Binaraga, seni, dan upaya merawat genting Jatiwangi

Sejumlah kuli pabrik genteng atau "jebor" memamerkan otot mereka di depan juri saat perlombaan binaraga antarjebor di Pabrik Genting Tenang Jaya, Jatiwangi, Jawa Barat, Jumat (11/8).
Sejumlah kuli pabrik genteng atau "jebor" memamerkan otot mereka di depan juri saat perlombaan binaraga antarjebor di Pabrik Genting Tenang Jaya, Jatiwangi, Jawa Barat, Jumat (11/8).
© Adeng Bustomi /Antara Foto

Sebanyak 70 pekerja pabrik genting tradisional di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, berkumpul di pabrik genting Tenang Jaya usai salat Jumat (11/8/2017). Rupanya para pekerja laki-laki yang berbadan kekar itu akan berdemonstrasi.

Bukan demonstrasi untuk menuntut hak-hak mereka, seiring dengan semakin banyaknya pabrik genting tradisional --di sebut jebor oleh penduduk setempat-- yang gulung tikar.

Mereka rupanya hendak mendemonstrasikan otot-otot tubuh yang terbentuk dan membantu para buruh jebor itu menjalankan pekerjaan sehari-hari itu dalam ajang Jatiwangi Cup - Lomba Binaraga Antar-Jebor 2017.

Perlombaan itu sudah dilangsungkan sejak 2015 pada setiap bulan Agustus untuk sekaligus merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Jumlah pesertanya terus bertambah. Dari 46 orang pada edisi perdana, naik menjadi 65 orang pada 2016, lalu tahun ini menjadi 70 peserta. Hadiah yang diperebutkan terbilang lumayan, yakni uang berjumlah total Rp10 juta.

Lomba ini termasuk yang dinanti-nanti oleh warga Majalengka. Menurut laporan PojokBandung, kontes binaraga ini sudah menjadi sebuah pesta rakyat yang penyelenggaraannya selalu disaksikan ribuan warga. Penggagas awalnya adalah Jatiwangi Art Factory (JAF) dan didukung para pengusaha jebor.

Ketua panitia penyelenggaraan, Illa Syukrillah Syarif, menyatakan tujuan utama mereka mengadakan acara ini, selain sebagai ajang silaturahmi para pekerja pabrik genting, juga untuk mempromosikan genting tradisional buatan mereka.

"...Untuk membuktikan bahwa perusahaan genting di Jatiwangi masih eksis," tegas Illa, yang juga Direktur Museum Genting Jatiwangi, kepada kiniNews (11/8).

Menjaga eksistensi adalah perjuangan sehari-hari para pengusaha jebor di Majalengka.

Jumlah jebor memang terus menurun. Pada masa jaya mereka, periode 1985-1990, mengutip Merdeka.com, ada 700 pabrik genting tradisional yang beroperasi di Majalengka. Setiap pabrik rata-rata mempekerjakan kurang lebih 300 pekerja.

Saat krisis moneter menghantam Indonesia pada 1998, daya beli masyarakat menurun dan genting, yang bukan kebutuhan pokok, tak masuk prioritas dalam daftar belanja. Hadir pula atap berbahan metal maupun beton yang lebih mudah diproduksi sehingga harganya relatif lebih murah ketimbang genting tradisional berbahan dasar tanah liat itu.

Satu-persatu jebor di Jatiwangi menutup pintu.

Menurut data Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka, seperti dikutip Kompas (12/8), pada 2012 ada 336 pabrik genting tanah liat di Jatiwangi, lalu turun menjadi 275 pada 2014. Jumlah pekerja di pabrik-pabrik itu antara 30-100 orang.

Kenaikan ongkos angkut bahan baku dan harga kayu untuk bahan bakar menyebabkan biaya produksi naik. Akan tetapi mereka tak bisa menaikkan harga terlalu tinggi karena, menurut pemilik pabrik genting Tenang Jaya, Agus Johar, mereka bakal sulit bersaing dengan produk atap dari bahan lain.

Masalah lain adalah semakin sedikitnya orang yang mau menjadi pekerja jebor. Para pemuda usia kerja di Majalengka saat ini, menurut Abdul Kohim, pemilik pabrik genting AZR, lebih memilih bekerja di pabrik garmen atau sepatu yang beroperasi di kabupaten tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Kabupaten Majalengka, Edy Noor Sudjatmiko, menyatakan pemerintah berusaha untuk mendorong agar industri genting di Jatiwangi terus bertahan, bahkan berkembang.

Kehadiran Bandara Internasional Jawa Barat yang akan beroperasi pada pertengahan 2018 dan berada di dekat daerah itu, menurut Edy, bisa dimanfaatkan untuk menarik perhatian wisatawan ke Jatiwangi.

Memanfaatkan tanah liat

Sembari menunggu wujud usaha pemerintah tersebut, para pengusaha jebor mesti semakin kreatif dalam memasarkan produk mereka. Masyarakat sekitar pun perlu digugah agar tidak terlalu menggantungkan diri kepada satu bidang usaha saja.

Hal itulah yang diupayakan Jatiwangi Art Factory (JAF), yang didirikan seniman Arif Yudhi, sang istri Loranita Theo, serta Ginggi Syarif Hasyim, Deden Imanudin, dan Ketut Aminudin sejak 2005.

Selain menyelenggarakan lomba binaraga antar-jebor tersebut, JAF mencoba mengajak warga setempat untuk tak meninggalkan tanah liat yang telah menjadi bagian dari kehidupan mereka, namun memanfaatkannya untuk tujuan lain, seperti seni.

Festival musik Keraramik 2015 Rampak 5000 Tanah Berbunyi
© Jatiwangi Art factory

JAF membantu dan mendorong warga untuk menciptakan berbagai karya seni dari tanah liat tersebut, termasuk alat musik.

Pameran-pameran seni digelar. Para seniman dari dalam dan luar negeri lalu diundang untuk menyaksikan acara tersebut. Program residensi untuk orang-orang dari luar yang ingin mempelajari seni di Jatiwangi pun dilangsungkan.

Sejumlah seniman dari Yunani, Jerman, Singapura, Amerika Serikat, Bosnia, Meksiko, dan Argentina pernah mengikuti residensi di Jatiwangi. Pun dari daerah lain di dalam negeri.

Gairah seni penduduk asli Jatiwangi pun muncul. Hadir band Hanyaterra yang menggunakan alat-alat musik berbahan dasar tanah liat. Tedi En, Iwan Maulana, dan Ahmad Thian Fulthan sudah melanglang buana memperkenalkan Hanyaterra dan Jatiwangi, tentunya.

Lalu ada Asep Syaeful Rohman. Pemuda berusia 18 tahun ini, menurut wartawan Pikiran Rakyat, Yusuf Wijanarko, berhasil menyempurnakan alat musik tiup yang terbuat dari tanah liat.

Kedatangan penggiat dan penikmat seni itu tentu berpotensi mendorong berputarnya roda ekonomi masyarakat setempat.

Bahkan lomba binaraga Jatiwangi Cup itu juga bisa lebih dikembangkan untuk menjadi tontonan menarik bagi wisatawan, bukan sekadar ajang hiburan bagi anggota keluarga peserta dan warga sekitar.

"Saat ini yang bekerja di pabrik genting hanya orang-orang tua. Memang ada beberapa anak muda tapi mereka melakukannya hanya karena terpaksa dan biasanya tidak akan lama," ujar Asep.

Pada akhirnya, mungkin hanya sedikit jebor yang kuat bertahan melawan kemajuan zaman. Tetapi mata masyarakat Jatiwangi setidaknya sudah melihat ada jalan alternatif yang bisa ditempuh untuk meneruskan kehidupan tanpa meninggalkan tanah liat.

JATIWANGI CUP - LOMBA BINARAGA ANTAR JEBOR
© Jatiwangi Art factory
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.