UANG ELEKTRONIK

BI setuju Go-Jek kenakan biaya transaksi isi ulang Go-Pay

Tampilan Go-Pay di aplikasi Go-Jek.
Tampilan Go-Pay di aplikasi Go-Jek. | Ivan /Beritagar.id

Mulai tanggal 30 April 2018, PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) akan mengenakan biaya layanan isi ulang atau top up saldo Go-Pay kepada para penggunanya sebesar Rp1.000 per transaksi.

Penentuan tarif tersebut berlaku di tujuh bank yang bekerja sama dengan Go-Pay. Ketujuh bank tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BCA), PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) dan Bank Permata.

Misalkan ada konsumen Go-Pay melakukan isi ulang Rp10.000 di salah satu bank yang disebutkan di atas, maka si konsumen membayar Rp11.000, yang bakal dibebankan di rekening bank si konsumen. Sementara saldo yang masuk ke Go-Pay tetap Rp10.000.

Biaya administrasi tersebut hanya berlaku untuk top up produk Go-Pay untuk konsumen saja, sedangkan untuk top up produk Go-Pay Driver saat ini tidak dikenakan biaya administrasi. Konsumen bisa melakukan proses isi ulang dengan minimal nominal Rp25.000.

Pengenaan biaya administrasi ini bertujuan untuk mendukung sistem pembayaran di Indonesia. Apalagi pengguna jasa pembayaran digital saat ini semakin tinggi. Menurut CEO Go-Jek Nadiem Makarim, hampir 60 persen transaksi yang ada di Go-Jek menggunakan fasilitas Go-Pay.

Bank Indonesia (BI) menyetujui keputusan tersebut. Menurut BI, tak masalah Go-Jek akan membebankan biaya untuk setiap transaksi isi ulang Go-Pay. Pasalnya izin untuk layanan Go-Pay sudah diterbitkan bank sentral.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Onny Widjanarko, dikutip Medcom, menyatakan bahwa aturan isi ulang Go-Pay sama seperti aturan yang diterapkan BI untuk isi ulang uang elektronik (e-money). Untuk itu BI selaku pengawas sistem pembayaran menetapkan biaya tak lebih dari aturan yang ada.

Keputusan untuk membebankan biaya administrasi tersebut mendapat tanggapan dari beberapa pihak bank yang bersangkutan.

Seperti dilansir Kontan, PT Bank Mandiri Tbk membenarkan kabar tersebut. Namun, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas menegaskan kebijakan itu tidak berasal dari Bank Mandiri, melainkan dari Go-Jek sendiri, di mana sepenuhnya merupakan wewenang pihak Go-Jek.

Menurutnya, Bank Mandiri memang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan penyedia jasa aplikasi transportasi tersebut. Pun, Bank Mandiri juga mengenakan biaya (fee) kepada Go-Jek melalui Go-Pay atas layanan sistem pembayaran yang menggunakan jasa Bank Mandiri sejak dua tahun terakhir.

Namun, biaya itu tidak dibebankan langsung ke pengguna jasa, melainkan ke Gojek, pemilik sistem pembayaran Gopay. Hal itu tertulis dalam perjanjian kerja sama kedua pihak. Artinya, jika Go-Pay mengenakan biaya tambahan kepada konsumen, itu sepenuhnya permintaan dan keputusan Go-Pay.

Keterangan serupa disampaikan Direktur Bisnis Konsumer Bank BRI, Handayani, kepada Liputan6.

Sebelumnya beberapa bank lainnya (OCBC NISP, Bank Sinarmas, Rabobank, Maybank, Bank Bukopin, Bank BJB, dan Panin Bank) juga sudah punya ketetapan tarif yang berbeda. Hanya saja, beberapa bank lainnya telah menyepakati besaran yang diminta oleh Go-Jek.

"Masing-masing bank kan punya tarif yang berbeda-beda sehingga tentu ini merepotkan juga untuk konsumen. Sehingga kita dihimbau dan beberapa bank lain berinisiatif bersama sama Go-Pay kita seragamkan saja akhirnya kita sepakat Rp1.000," terang Handayani.

Dia menjelaskan, penerapan biaya tersebut baru dikenakan pada tahun ini. Sebelumnya, nasabah yang melakukan isi ulang lewat kanal BRI masih dibebaskan dari biaya.

Sementara itu Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan tidak seluruh biaya isi ulang akan masuk ke kantung perusahaan. Perusahaan hanya mematok separuhnya saja atau Rp500 untuk setiap transaksi sebagai biaya administrasi.

Artinya, sebesar Rp500 sisanya akan masuk kantong Go-Jek. "Nanti pendapatan Rp500 untuk Gojek dan Rp500 untuk BCA," ujarnya seperti dikutip CNNIndonesia.

Corporate Communications Head Bank Danamon Atria Rai mengatakan pihaknya juga memungut bayaran dari setiap transaksi isi ulang Go-Pay. Atria menuturkan, biaya dikenakan jika konsumen isi ulang melalui mesin ATM.

"Bank Danamon saat ini mengenakan tarif isi ulang Go Pay sebesar Rp2.000 jika dilakukan via ATM Bank Danamon," kata Atria kepada Merdeka.

Pada akhir tahun lalu, sempat terdengar kabar bahwa Go-Pay akan melepaskan diri dari layanan Go-Jek pada 2018. Nadiem mengaku percaya diri dengan langkah tersebut karena Go-Pay telah mengantongi izin penyelenggara uang elektronik dari BI.

"Di 2018, Go-Pay akan keluar dari ekosistem Go-Jek. Bisa digunakan untuk online dan offline, sehingga bisa digunakan seperti halnya cash. Di mana orang terima cash, orang terima Go-Pay," kata Nadiem pada Tirto.id.

Menurut Nadiem, jumlah transaksi oleh pengguna dengan Go-Pay telah mencapai angka 60 persen. "Rencana Go-Pay keluar dari ekosistem Go-Jek sangat jelas. Go-Pay itu kan punya lisensi uang elektronik. Jadi kami bisa menggunakan Go-Pay di luar aplikasi Go-Jek," pungkasnya.

Sistem Go-Pay inilah yang kerap disebut sebagai daya tarik utama bagi para investor untuk menanamkan modal hingga triliunan rupiah pada perusahaan rintisan (start-up) tersebut, bukan potensi pendapatan dari ride-sharing yang menjadi awal keberadaan Go-Jek.

BACA JUGA