LION AIR JT610

Boeing masih bungkam soal peringatan AOA

Pesawat Boeing 737 Max dipajak di Farnborough International Airshow (FIA2018), Farnborough, Britania Raya, 17 Juli 2018.
Pesawat Boeing 737 Max dipajak di Farnborough International Airshow (FIA2018), Farnborough, Britania Raya, 17 Juli 2018. | Andy Rain /EPA-EFE

Boeing Company tersudut. Sorotan atas insiden jatuhnya Lion Air JT610 mengarah tajam ke perusahaan pembuat pesawat asal Amerika Serikat (AS) ini.

Buletin panduan penerbangan yang diterbitkan Boeing satu pekan pasca-tragedi berujung tudingan bahwa perusahaan telah merahasiakan informasi penting terkait anomali sistem penangkal sensor angle of attack (AOA) pada model pesawat teranyarnya, 737 Max.

Dalam tragedi yang menewaskan 189 penumpang dan kru, akhir Oktober lalu, Lion Air menggunakan pesawat Boeing model terbaru, 737 Max 8.

Boeing masih bungkam atas tuduhan tersebut. Pekan lalu, juru bicara Boeing menekankan bahwa perusahaannya sangat yakin dengan fitur keamanan pada seluruh model 737 Max.

Senin (19/11/2018), CEO Boeing Dennis Muilenburg meminta karyawannya untuk tidak memercayai pemberitaan terkait isu anomali pada sensor penangkal AOA. Muilenburg juga menegaskan bahwa perusahaan tidak pernah menyembunyikan informasi apapun kepada kliennya.

“Keterangan terkait panduan fungsi itu sudah dijelaskan dalam Flight Crew Operations Manual dan kami pun secara rutin berhubungan dengan klien tentang petunjuk menerbangkan pesawat dengan aman,” ucap Muilenburg dalam laporan Bloomberg.

Sejak insiden Lion Air JT610, Boeing memang rutin menggelar sesi tanya jawab melalui panggilan jarak jauh (conference call) bersama kliennya. Agenda terbaru tanya jawab itu dijadwalkan berlangsung pada Selasa pagi (waktu AS). Namun, oleh Boeing pertemuan dini hari tadi (waktu Indonesia) dibatalkan.

Seorang sumber yang dekat dengan perusahaan kepada Reuters mengatakan, konferensi tersebut rencananya akan membahas sistem-sistem penerbangan pada 737 Max 8 dengan seluruh maskapai di dunia yang mengoperasikan model pesawat dimaksud.

“Boeing selalu—dan akan terus berkomunikasi dengan para klien. Kami akan tetap menjadwalkan pertemuan rutin untuk membahas berbagai informasi yang dibutuhkan,” sebut Boeing tanpa menguraikan apakah pertemuan yang dibatalkan akan dijadwalkan ulang.

Presiden dan CEO Boeing Dennis Muilenburg, 17 Januari 2017
Presiden dan CEO Boeing Dennis Muilenburg, 17 Januari 2017 | Bryan R. Smith /EPA-EFE

Desakan agar Boeing membuka misteri terkait peringatan sistem penangkal AOA muncul dari berbagai penjuru, mulai dari kru pesawat, maskapai operator, otoritas penerbangan, hingga pengamat aviasi.

Pekan lalu, American Airlines mengaku bahwa pihaknya tidak mengetahui pun merasa pernah diperingatkan terkait fitur Maneuvering Charateristics Augmentation System (MCAS) yang muncul ketika sensor AOA bermasalah.

Begitu juga dengan pengakuan Lion Air. Kepada CNN, Direktur Operasional Lion Zwingli Silalahi mengaku Boeing tidak pernah memberikan pelatihan terbang untuk model 737 Max kepada pilotnya.

Zwingli juga menekankan bahwa informasi terkait sistem yang dimaksud tidak disematkan dalam buku panduan yang diberikan Boeing saat Lion Air memborong pesawat ini.

Boeing, lanjut Zwingli, ketika itu hanya mengatakan bahwa sistem operasional 737 Max 8 tidak akan berbeda jauh dengan model-model sebelumnya.

Bijan Vasigh, seorang profesor dari Embry-Riddle Aeronautical University mengatakan, biasanya sebuah perusahaan pembuat pesawat akan menggelar pelatihan kepada pilot setiap mereka mengeluarkan model terbaru.

Pelatihan itu bisa berlangsung dalam beberapa hari, sampai para pilot itu terbiasa dengan sistem-sistem yang ada pada pesawat.

Boeing disebut tidak pernah membongkar lebih jauh terkait fitur MCAS. Baru setelah kecelakaan terjadi, Boeing mengumumkan panduan operasional penerbangan dalam dua buletin yang diterbitkan dalam jeda waktu tak terlalu jauh.

Kepada media, Boeing enggan menjelaskan dengan detail terkait fitur tersebut. Namun secara garis besar, MCAS pada 737 Max mampu menurunkan hidung pesawat pada keadaan-keadaan tertentu, meski tanpa instruksi pilot.

Keadaan tersebut berpotensi membuat pilot linglung dan kehilangan kendali. Anomali sistem ini yang disinyalir sebagai penyebab jatuhnya pesawat Lion Air JT610.

Kinerja saham terhantam

Sorotan kepada Boeing Company dalam tragedi Lion Air JT610 menghantam kinerja saham perusahaan. Bahkan, semua aksi korporasi yang dibuat pasca-kecelakaan langsung direspons negatif oleh bursa.

Ketika konferensi jarak jauh dengan kliennya dibatalkan, saham Boeing (BA) yang diperdagangkan di New York Stock Exchange (NYSE) merosot 1 persen ke posisi $317,70 AS dari sebelumnya $320,94 AS.

Menyisir Bloomberg Index, saham Boeing telah merosot hingga 10 persen sejak kecelakaan terjadi pada penerbangan Cengkareng-Pangkalpinang, 29 Oktober 2018.

CNBC melaporkan, banyak dari investor Boeing yang mulai kehilangan kepercayaan dengan perusahaan. Apalagi, 737 Max adalah yang terlaris dibandingkan model-model sebelumnya.

Apalagi, salah satu keluarga korban JT610 memutuskan untuk mengajukan gugatan kepada Boeing karena dianggap memiliki desain yang tidak aman.

Di sisi lain, Kementerian Perhubungan memastikan maskapai Lion Air tidak akan luput dari sanksi atas peristiwa jatuhnya pesawat bernomor registrasi JT610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Belum jelas sanksi apa yang akan dijatuhkan. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menekankan, sanksi akan dijatuhkan sesuai dengan rekomendasi Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang akan diumumkan akhir bulan ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR