BENCANA ALAM

Bencana naik 7,2 persen, korban jiwa melonjak 192 persen

Sejumlah warga melintas saat banjir merendam kompleks Pasar Youtefa, Abepura, Jayapura, Papua, Rabu (23/2/2019).
Sejumlah warga melintas saat banjir merendam kompleks Pasar Youtefa, Abepura, Jayapura, Papua, Rabu (23/2/2019). | Gusti Tanati /ANTARA FOTO

Kejadian bencana di Indonesia periode Januari hingga April 2019 meningkat 7,2 persen. Sedangkan jumlah korban jiwa melonjak sampai 192 persen. Mitigasi bencana kian mendesak.

"Pada empat bulan pertama 2018 terjadi 1.480 bencana, sedangkan empat bulan pertama 2019 terjadi 1.586 bencana," tulis Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam pernyataan resmi.

Menurut sebaran kejadian bencana per provinsi, bencana paling banyak terjadi di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Aceh. Sedangkan sebaran bencana per kabupaten/kota paling banyak terjadi di Sukabumi (50), Semarang (43), Bogor (42), Majalengka (38) dan Temanggung (37).

Soal korban jiwa, lonjakannya hampir dua kali lipat lebih besar. Pada kuartal pertama 2018, korban meninggal dan hilang karena bencana sebanyak 150 orang. Pada periode yang sama 2019, ada 438 orang tewas maupun hilang.

BNPB mencatat, korban luka-luka juga melonjak hingga 212 persen. Jika pada empat bulan pertama 2018 hanya ada 461 orang, pada kuartal pertama 2019 jumlahnya mencapai 1.439 orang.

Sutopo menerangkan, peningkatan bencana disebabkan oleh faktor alam, maupun faktor aktivitas manusia.

Menurut Ketua Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia Mahawan Karuniasa, Mahawan Karuniasa penambahan suhu 1 derajat Celsius juga punya peran dalam hal ini. "Jadi sejak tahun 2002 sampai tahun 2016, bencana Hidrometeorologi di Indonesia melonjak tajam seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor," ujar Mahawan.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkap, bencana hidrometeorologi termasuk banjir dan tanah longsor memang tidak menelan korban jiwa sebanyak gempa, tsunami, dan gunung meletus. Pun demikian kerugiannya lebih besar.

Dari 1.586 bencana, tiga menelan korban jiwa dan kerugian yang paling besar adalah kejadian banjir dan longsor di Sulawesi Selatan pada (22/1) Rp926 miliar, Sentani, Papua (16/3) Rp 668 miliar, dan Bengkulu (27/3) data sementara Rp200 miliar.

"Statistik ini bukan hanya memuat angka-angka, tetapi memiliki makna bahwa ancaman bencana terus meningkat. Peningkatan bencana pada 2019 disebabkan curah hujan tinggi yang memicu banjir dan longsor," ungkap Sutopo.

Faktanya, masyarakat belum siap menghadapi bencana besar. Jelas bahwa mitigasi bencana adalah hal krusial yang harus segera terwujud agar dampak bencana bisa diminimalkan.

Mitigasi struktrural maupun nonstruktural belum jadi prioritas pembangunan di daerah. "Upaya penanganan bencana masih banyak menitikberatkan pada darurat bencana. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan masih perlu ditingkatkan," lanjut Sutopo.

Sudah selayaknya, pengurangan risiko bencana dan mitigasi bencana terintegrasi dalam pembangunan. Bagaimanapun, mitigasi bencana adalah investasi demi rakyat.

Salah satu upaya mitigasi bencana yang sudah dilakukan, menurut Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo, adalah penanaman seribu pohon di kawasan sekitar pantai Mentawai dan Sumatra Barat. Fungsinya meredam terjangan gelombang tsunami ke pemukiman warga.

"Dari hasil riset yang dilakukan, Vegetasi dengan jenis pohon tertentu bisa meredam 80 persen tsunami dengan kecepatan 700 km per jam. Kita bisa menyelamatkan umat manusia untuk jangka waktu yang panjang," urai Doni.

Mantan Danjen Kopasus ini menjelaskan, idealnya pohon setinggi 20 meter yang bisa membantu meredam tsunami dengan kecepatan mencapai 700 kilometer per jam. “Kalau pohon masih setinggi lima meter ya belum efektif. Gerakan penanaman pohon ini harus masif,” tegasnya.

Doni mengimbau agar masyarakat memperhatikan fungsi ekologis alam, tak sekadar menikmati manfaat ekonominya. "Jangan ganggu keseimbangan alam, jangan tebang pohon, jaga kelestarian alam, maka alam juga akan menjaga kita semuanya," pungkas Doni.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR