Benda sakral di Pura Besakih takkan dievakuasi

Kondisi Gunung Agung dari areal parkir no 2 di Pura Besakih, Bali, Jumat (29/9/2017).
Kondisi Gunung Agung dari areal parkir no 2 di Pura Besakih, Bali, Jumat (29/9/2017). | Gede Gandhi /Beritagar.id

Di tengah perkembangan situasi Gunung Agung, Bali, sempat tersiar imbauan di media sosial agar Pratima (arca suci pemeluk agama Hindu) dan benda sakral lainnya di kompleks Pura Besakih segera diselamatkan dengan dipindahkan ke tempat lain. Apalagi jarak pura tersebut dengan Gunung Agung hanya 9 kilometer.

Mengutip Liputan6, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika juga berpendapat semua benda sakral di pura sebaiknya diamankan. Apalagi, status Gunung Agung sudah mencapai Level IV, atau awas.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, pada 25 September juga telah mengedarkan surat yang berisi imbauan agar para pemangku adat yang berada di kawasan bencana segera menyelamatkan benda-benda penting yang terkait adat Bali.

Namun Kelian Adat (kepala adat) Desa Besakih, Jro Mangku Widiartha, menyatakan mereka telah memutuskan untuk tidak mengevakuasi segala benda suci di kawasan Pura Besakih.

Saat ditemui Beritagar.id di dekat Pos Pantau Vulkanologi Karangasem, Jumat (29/9), Widiartha menegaskan Pratima dan benda sakral lainnya akan tetap berada di areal Pura Besakih, meskipun nanti terjadi erupsi.

Keputusan tersebut ditetapkan pada rapat koordinasi antara para pemangku atau pendeta Hindu di Pura Besakih dengan Pemerintah Kabupaten Karangasem yang dipimpin Wakil Bupati Karangasem, I Wayan Artha Dipa, untuk menyelamatkan benda-benda sakral agar tidak hilang dan rusak akibat bencana.

"Rapat itu dilakukan pada 24 September 2017 bertempat di kantor perbekel (pemimpin desa)," tuturnya.

Ketika ditanya perihal beredarnya imbauan untuk mengevakusiPratima dan benda sakral lainnya yang terdapat di area pura terbesar di Bali tersebut, pria berusia 47 tahun itu sekali lagi menegaskan tidak ada rencana untuk memindahkan mereka ke luar area pura.

Sejak letusan pertama Gunung Agung pada 1808 hingga terakhir pada tahun 1963, menurut Widiartha, baik Pratima maupun benda sakral lainnya tidak dievakuasi ke luar dari kawasan pura. "Menurut tetua dan cerita yang ada, Pratima atau benda sakral lainnya tetap berada di tempatnya masing-masing di areal Pura Besakih," tegasnya.

Kelian Adat (kepala adat) Desa Besakih, Jro Mangku Widiartha.
Kelian Adat (kepala adat) Desa Besakih, Jro Mangku Widiartha. | Gede Gandhi /Beritagar.id

Widiartha juga menambahkan, dari cerita yang turun-temurun yang didapat serta beberapa saksi mata yang mengalami saat kejadian pada 1963, Pura Besakih--yang dikenal sebagai Ibu dari segala Pura--masih cukup aman dari panasnya lahar, pun hujan abu atau sejenisnya.

"Astungkara, menurut kesaksian dari tetua kita yang mengalami kejadian tersebut, Besakih terhindar dari hasil letusan Gunung Agung, hanya saja retakan dan patahan yang ada itu diakibatkan oleh Gempa," paparnya.

Ketika ditanya soal tanda-tanda kapan Gunung Agung akan meletus, Jro Mangku Widiartha menjelaskan, biasanya tanda-tanda tersebut akan terlihat dari banyaknya binatang yang ada di tengah hutan Gunung Agung turun ke daratan, sumber air akan mulai mengering, dedaunan akan mengering, dan gempa bumi.

"Sementara ini yang paling nyata terasa sih linuh (gempa). Sangat terasa setiap hari. Namun jika isu yang beredar tentang hewan yang mulai banyak turun, saya tidak berkomentar banyak, karena saya sendiri belum pernah menemui secara langsung," ujarnya.

Namun, pihaknya juga mengimbau kepada semua masyarakat untuk tetap tenang dan tidak termakan oleh berita palsu yang beredar. Widiartha juga mempercayakan sepenuhnya kepada pihak terkait perihal aktivitas Gunung Agung.

Ditanya terkait jumlah Pratima yang ada di Pura Besakih, Widiartha terdengar enggan menjawab. "Di sini terdapat 25 Pura berbeda ... dan kalau masalah berapa jumlah Pratima, saya tidak berani berkomentar banyak", ucapnya.

Beritagar.id juga sempat berbincang dengan seorang kakek yang mengaku menyaksikan letusan Gunung Agung pada 1963. Pria bernama Nengah itu menyatakan telah berusia 18 tahun ketika letusan itu terjadi.

"Pada tahun itu (1963, red.) tidak banyak terlihat ciri-ciri akan meletusnya Gunung Agung," kenang Nengah. "Saya menjadi relawan dan di Pura Besakih juga ada upacara besar, (tetapi, red.) tidak banyak ciri-ciri yang terlihat."

Ia melanjutkan, saat itu Pura Besakih sama sekali terhindar dari lahar maupun material vulkanik lainnya yang keluar saat letusan terjadi.

"Pratima dan benda sakral lainnya aman, masih ada di areal pura. Pura Besakih terhindar karena material yang keluar dari perut bumi lebih banyak ke bagian Utara hingga ke Singaraja," tuturnya.

Warga lain yang mengalami letusan tahun 1963 bercerita bahwa hujan abu sempat terjadi selama sekitar satu tahun.

"Ya tidak sepanjang hari. Setidaknya sehari sekali kita merasakan hujan abu tersebut," ungkap Made Arjaya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR