CUACA EKSTREM

BMKG minta masyarakat waspadai gelombang tinggi pada 6-9 Februari

Potret gelombang tinggi yang menerjang kawasan pesisir Cinangka, Serang, Banten, Jumat (28/12/2018). BMKG memperingatkan gelombang tinggi berpotensi kembali terjadi pada 6-9 Februari 2019.
Potret gelombang tinggi yang menerjang kawasan pesisir Cinangka, Serang, Banten, Jumat (28/12/2018). BMKG memperingatkan gelombang tinggi berpotensi kembali terjadi pada 6-9 Februari 2019. | Akbar Nugroho Gumay /Antara Foto

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laman resminya menginformasikan bahwa gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan deras berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia pada periode 6-9 Februari 2019. Mereka pun meminta masyarakat, terutama di kawasan pesisir, untuk tetap waspada.

Hampir seluruh wilayah pesisir Indonesia berpotensi mengalami fenomena kenaikan gelombang laut antara 2,5 meter hingga 4 meter.

Untuk tinggi gelombang sedang, yakni 1,25 sampai 2,5 meter, berpeluang terjadi di beberapa daerah Sumatra sampai Papua.

Kawasan di Sumatra yang perlu waspada dalah Perairan Utara Sabang, Perairan Sabang-Banda Aceh, Perairan Aceh hingga Kepulauan Mentawai, Laut Natuna Utara, Perairan Utara Kep. Natuna, Perairan Bengkulu hingga Barat Lampung, dan Samudera Hindia Barat Sumatera.

Sementara untuk sekitar Jawa hingga Lombok, kawasan yang perlu waspada adanya gelombang tinggi kategori sedang adalah Selat Sunda bagian selatan, Samudra Hindia dari selatan Banten hingga Jawa Tengah, perairan utara Kepulauan Kangean, perairan selatan Pulau Jawa hingga Pulau Sumbawa, Selat Bali, Selat Lombok, Selat Alas bagian selatan.

Kemudian perairan selatan Pulau Sumba, dan Pulau Sawu, perairan Kupang–Pulau Rote, Laut Sawu, Laut Timor di selatan NTT, Selat Makassar bagian selatan, perairan barat Sulawesi Selatan, perairan Kepulauan Sabalana hingga Kepulauan Selayar, perairan Utara Flores, Laut Flores, Laut Banda, perairan Kepulauan Sermata hingga Kepulauan Tanimbar.

Perairan Kaimana–Agats, Laut Arafuru bagian barat, Laut Sulawesi bagian tengah hingga timur, perairan Bitung–Manado, Laut Maluku, perairan utara dan timur Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, perairan utara Papua Barat hingga Papua, dan Samudra Pasifik utara Halmahera hingga Papua juga berpotensi tinggi alami gelombang tinggi.

Sementara itu, gelombang setinggi 2,5 sampai 4 meter atau masuk kategori tinggi berpeluang terjadi di Samudra Hindia di selatan Jawa Timur hingga NTT, perairan barat Yos Sudarso, dan Laut Arafuru bagian tengah hingga timur.

"Kondisi ini diakibatkan pola sirkulasi massa udara di Samudra Hindia barat Aceh," ujar Kepala Humas BMKG, Ahmad Taufan Maulana, dalam keterangannya di Jakarta, seperti dikutip Viva.co.id, Kamis (7/2).

Kemudian, pola angin di utara Indonesia umumnya dari arah utara-timur laut dengan kecepatan angin berkisar antara 4-20 knot, sedangkan di selatan wilayah Indonesia umumnya dari arah barat-utara dengan kecepatan angin berkisar antara 4-25 knot.

Pola sirkulasi angin tersebut, jelas Ahmad, meningkatkan tinggi gelombang di kawasan-kawasan tersebut.

Imbauan untuk masyarakat dan nelayan

Karenanya, pemerintah melalui BMKG meminta masyarakat yang tinggal dan beraktivitas dekat dengan perairan, apalagi untuk para nelayan untuk berhati-hati dan mewaspadai gelombang tingi tersebut.

BMKG menyarankan agar para pelaut tidak beraktivitas di lautan saat kecepatan angin dan tinggi gelombang mencapai batas tertentu, yakni:

  • Kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter untuk perahu nelayan tradisional,
  • Kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter untuk kapal tongkang,
  • Kecepatan angin mencapai 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter untuk kapal feri, dan,
  • Kecepatan angin mencapai 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4 meter untuk kapal ukuran besar, seperti kapal kargo dan pesiar.

"Diminta masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadi gelombang tinggi serta wilayah pelayaran padat agar tetap selalu berhati-hati dan waspada," tegas BMKG.

Sementara curah hujan tinggi diperkirakan bakal turun di beberapa wilayah pada periode sama. Tekanan rendah di Australia bagian utara dan sirkulasi siklonik di pesisir barat Aceh, menurut BMKG, menjadi penyebabnya.

Hujan lebat yang disertai angin kencang dan petir diperkirakan bakal terjadi pada Jumat (8/2) di wilayah Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Barat, Jabodetabek, Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, dan Sulawesi Tengah.

Kemudian pada Sabtu (9/2), cuaca serupa bakal terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jabodetabek, Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR