Berita menarik pekan ini, dari Tito hingga Rizieq

Kolase berita pekan kedua Juni 2017.
Kolase berita pekan kedua Juni 2017. | Istimewa

Pekan ini (3-9 Juni 2017) masih diwarnai kabar perihal kasus persekusi The Ahok Effect. Terutama berkenaan keputusan Kepala Polri, Tito Karnavian, memutasi pejabat kepolisian yang tak tegas menangani kasus persekusi.

Kabar pilu tentang aksi terorisme di beberapa negara--mulai dari Inggris hingga Iran--juga jadi fokus media sepekan terakhir.

Dari mancanegara, ada pula kabar soal kemunculan Omran Daqneesh, bocah Suriah yang foto dan videonya sempat viral pada medio 2016.

Berikut kami pilihkan lima kabar populer nan penting selama sepekan terakhir.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) menyerahkan cendera mata kepada KH Mustafa Bisri (kanan) saat bersilaturahmi dalam rangka Safari Ramadan di Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin di Desa Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (6/6).
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (tengah) menyerahkan cendera mata kepada KH Mustafa Bisri (kanan) saat bersilaturahmi dalam rangka Safari Ramadan di Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin di Desa Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (6/6). | Yusuf Nugroho /Antara Foto

Tito melawan persekusi

Kepala Polri, Tito Karnavian, mencopot Kepala Kepolisian Resor Solok Kota AKBP, Susmelawati Rosya dari jabatannya. Pencopotan itu merupakan konsekuensi atas penanganan kasus persekusi yang menimpa Dokter Fiera Lovita di Solok, Sumatera Barat.

Keputusan itu turut jadi sinyal keseriusan kepolisian menangani maraknya kasus persekusi. "Sudah saya sampaikan, kalau nanti menurut penilaian saya Kapolres di Solok (Kota) lemah, takut, ya saya ganti. Ganti dengan yang berani dan tegas," kata Tito, dilansir Kompas.com.

Tito juga berjanji, pihaknya akan memperketat pengawasan melalui tim siber. Pun, sudah ada perintah untuk membuka saluran laporan bagi warga yang merasa terancam.

Editorial Beritagar.id (5/6) mengapresiasi sikap Tito atas rentetan kasus persekusi--kerap disebut The Ahok Effect.

"Langkah polisi yang cepat dalam menangani persekusi patut diapresiasi. Begitu juga kebijakan Kapolri untuk menempatkan personil yang tangguh dan tegas di lapangan adalah langkah yang tepat dalam situasi ini."

Informasi ihwal perburuan orang di media sosial--yang merembet hingga ranah luring--terangkum pula lewat infografik, "Persekusi: polisi salah, pelaku bukan FPI?".

Aparat keamanan berjaga di depan Gedung Parlemen Iran, Teheran, setelah terjadi aksi teror di dalam gedung itu pada Rabu (07/06/2017).
Aparat keamanan berjaga di depan Gedung Parlemen Iran, Teheran, setelah terjadi aksi teror di dalam gedung itu pada Rabu (07/06/2017). | Omid Vahabzadeh /AP Photo

Teror guncang London hingga Teheran

Serangan terorisme mengguncang ibu kota Inggris, London, Sabtu (3/6), di Jembatan London dan Pasar Borough. Serangan di Jembatan London terjadi lewat serudukan mobil yang menyasar para pejalan kaki. Tatkala mobil rusak, tiga pelaku lari ke Pasar Borough dan mulai menusuk orang-orang dengan pisau.

Delapan orang tewas dan 48 lainnya cedera dalam aksi biadab ini. Serangan terhenti setelah polisi menembak mati tiga pelaku. Kelompok teroris global, ISIS mengklaim bertanggung jawab atas teror.

Bagi Inggris ini merupakan serangan teroris ketiga sepanjang tahun 2017. Sebelumnya, ada teror serudukan mobil di Jembatan Westminster (22 Maret), dan aksi bom bunuh diri di Manchester Arena (22 Mei).

Tak sampai sepekan, dunia kembali terguncang karena teror. Kali ini, serangan terjadi di Teheran, Iran, Rabu (7/6). Persisnya di Gedung Parlemen Iran dan Makam Ayatullah Khomeini. Dalam aksi itu, 17 orang meninggal dunia dan 43 lainnya terluka.

Serangan dilakukan tujuh orang yang disebut sebagai kombatan ISIS. Sejumlah analis menyebut serangan ini sebagai imbas keberpihakan Iran dalam Perang Suriah. Dalam perang itu, Iran merupakan sekutu Presiden Suriah, Bashar al-Assad, yang memerangi ISIS.

Omran Daqneesh dan ayahnya, Mohammed Daqneesh, dalam wawancara bersama Kinana Alloush, jurnalis pro-pemerintah Suriah.
Omran Daqneesh dan ayahnya, Mohammed Daqneesh, dalam wawancara bersama Kinana Alloush, jurnalis pro-pemerintah Suriah. | Kinana Allouche /Facebook.com

Kemunculan kembali Omran Daqneesh

Agustus 2016, foto dan video Omran Daqneesh menjadi viral. Dalam video itu, Omran terlihat penuh darah dan debu, usai diselamatkan dari reruntuhan rumahnya--yang kena bom--di Aleppo, Suriah.

Citra Omran mengundang simpati sekaligus dianggap sebagai simbol penderitaan akibat perang.

Setelah tak ada kabar selama sembilan bulan, Omran akhirnya "keluar dari persembunyian" pada pekan lalu. Balita itu muncul bersama ayahnya, Mohamad Kheir Daqneesh, dalam wawancara bersama media pro-pemerintah Suriah.

Kali ini, Omran tampak lebih bersih dan rapi. Pun, ayahnya terkesan pro-pemerintah Suriah, dengan mengkritik viral-nya foto dan video sang anak.

Mohamad menuding media oposisi telah memanfaatkan anaknya sebagai "alat propaganda". "Mereka ingin berdagang dengan darah dan menerbitkan fotonya," katanya.

Terpidana kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok melambaikan tangan saat tiba di rumah tahanan LP Cipinang, Jakarta, Selasa (9/5).
Terpidana kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok melambaikan tangan saat tiba di rumah tahanan LP Cipinang, Jakarta, Selasa (9/5). | Ubaidillah /Antara Foto

Jaksa cabut banding kasus Ahok

Kejaksaan Negeri Jakarta Utara resmi mencabut banding atas vonis dua tahun terhadap Basuki Tjahaja 'Ahok' Purnama, dalam kasus penodaan agama, Kamis (8/6).

Jaksa Agung M Prasetyo, sudah mengisyaratkan akan mencabut banding, Rabu (7/6). "Toh, Ahok sudah menerima putusan," ujar Prasetyo, dikutip detikcom. "Banyak juga yang lebih penting. Kita jangan terpaku pada satu kasus," ujarnya.

Dengan pencabutan banding dari jaksa, maka kasus ini dinyatakan berkekuatan hukum tetap atau inkracht. Artinya, Ahok sudah jadi terpidana.

Dua pekan sebelumnya (23/5), Ahok mencabut memori banding. Ia mengaku tak ingin menimbulkan kerugian bagi warga Jakarta, bila terus terjadi aksi demonstrasi dari para relawan yang menginginkan pembebasannya.

Rizieq Shihab saat dimintai keterangan oleh Bareskrim Polri sebagai saksi dalam kasus penodaan agama yang menyandung Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama (3 November 2016).
Rizieq Shihab saat dimintai keterangan oleh Bareskrim Polri sebagai saksi dalam kasus penodaan agama yang menyandung Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama (3 November 2016). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Perkara Rizieq di Pulau Dewata

Pentolan Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab, masih berstatus buron dalam kasus percakapan WhatsApp bernuansa pornografi yang ditangani Polda Metro Jaya. Konon, Rizieq masih berada di Arab Saudi, dan belum menunjukkan gelagat hendak kembali.

Belum usai kasus di muka, Rizieq sudah dinanti perkara baru dari Pulau Dewata. Kamis (8/6), Ketua Patriot Garuda Nusantara, Pariyadi, melaporkan Rizieq ke Polda Bali. Rizieq dianggap telah melakukan ujaran kebencian dan melanggar Pasal 156a KUHP--menyebar permusuhan berbasis agama.

Kuasa hukum Pariyadi, Teddy Raharjo, menyebut laporan ini berpangkal pada ceramah bermuatan provokatif yang disampaikan Rizieq pada 17 Agustus 2014.

"Dia (Rizieq) menegaskan akan mendatangkan umat Islam ke Bali untuk menyerbu dan membakar kuil-kuil di seluruh Bali. Ucapan ini sangat meresahkan dan orang Bali merasa terancam dengan ucapan itu," kata Teddy, dikutip Liputan6.com.

Adapun video ceramah termaksud sudah menyebar nyaris tiga tahun terakhir. Di YouTube, ceramah tersebut bisa ditemukan lewat video bertajuk "Sikap Imam Besar FPI Al-Habib Rizieq Shihab tentang ISIS"--berdurasi sekitar 26 menit.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR