KARHUTLA

BKMG sulit ciptakan hujan buatan di Riau

Seorang warga memancing di tepian sungai Siak saat kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (20/8/2019).
Seorang warga memancing di tepian sungai Siak saat kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, Selasa (20/8/2019). | Rony Muharrman /ANTARA FOTO

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kesulitan menciptakan hujan buatan di lokasi kebakaran hutan di Riau karena minimnya bibit awan hujan. Bibit awan hujan tak ditemukan karena kelembaban udara rendah.

“Kami menunggu sejak Juli dan Agustus itu kesulitan untuk membuat hujan buatan. Tapi belakangan ini sudah mulai muncul bibit-bibit awan dan terakhir kemarin (Jumat, 13/9/2019) pukul 22.00 WIB itu BMKG mendeteksi awan hujan mulai muncul,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Gedung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta.

Hujan buatan tak akan efektif dilakukan jika kelembapan udara di kawasan tersebut tergolong rendah atau 70 persen, seperti di Riau. Sementara, hujan buatan bisa dilakukan kelembapan udaranya cukup tinggi yakni lebih dari 75 persen.

Studi permodelan dari Institut Pertanian Bogor menunjukkan kelembaban udara berpengaruh positif terhadap curah hujan, artinya pada saat kelembaban udara meningkat maka curah hujan juga meningkat.

Ketika kelembaban di udara tinggi maka uap air yang terkandung mendekati jenuh dan terjadi pengembunan uap air. Pengembunan berpotensi membentuk butir-butir air. “Dengan demikian, potensi terbentuk awan dan hujan semakin besar,” merujuk studi tersebut.

Sebaliknya, di kondisi kelembaban udara rendah maka potensi pengembunan dan pembentukan butir-butir air dan awan pun kecil. Hal ini pula yang menyebabkan hujan buatan sulit dilakukan pada masa kemarau panjang seperti sekarang. BMKG memprediksi puncak kemarau pada Agustus 2019 dan efeknya terasa hingga September 2019.

“Bibit awan yang akan disemai itu hampir tidak ada,” kata Dwikorita.

Pada Jumat (13/9) malam, BMKG memantau kawasan dengan kelembaban tinggi yakni di wilayah Aceh, Kalimantan Utara, dan Papua. Kelembaban udara di kawasan Sumatra bagian utara dan Semenanjung Malaysia diprediksi akan meningkat pada dasarian (10 hari) ke III September nanti.

Curah hujan rendah

Merujuk data BKMG, saat ini di beberapa lokasi di Riau sudah mulai turun hujan meski tak banyak karena curah hujan masih rendah (10 - 20 mm) dan di sebagian lainnya justru masih kemarau.

Curah hujan rendah dilihat dari sedikitnya air yang terkumpul dalam penakar hujan pada tempat yang datar, tidak menyerap, tidak meresap, dan tidak mengalir. Jika ketinggian air tersebut rendah di bawah 20 mm, artinya dalam wilayah seluas 1 meter persegi hanya ada 20 mm air yang tertampung.

Jika air yang ditampung melebihi 150 mm maka curah hujan dianggap tinggi atau terjadi hujan dengan intensitas yang sering.

Perkiraan curah hujan dasarian II September 2019.
Perkiraan curah hujan dasarian II September 2019. | /BMKG

Di Riau, curah hujan akan mulai meningkat pada dasarian III September 2019 yang dimulai pada 21 September 2019 nanti. Data BMKG menggambarkan, curah hujan di kawasan Riau bagian utara lebih tinggi (50 -75 mm) daripada kawasan Riau bagian Selatan (20 - 50 mm).

Meski demikian, perlu dicatat bahwa curah hujan rendah belum tentu kondisinya tak normal. Bisa jadi memang di daerah tersebut adalah daerah yang kering dengan curah hujan yang rendah. Kondisi demikian perlu dijelaskan dengan data sifat hujan.

Selama lima hari ke depan, mayoritas sifat hujan di Riau di hampir semua titik termasuk di bawah normal (0 - 50 persen). Artinya, intensitas hujan di wilayah ini tak seperti biasanya, atau di bawah rata-rata curah hujan (< 85 persen).

Mulai tanggal 21 September 2019 hingga 30 September 2019 nanti, kondisi hujan di mayoritas wilayah di Riau sudah kembali normal (85 - 115 persen).

Perkiraan curah hujan dasarian III September 2019
Perkiraan curah hujan dasarian III September 2019 | /BMKG
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR