PEMBUNUHAN KIM JONG-NAM

Buka sidang dengan eksepsi, Siti Aisyah kukuh tak bersalah

Siti Aisyah, ketika dibawa keluar dari Pengadilan Tinggi Sepang, Malaysia, April 2017.
Siti Aisyah, ketika dibawa keluar dari Pengadilan Tinggi Sepang, Malaysia, April 2017. | Fazry Ismail /EPA

Kasus pembunuhan Kim Jong-nam yang dilakukan dua perempuan terdakwa mulai disidangkan di Pengadilan Tinggi Sepang, Malaysia, Senin (2/10/2017).

Salah satu perempuan terdakwa asal Serang, Indonesia, Siti Aisyah (25), memulai persidangan dengan membacakan eksepsi (keberatan) terhadap dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum (JPU).

Siti Aisyah, dalam deskripsi Strait Times (h/t AFP) mengenakan pakaian tradisional Malaysia, dengan berbahasa Indonesia menyebut dirinya tidak bersalah atas tewasnya abang tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un itu.

Eksepsi yang sama juga turut disampaikan perempuan terdakwa lainnya asal Vietnam, Doan Thi Huong (29). Dengan mengenakan jaket biru, Doan meminta penerjemahnya mengatakan di depan pengadilan bahwa dirinya hanyalah korban dalam kejadian ini.

Sebelumnya, jaksa penuntut menyebutkan kedua perempuan ini bertanggung jawab atas kematian Kim Jong-nam. Hal tersebut dikuatkan dari sejumlah bukti yang menunjukkan baik Siti Aisyah dan Doan mengusap wajah Kim Jong-nam dengan sebuah kain yang telah diolesi racun syaraf mematikan, VX.

Salah satu jaksa, Muhammad Iskandar Ahmad mengatakan tim jaksa akan membuktikan bahwa kedua perempuan ini memiliki niatan untuk menghabisi nyawa Kim Jong-nam, berikut empat tersangka lainnya yang kini menjadi buron.

Jaksa, dalam lansiran News.com.au, juga akan membuktikan bahwa Siti sebelumnya telah berlatih sebelum melakukan aksi yang kemudian "dikemas" seperti acara kelakar dalam televisi itu.

Setelah pembacaan eksepsi ini, jaksa penuntut akan mulai memanggil saksi-saksi untuk menguatkan dakwaan mereka. Tim jaksa dikabarkan akan menghadirkan 40 saksi dan 10 saksi ahli, salah satunya ahli kesehatan, untuk menguatkan bukti-bukti yang ditemukan.

Sedikitnya akan ada 153 saksi yang dihadirkan baik dari jaksa dan pengacara dua terdakwa.

Gooi Soon Seng, pengacara Aisyah yang ditunjuk oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Malaysia, mengatakan akan memanggil 10 saksi ahli untuk menguatkan eksepsi Siti Aisyah.

Namun, Gooi Soon Seng mengaku ragu seluruh saksi tersebut akan memenuhi panggilan pengadilan untuk bersaksi. Sebab, empat dari sepuluh saksi yang dihadirkan adalah warga Korea Utara yang kini menjadi buron dalam kasus yang sama.

Persidangan diperkirakan berlangsung maraton hingga dua bulan ke depan. Jika terbukti bersalah, dua perempuan ini harus menghadapi hukuman mati.

Dalih tak bersalah yang diajukan Siti Aisyah dan Doan menjadi posisi yang sulit bagi keduanya. Pasalnya, dibanding keempat buron yang lain, hanya Siti Aisyah dan Doan yang berada di tempat kejadian perkara dan terekam dalam kamera pengawas Bandara Internasional Kuala Lumpur, Malaysia, pada 13 Februari 2017.

Kim Jong-nam adalah putra tertua dari Kim Jong-il dan--entah pasangan atau istri--Shin hui. Sejak 1994 hingga sekitar 2001, Kim Jong-nam dinobatkan sebagai calon terkuat yang akan menggantikan posisi Kim Jong-il sebagai pemimpin Korea Utara.

Namun pada 2001, Kim Jong-nam kedapatan kabur menuju Jepang dengan menggunakan paspor palsu. Saat itu Kim Jong-nam mengaku hanya ingin berkunjung ke Disneyland Tokyo.

Sejak saat itu, Kim Jong-nam tidak pernah kembali ke Korea Utara dan memutuskan untuk berpindah-pindah ke banyak negara dengan menggunakan paspor diplomat Korea Utara dengan nama Kim Chol.

Kaburnya Kim Jong-nam membuat Kim Jong-un, anak kedua dari pernikahan Kim Jong-il dan Ri Sol-ju, meraih kesempatan untuk menggantikan posisi sang ayah.

Kim Jong-nam memang dipandang sebagai sosok pembangkang dalam struktur keluarga terkuat di Korea Utara itu. Dia acapkali berbicara tentang kuatnya pengaruh dinasti keluarganya atas sejumlah kebijakan Korea Utara khususnya terkait nuklir.

Di sisi lain, Korea Utara memang memiliki sejarah panjang atas perintah-perintah penghabisan sosok-sosok yang dianggap mengancam keutuhan rezim pemimpin Korea Utara.

Seorang mata-mata Korea Selatan bahkan menyebut pembunuhan atas Kim Jong-nam ini telah direncanakan sejak lima tahun silam. Meski begitu, Pyongyang kerap menolak tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan yang melibatkan banyak negara ini.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR