PEMILU 2019

Berebut ceruk suara santri untuk pemilu

Sejumlah santri berjalan di depan rumah susun khusus santri Pondok Pesantren Al-Islam Babussalam, Kalibening, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, Senin (18/3/2019).
Sejumlah santri berjalan di depan rumah susun khusus santri Pondok Pesantren Al-Islam Babussalam, Kalibening, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, Senin (18/3/2019). | Syaiful Arif /Antara Foto

Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 pada 17 April nanti menggelar serentak Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg). Untuk meraih kemenangan dalam pesta demokrasi ini, para politisi berusaha mendongkrak elektabilitas dengan berebut suara pemilih muda dan ceruk suara santri.

Suara kalangan santri kerap diperebutkan lantaran dianggap aset penting yang tak bisa diabaikan untuk memenangi Pemilu. Bahkan demi merebut hati "kaum sarungan" itu para politisi harus rela bertandang ke pondok-pondok pesantren pemilik ribuan santri.

Seperti dilakukan para calon presiden dan wakil presiden yang bersafari sejak jauh-jauh hari sebelum masa kampanye. Capres no urut 01, Joko "Jokowi" Widodo misalnya, sejak 8 Oktober 2018 telah mengunjungi Pondok Pesantren Mawaridussalam di Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara.

Begitu juga dengan Cawapresnya Ma'ruf Amin, sejak 27 September 2018 telah berkunjung ke Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah Putra, Talangsari, Jember, Jawa Timur.

Aksi serupa dilakukan juga Capres no urut 02, Prabowo Subianto, sejak 29 September 2018 mengunjungi Pondok Pesantren Al Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah. Begitu juga dengan Cawapresnya Sandiaga Uno, sejak 30 September 2018 mengunjungi Pondok Pesantren Al-Amin, Sumenep, Madura.

Para Capres dan Cawapres berkunjung ke sejumlah pondok pesantren dengan kemasan acara silaturahmi lantaran Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu melarang menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat pendidikan untuk berkampanye. Namun, tentunya kunjungan mereka bukan silaturahmi biasa.

Merujuk data Education Management Information System Kementerian Agama yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, pondok pesantren ini terdiri dari pondok pesantren mengaji dan modern. Di Indonesia jumlah keduanya mencapai 28.961 pondok pesantren.

Pondok pesantren terbanyak di provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur masing-masing 9.167 dan 6.044. Sementara, yang paling sedikit ada di Kalimantan Utara, Maluku, dan Maluku Utara sebanyak 14 pondok pesantren.

Pakar budaya politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sukron Kamil, disiarkan Republika.co.id menjelaskan, pesantren menjadi daya tarik dalam rangkaian momen Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 bukan lantaran jumlah santri yang banyak atau nama besarnya. Melainkan karena kuatnya pengaruh kiai pesantren di tengah masyarakat.

"Kiai cukup menjadi lokomotif untuk membawa suara-suara massa. Jadi pesantren itu tidak dilihat dari suara santri yang ada di dalam, tapi pengaruh sosialnya," jelas Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta itu.

Santri tergantung kiai

Dari perspektif politik, umat Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia jelas tak bisa diabaikan untuk memenangi Pemilu. Itu sebabnya pesantren yang dipimpin kiai dengan para santrinya menjadi bidikan utama basis Muslim.

Saat ini bandul perpolitikan mulai menyentuh santri dan pesantren secara aktif. Pengamat politik dari Universitas Padjajaran Idil Akbar menilai pengaruh kiai bisa berdampak pada pilihan santri.

Dia menandaskan budaya hubungan antara santri dan kiai bersifat sami'na wa atho'na. "Kalau kiainya sudah menentukan pilihan bisa dipastikan santri juga akan ikut. Makanya itu sangat besar [pengaruh kiainya]," ujar Idil kepada CNNIndonesia.com.

Lalu, seberapa banyak santri di Indonesia hingga menjadi bahan rebutan? Data Education Management Information System Kementerian Agama yang diolah tim Lokadata Beritagar.id, jumlah santri di Indonesia menurut pendataan tahun 2014/2015 mencapai 4.028.660 santri. Jumlah ini tidak termasuk keluarga besar para santri.

Santri ini tersebar di berbagai Provinsi di Indonesia, terbanyak di Jawa Timur, sebanyak 1.036.747 santri, disusul oleh Jawa Barat sebanyak 991.279 santri, dan Jawa Tengah sebanyak 582.525 santri. Sementara, provinsi dengan jumlah santri paling sedikit adalah Kalimantan Utara, 1.905 santri.

Santri, pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, didefiniskan sebagai orang yang mendalami agama Islam, atau orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh atau orang yang saleh.

Sementara ulama terkenal KH. Mustofa Bisri memiliki definisi khusus tentang santri. Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menjelaskan, santri adalah murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat (yang tidak goyah imannya oleh pergaulan, kepentingan, dan adanya perbedaan).

Selain itu, santri menurut Gus Mus adalah kelompok yang mencintai negaranya, mencintai tanah airnya (tempat dia dilahirkan, menghirup udaranya, dan bersujud di atasnya), sekaligus menghormati guru dan orangtuanya kendati keduanya telah tiada.

Seorang santri, tambah Gus Mus, adalah kelompok orang yang memiliki kasih sayang pada sesama manusia dan pandai bersyukur. "Yang menyayangi sesama hamba Allah; yang mencintai ilmu dan tidak pernah berhenti belajar (minal mahdi ilãl lahdi); Yang menganggap agama sebagai anugerah dan sebagai wasilah mendapat ridha Tuhannya. Santri ialah hamba yang bersyukur," bebernya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR