PERBANKAN

BI Rate sudah turun, bunga cicilan KPR masih tinggi

Foto udara perumahan di Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/6/2019).
Foto udara perumahan di Cinunuk, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/6/2019). | Raisan Al Farisi /Antara Foto

Bank Indonesia sudah memangkas bunga acuan hingga 0,25 persen hingga Agustus tahun ini menjadi 5,5 persen. Penurunan ini merupakan yang kedua kali sejak Juli lalu. Namun penurunan ini belum secara praktis diikuti penyesuaian bunga bank nasional seperti kredit termasuk kredit pemilikan rumah (KPR).

Sejumlah nasabah KPR di beberapa bank justru mengeluhkan hal sebaliknya. Pada saat bunga acuan turun, bunga KPR mereka malah naik dan berimbas pada bertambahnya tagihan setiap bulan.

Bunga acuan sebenarnya menjadi patokan suku bunga KPR untuk floating atau mengambang. Jadi, jika bunga acuan naik maka bunga floating juga ikut naik dan bunga acuan turun seharusnya bunga floating pun mengikuti.

Salah satu nasabah KPR BNI Griya yang namanya tak ingin disebutkan mengaku bingung dengan informasi kenaikan bunga KPR dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

"Iya bunga saya naik jadi 14 persen dari sebelumnya 13,5 persen. Sudah dari Agustus ini berlaku, tapi belum lihat juga tagihannya berapa," kata dia saat berbincang dengan Beritagar.id, Jumat (23/8/2019).

Dia menyebut saat ini tagihan KPR yang harus ia bayar setiap bulan mencapai Rp 3,4 jutaan. Tagihan itu menggunakan sistem autodebet, atau penarikan langsung secara otomatis dari rekening pribadinya setiap bulan.

"Jadi nggak mungkin saya telat bayar. Kayaknya paling enak mereka naikin bunga sama yang bayarnya lancar," ujarnya.

Nasabah ini mendapatkan dua kali informasi pengumuman melalui pesan singkat ke ponselnya. Berikut kutipan pengumuman yang ia dapatkan.

Nasabah Yth, terhitung Juli 2019, suku bunga BNI Griya Anda disesuaikan menjadi 14 persen pa efektif. Info lbh lanjut hub BNI Call 1500046.

Nasabah Yth, penyesuaian suku bunga BNI Griya baru akan diberlakukan pada akhir bulan Agustus 2019. Info lebih lanjut hubungi BNI Call 1500046.

Sementara lainnya, salah seorang debitur KPR PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Agung, mengaku juga mendapatkan informasi kenaikan suku bunga KPR sebesar 25 basis poin. Agung mendapat surat dari bank terkait informasi kenaikan bunga.

"Kadang suka bingung sama praktik bank, kalau suku bunga BI turun, kenapa bunga KPR nya naik? Ini saya naik 0,25 persen," ujar dia.

Bunga kredit tersebut berlaku mulai tanggal 1 Juli 2019 sehingga bunga yang sebelumnya 13,25 persen berubah menjadi 13,5 persen dengan angsuran menjadi Rp1.465.600 dan dibayarkan pada 7 Agustus 2019 dari sebelumnya Rp1.450.900.

Dia mengungkapkan, beberapa bulan lalu sejak BI rate dalam tren kenaikan, bank juga rajin mengirimkan surat informasi kenaikan bunga. "Memang disuratin terus sih, tapi belum sadar, dan lupa cek juga," kata dia.

Agung menjelaskan dari surat yang diterima, alasan bank menaikkan bunga KPR karena tingginya biaya sumber dana pemberian kredit, maka BTN harus menyesuaikan suku bunga kredit pemilikan rumah.

Bank masih berhitung

Penurunan suku bunga BI diharapkan mampu mendorong turun bunga pinjaman yang ditawarkan perbankan. Bunga perbankan yang rendah diharapkan mampu meningkatkan permintaan kredit perbankan dan menggenjot perekonomian.

Survei Perbankan BI memperkirakan rata-rata bunga kredit akan menurun pada kuartal III 2019. Hal ini seiring dengan rata-rata biaya dana perbankan yang diperkirakan turun 0,1 persen dibanding kuartal sebelumnya menjadi 6,15 persen.

Survei tersebut memperkirakan rata-rata bunga kredit modal kerja akan turun 0,02 persen menjadi 11,49 persen. Sedangkan bunga kredit investasi dan kredit konsumsi diperkirakan turun 0,08 persen dan 0,29 persen menjadi 11,68 persen dan 13,25 persen.

Namun, survei BI memperkirakan rata-rata bunga KPR justru akan meningkat pada kuartal III 2019 dari 11,36 persen pada kuartal sebelumnya menjadi 11,43 persen.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengungkapkan penurunan bunga acuan tak bisa dengan cepat berdampak ke suku bunga kredit. Ia mengaku bank masih perlu membuat perhitungan terkait dampak penyesuaian bunga acuan BI terhadap biaya dana perseroan sebelum memutuskan apakah akan melakukan penyesuaian pada bunga kredit.

"Secara teori proses turunnya suku bunga acuan akan direspons bank dengan turunnya suku bunga jangka pendek di pasar uang antarbank, kemudian suku bunga deposito, baru kemudian ke bunga kredit," kata Riyan saat dihubungi Beritagar.id, Sabtu (24/8).

Dia mengungkapkan, data empiris menunjukkan turunnya suku bunga acuan di Indonesia tidak banyak diikuti oleh penurunan suku bunga kredit. Penurunan suku bunga kredit bersifat kaku ke bawah.

"Pada periode 2016-2017, saat BI menurunkan bunga acuan hingga level 4,25 persen membuktikan hal tersebut," imbuh dia.

Riyan mengatakan, agar penurunan suku bunga acuan benar-benar berdampak mendorong pertumbuhan kredit, kebijakan BI ini hendaknya secara konsisten diikuti dengan operasi moneter yang lebih ekspansif dan likuiditas benar-benar dilonggarkan.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR