dan temuan Kementerian Komunikasi dan Informatika setidaknya sudah ada lima hoaks yang mengaburkan kecelakaan pesawat itu.

Pertama, video kepanikan penumpang dalam sebuah pesawat. Dari hoaks yang disebar, video itu diklaim sebagai rekaman di dalam pesawat Lion Air JT610. Sutopo menjelaskan, video itu adalah kepanikan penumpang pesawat Lion Air JT 353 Padang-Jakarta yang turbulensi dan semua penumpang selamat beberapa waktu yang lalu.

Kedua, foto penumpang bermasker yang disebut kondisi di dalam pesawat Lion Air sebelum jatuh. Ternyata, foto itu adalah kondisi penumpang pesawat Sriwijaya saat turbulensi beberapa waktu lalu. Semua penumpang dan pesawat itu selamat.

Ketiga, foto pesawat Lion Air yang terbelah disebar sebagai pesawat yang jatuh di Tanjung Karawang Senin kemarin. Ternyata, foto yang digunakan dalam unggahan tersebut adalah pesawat Lion Air JT-904 dalam penerbangan Banjarmasin-Bandung-Denpasar yang terbelah di laut Bali pada tanggal 13 April 2013.

Keempat, video yang disebar sebagai kesaksian nelayan melihat jatuhnya pesawat Lion Air JT610. Ternyata, video tersebut adalah peristiwa jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines Flight 961 di Samudera Hindia pada 23 November 1996.

Kelima, foto bayi yang diklaim sebagai penumpang Lion Air JT610 yang selamat. Ternyata, foto itu adalah bayi korban tenggelamnya kapal KM Lestari Maju, di Perairan Selayar, pada Selasa (3/7/2018).

Menurut Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho, penyebaran hoaks atau informasi palsu terkait bencana alam ternyata tidak selamanya mempunyai niat negatif. Mereka sebenarnya memiliki niat baik.

"Dalam konteks memperingatkan orang lain ketika mereka menemukan informasi. Tapi kadang-kadang tidak disertai dengan kehati-hatian, sampai akhirnya malah membuat panik sampai kegaduhan," kata Septiaji kepada VIVA, Selasa (30/10/2018).

Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo mengutip UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) menyatakan, pembuat maupun penyebar hoaks bisa dijerat hukuman pidana.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono menyebut polisi akan mengusut pembuat dan penyebar hoaks. Mereka bisa dikenakan hukuman pidana. "Kepada pihak-pihak yang memiliki informasi hoaks, tidak dibenarkan dan bisa dikenakan undang-undang pidana,” kata Argo di kantornya, Selasa (30/10/2018) seperti dinukil dari Tempo.co.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR