BPOM sita kosmetik ilegal Rp136 miliar

Petugas memperlihatkan kosmetik ilegal hasil penertiban pasar saat rilis kasus di Kantor BBPOM Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (7/12/2018).
Petugas memperlihatkan kosmetik ilegal hasil penertiban pasar saat rilis kasus di Kantor BBPOM Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (7/12/2018). | Jessica Helena Wuysang / ANTARA FOTO

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) telah menyita produk kosmetik ilegal senilai Rp136 miliar sepanjang 2018. Produk kosmetik ilegal ini banyak diperdagangkan di lapak-lapak daring.

"Sepanjang 2018, sebanyak Rp600 miliar produk ilegal obat, obat tradisional, kosmetik, suplemen dan pangan yang ditemui di Indonesia. Paling banyak dijumpai adalah produk kosmetik dengan total Rp136 miliar," kata Kepala BPOM, Penny K. Lukito dalam acara RAKERNAS BPOM di Medan, Senin (8/4).

Menurut laporan triwulan pertama BPOM tahun 2018, sebelum kosmetik mendapat izin produksi, impor, atau edar di wilayah RI, produk itu harus dievaluasi oleh BPOM.

Dalam kurun Januari hingga Maret 2018, BPOM telah menerima 19.386 permohonan evaluasi produk kosmetik. Setelah melakukan uji keamanan, khasiat, mutu, serta label, BPOM menerbitkan 14.398 keputusan, dan merilis 13.628 izin edar.

Selain itu BPOM mengungkap, kosmetik adalah komoditi terbanyak kedua setelah pangan yang ditanyakan oleh masyarakat melalui layanan informasi dan layanan pengaduan. Ini menunjukkan minat tinggi masyarakat di Indonesia terhadap produk kosmetik.

Kosmetik ini dinyatakan ilegal oleh BPOM karena menyalahi aturan, baik dari kemasan, bahan, maupun peredaran. Menurut Penny, kosmetik ilegal tak jarang mengandung bahan berbahaya seperti mercury, hydroquinone, dan asam retinoat.

BPOM RI menemukan enam jenis kosmetik yang setelah diperiksa mengandung BD/DB--pewarna yang dilarang (merah K3) dan logam berat (timbal). Bahan-bahan ini bisa memicu kanker (karsinogenik), kelainan pada janin (teratogenik), dan iritasi kulit.

Sayangnya, banyak remaja yang punya minat tinggi atas produk-produk ini. “BPOM, sudah melakukan pengawasan secara intensif khususnya terhadap produk kosmetik online. Pengawasan ini secara rutin dilakukan oleh BPOM di bawah kedeputian khusus. Peredaran kosmetik yang paling banyak dijumpai yakni produk kosmetik online,” terang Penny.

Selain di lapak daring, BPOM juga terus menyisir pasar-pasar ritel kosmetik terkenal, termasuk di kawasan Pasar Sentral Jakarta. Pasalnya, dari seluruh kosmetik ilegal yang disita BPOM, kebanyakan berasal dari Jakarta dan sekitarnya.

"Kami juga melakukan pengawasan kosmetik secara lintas sektor seluruh Indonesia bekerja sama dengan pihak kepolisian, bea cukai dari kejaksaan juga. Kita benar-benar fokus mengenai kosmetik ini. Kita lakukan pembinaan pada pengusaha-pengusaha ini agar tidak menjual produk ilegal," urai Penny.

Hobi mengikuti tren makeup memang tidak ramah kantong. Namun, memilih produk kosmetik palsu alih-alih produk asli justru bisa berefek fatal pada kulit dan kesehatan secara umum.

Penting untuk diingat, jenama kosmetik selalu melakukan uji coba ekstensif pada kulit manusia. Ini untuk memastikan keamanan produk.

Produsen kosmetik biasanya memastikan mereka yakin betul bahan-bahan dan formula yang aman digunakan pada kulit. Sementara produsen kosmetik palsu, hanya mengejar keuntungan dengan mendompleng jenama besar. Beberapa jenama kosmetik yang ditemukan BPOM telah dipalsukan termasuk NYX, MAC, Revlon.

“Untuk itu, belajar dari kasus-kasus produksi dan distribusi kosmetik ilegal di seluruh Indonesia, BPOM RI mengimbau kepada para konsumen untuk bijak dlm memilih produk kosmetika dan tidak tergiur dengan iklan-iklan menyesatkan atau harga yang tidak wajar” papar Hendri Siswadi, Deputi Bidang Penindakan BPOM RI.

Penny mengingatkan konsumen untuk waspada saat membeli produk kosmetik. Gunakan rumus dari BPOM, cek KLIK--kemasan, label, izin edar, kedaluwarsa. "Pastikan kemasan dalam kondisi baik, baca informasi produk yang tertera pada labelnya, memiliki izin edar BPOM, dan tidak melebihi masa kedaluwarsa," pungkas Penny.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR