ARTEFAK KEBUDAYAAN

Budaya merawat alat musik tradisional

Foto ilustrasi alat musik tradisional.
Foto ilustrasi alat musik tradisional. | Watch The World /Shutterstock

Pertemuan digitalisasi dengan warisan budaya Nusantara tak selalu berakhir pada kemusnahan. Ambil contoh pada alat musik tradisional yang kita miliki.

Pakar etnomusikologi senior, Rizaldi Siagian, menganggap alat musik tradisional mampu bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman. Kedinamisan itu bisa dibuktikan dengan kehadiran electrophone, alat-alat musik “baru” yang sumber bunyinya berasal dari sirkuit elektronik.

Namun, apakah kehadiran electrophone menggeser idiophone, membranophone, chordophone, aerophone? Tidak, jawab Rizal dengan semangat kepada Beritagar.id, Kamis (29/11/2018).

Rizal mengambil satu contoh alat musik elektrofon, yakni kibor (keyboard). Nada-nada yang dihasilkan pada kibor itu pada dasarnya menirukan bunyi dari alat tradisional, termasuk yang Indonesia miliki.

“Jadi artinya, alat musik tradisional merupakan inspirasi yang begitu otentik. Digital menirukan dengan membuat sampling alat musik tradisional. Itu yang teknologi digital lakukan,” tutur Rizal.

Pertanyaan lebih penting kemudian muncul, tegas Rizal. Bagaimana supaya alat musik yang “hilang” itu bisa dirasakan oleh pemainnya?

Master Seni Musik San Diego State University (SDSU) ini pun mengaku belum memiliki jawaban atas tanya ini. “Sekarang sedang dilakukan penelitian. Musisi seperti Indra Lesmana dan Dwiki Darmawan itu bersusah payah mengaktualisasi bunyi-bunyian dari proses digitalisasi ini,” sebutnya.

Jika musisi papan atas seperti Indra Lesmana dan Dwiki Darmawan saja bersusah payah, bagaimana dengan generasi muda saat ini?

Ilmu ini masih bisa sampai, kalau generasi penerus saat ini memiliki keingintahuan yang besar akan makna di balik bunyi-bunyian itu. “Semakin sering mereka main alat ini, semakin menekuni, mereka akan jadi penasaran bagaimana sebenarnya bunyi ini berasal.”

Namun, ketakutan terbesarnya adalah ketika ilmu ini terpotong karena generasi mudanya tak peduli dan tidak ada yang membantu menjaga koridor ini. Sehingga masuknya ideologi lain lebih mudah ketimbang warisan budaya sendiri.

Apalagi, ketika pendidikan wajib yang disediakan pemerintah tidak sedikitpun melengkapi potongan yang hilang ini.

“Orang-orang yang dididik di seluruh dunia membawa bakat dari lahir. Tapi bakat-bakat ini dihancurkan oleh sistem pendidikan yang pada dasarnya dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan industri. Maka, terbunuhlah bakat-bakat itu,” tegas Rizal.

“Sekarang, di sekolah dasar (SD) anak-anak diwajibkan memainkan suling (recorder) buatan Jepang. Padahal, Jawa Barat dan Bali misalnya, juga punya alat musik mirip seperti suling,” sambung Rizal.

Kritikan Rizal memang mendasar. Catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang digabungkan dengan alatmusik.org menunjukkan Indonesia dianugerahi dengan setidaknya 232 jenis alat musik tradisional.

Empat klasifikasi klasik

Jika dijabarkan dengan cara dimainkannya, maka ratusan alat musik ini akan terbagi dalam enam klasifikasi, masing-masingnya adalah pukul sebanyak 117, 54 tiup, 28 petik, 18 gesek, 12 goyang, dan 3 tekan.

Pulau Sumatra mendominasi dengan 71 jenis alat musik, disusul Jawa dengan 43 jenis, Sulawesi dan Kalimantan masing-masing 36 jenis, Maluku dan Papua 25 jenis, serta Bali dan Nusa Tenggara dengan 21 jenis.

Begitu pula jika dikelompokkan dengan klasifikasi jenis suara yang sudah disinggung di beberapa paragraf sebelumnya.

Sebanyak 83 alat musik tradisional kita masuk dalam klasifikasi idiophone atau berasal dari getaran inti. Alat musik idiophone umumnya dimainkan dengan cara dipukul. Beberapa contoh alat musik yang masuk klasifikasi ini adalah gong, kastanyet, bonang, angklung, saron, dan gender.

Klasifikasi terbanyak kedua adalah aerophone dengan 55 alat musik. Sumber bunyi alat musik aerophone berasal dari getaran udara dalam tabung. Oleh karenanya, alat musik ini umumnya ditiup. Beberapa contohnya adalah terompet, suling, flute, rekorder, trombon, harmonika, pianika, dan akordeon.

Selanjutnya adalah chordophone dengan 48 alat musik. Sumber bunyi chordophone berasal dari seutas tali yang lazim disebut dawai atau senar. Cara memainkannya beragam, bisa dipetik, digesek, dan juga dipukul. Contoh-contohnya adalah harpa, lute, mandolin, gitar, ukulele, banji, celo, dan piano.

Dan klasifikasi terakhir adalah membranophone dengan 46 alat musik. Sesuai dengan namanya, sumber bunyi alat musik ini berasal dari membran atau selaput yang terdapat pada instrumen tersebut. Alat musik ini biasanya dipukul dengan jari atau alat pemukul, misalnya gendang, konga, rebana, timpani, bongo, dan bass drum.

Karena electrophone masuk dalam klasifikasi terbaru, maka tidak ada alat-alat musik tradisional yang dikategorikan dalam kelompok ini.

Alat musik tradisional menurut cara memainkan dan jenis suara.
Alat musik tradisional menurut cara memainkan dan jenis suara. | Lokadata /Beritagar.id

Jumlah yang diragukan

Kembali lagi ke Rizaldi Siagian. Drummer band rock era 70an ini berkeyakinan bahwa jumlah alat musik tradisional yang Indonesia miliki jauh dari jumlah Kemendikbud dan alatmusik.org.

Keyakinannya mendasar pada sejumlah penelitian dan pengalaman observasi ke banyak desa di Tanah Air.

Rizal memang tidak memiliki angka pasti terkait jumlah alat musik tradisional Indonesia. Namun, dirinya menegaskan bahwa klasifikasi alat musik tradisional sebenarnya tidak hanya terbatas pada empat jenis tadi.

Masing-masing klasifikasi bahkan bisa menelurkan sub-klasifikasinya yang memuat ratusan jenis alat musik.

“Metodologi yang digunakan itu seperti apa? Menurut saya lebih dari itu. Kalau kita bicara alat musik, maka ada ilmunya, organology. Dan itu sangat-sangat luas sekali,” ucap Rizal.

Lebih dari itu, menurut Rizal, dasar pengklasifikasian seharusnya tidak hanya berdasarkan pada sumber bunyi saja. Sebab, ada hal-hal lain yang lebih dari itu.

“Kalau kita bicara tentang kontekstualitas, ketika kita berkunjung ke desa-desa, kita juga akan menemukan ikatan antara pemain dengan alatnya. Ada masyarakat yang meyakini musik memiliki “kekuatan”, extra-musical,” tukasnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR