POLA KONSUMSI

Bubur ayam yang menembus batas budaya

Orang Jakarta penyuka bubur ayam.
Orang Jakarta penyuka bubur ayam. | Lokadata /Lokadata

BUDAYA | Bubur ayam selama ini identik dengan Jakarta, terutama pada komunitas Tionghoa, dan Jawa Barat. Meskipun daerah lain juga punya berbagai menu bubur (di Solo ada bubur lemu, Jogja punya bubur gudeg, atau Manado dengan bubur sayur), label Jakarta dan Jawa Barat sebagai “pusat” bubur ayam, tak tergoyahkan.

Pengolahan data Lokadata berdasarkan Survei Sosial Ekonomi BPS tahun 2018 menunjukkan hal serupa. Kota-kota di Jakarta dan Jawa Barat mendominasi daftar 10 besar wilayah jawara pelahap bubur ayam di Indonesia.

Yang menarik, bubur ayam seperti juga menu-menu lain di nusantara telah menjalar, menular dan menyusup ke wilayah lain, menembus pelbagai batas budaya. Bubur ayam kini dinikmati oleh hampir semua keluarga di Indonesia – kendati dalam volume dan frekuensi yang terbatas.

“Penularan” yang kencang terutama terjadi di kawasan yang tidak asing dengan olahan bubur. Banjarmasin yang sejak dulu punya tradisi bubur sumsum (kokoleh) dan bubur manis (baayak) misalnya, melahap 2,67 porsi bubur ayam per orang per bulan – hanya selisih 18 persen dari konsumsi di Kota Bandung, salah satu “ibu kota” bubur ayam di Indonesia.

Minahasa yang terbiasa dengan bubur tinotuan juga tidak sulit menerima kehadiran bubur ayam. Kawasan di pinggiran Kota Manado itu melahap 1,48 porsi bubur ayam per orang per bulan.

Di berbagai daerah itu, rumah makan yang menyajikan bubur ayam sering kali tetap membawa label asal-usul mereka. Di Banjarmasin misalnya, salah satu warung bubur ayam favorit adalah Bubur Ayam Bandung.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR