BISNIS DARING

Bermula call center, Gojek jadi platform teknologi terdepan

Iklan Gojek terpampang di stasiun komuter di Singapura, Senin (4/3/2019).
Iklan Gojek terpampang di stasiun komuter di Singapura, Senin (4/3/2019). | Edgar Su /Antara Foto/Reuters

Sebagai layanan daring, Gojek mengklaim sebagai platform teknologi terdepan di Asia Tenggara yang menghubungkan jutaan rakyat Indonesia dengan dua juta mitra pengemudi, 400 ribu merchants, dan 60 ribu mitra talent --pemijat dari layanan go-massage atau montir untuk layanan go-auto.

Pendiri dan CEO Gojek, Nadiem Makarim, mengaku tak pernah menyangka Gojek bisa menjadi satu di antara akselerator utama teknologi di Indonesia. "Saya tak pernah menduga Gojek bisa seperti sekarang," katanya saat meluncurkan logo baru Gojek di Jakarta, Senin (22/7/2019).

Nadiem pun menceritakan bagaimana Gojek bermula. Memulai pada 2011, Nadiem mendirikan Gojek sebagai perusahaan perintis (startup) tanpa dana besar dan teknologi, serta hanya menempati kantor di ruangan seluas 5x7 meter persegi di Jakarta.

Saat itu dengan nama layanan Gobiz, Gojek hanya menjadi call center untuk konsumen yang membutuhkan ojek. Petugas customer service Gojek kemudian akan mencari tukang ojek yang bisa menjemput konsumen tersebut.

Itu terjadi selama empat tahun karena tak ada yang mau mendanai. Setelah investasi masuk, Gojek meluncurkan aplikasi resmi yang saat ini digunakan jutaan konsumen.

Dalam aplikasi ada layanan Goride (ojek), Goshop (belanja), dan Gosend (kurir). Namun, tiba-tiba Goshop kebanjiran pesanan makanan.

Gojek langsung meluncurkan Gofood. "Dan dalam enam jam, Gofood menjadi food delivery nomor satu di Indonesia sejak diluncurkan," ujar Nadiem.

Berikutnya pada 2016 dan 2017, Gojek kembali mendapat fakta bahwa konsumen juga membutuhkan transportasi mobil serta kesulitan mendapatkan uang kembalian. Itu sebabnya Nadiem dkk. meluncurkan Gocar dan Gopay.

"Dalam satu tahun, Gopay menjadi dompet digital terbesar di Indonesia," sambungnya.

Kini, Gojek sudah memiliki lebih dari 20 layanan yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari. Selain yang disebut di atas; antara lain ada Goglam (salon kecantikan), Gopulsa, Gobills (pembayaran tagihan), Golaundry, dan Godaily (bekerja sama dengan minimart).

"Gojek adalah gerakan, sebuah revolusi perusahaan teknologi dan kemanusiaan. Tapi kesuksesan ini bukan cuma karena peran tim Gojek, melainkan juga lantaran mitra yang semangat berpartisipasi dalam ekosistem kami dan konsumen yang 'berlomba' menjadi pengguna setia," tutur Nadiem.

Ekspansi setelah berstatus Decacorn

Kebesaran Gojek pun meluas ke Asia Tenggara. Dalam setahun terakhir, mereka ekspansi ke Vietnam (GoViet), Thailand (GET), serta Singapura (Gocar) dan Filipina (Gopay) yang juga akan ditambah layanan lainnya dalam waktu dekat.

Nadiem menyebutkan Gojek sudah menjadi kebanggaan Indonesia karena jarang sekali ada jenama negeri ini yang mampu bersaing di negara lain. "Dan Gojek membawa kekhasan Indonesia, yaitu ojek," katanya.

Ekspansi Gojek dilakukan setelah dana investasi masuk dengan deras sehingga mengubah statusnya menjadi Unicorn dan kini Decacorn. Artinya, Gojek telah memiliki valuasi senilai $10 miliar AS.

Dalam kesempatan yang sama, Andre Soelistyo--Presiden Grup Gojek--menyatakan, perusahaannya didukung pendanaan series F dari berbagai perusahaan internasional. Ada pula dukungan teknologi dari Google.

Sejumlah investor yang berada di balik Gojek.
Sejumlah investor yang berada di balik Gojek. | Gojek

"Gojek hari ini menjadi pemain aplikasi on demand terbesar di Indonesia. Komitmen kami akan terus berkembang seiring pertumbuhan jumlah pengguna," kata Andre.

Ekspansi pun bukan hanya pasar. Seperti dijelaskan Kevin Aluwi, Co-Founder Gojek, mereka bergerak cepat hingga memiliki tiga aplikasi super.

Pergerakan juga dipengaruhi oleh bisnis Gojek yang berkembang 12 kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Mereka juga menggunakan teknologi terkini seperti machine learning dan kecerdasan artifisial (artificial inteligent).

Adapun tiga aplikasi super itu; pertama adalah yang saat ini digunakan oleh para konsumen di ponsel masing-masing. Kedua adalah aplikasi untuk para mitra.

Khusus aplikasi untuk para mitra pun berevolusi. Pada 2015, aplikasi tersebut hanya bisa untuk menerima pesanan (order) berbagai layanan. Namun saat ini, aplikasi itu juga bisa untuk melakukan top up dompet digital atau bantuan dana.

"Misalnya mitra pengendara kami butuh uang, mereka bisa menggunakan aplikasi itu. Jadi kami ingin memaksimalkan produktivitas dan pendapatan mitra para pengemudi kami yang pada akhirnya akan meningkatkan pelayanan lebih untuk konsumen," tukas Kevin.

Sedangkan aplikasi super ketiga adalah yang terbaru, yakni untuk para merchants --pemilik toko atau jasa. Kehadiran aplikasi super ketiga ini juga lantaran ekosistem Gojek terdiri dari tiga; merchant, mitra pengemudi, dan konsumen.

Ratusan ribu merchants yang awalnya bergabung lewat Gofood dan Gopay, kini memiliki aplikasi super bernama Gobiz. Aplikasi ini menyasar para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan bisnis kecil.

"Kami luncurkan Gobiz agar pendapatan merchants meningkat. Mereka bisa sunting sendiri menunya atau bikin diskon di aplikasi Gobiz itu. Inilah misi kami agar mechants bisa mengekspansi bisnisnya," pungkas Kevin.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR