MENJELANG PEMILU 2019

Buka tutup profil calon anggota legislatif

Peserta mengikuti karnaval Kampanye Damai di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (23/9/2018).
Peserta mengikuti karnaval Kampanye Damai di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (23/9/2018). | Didik Suhartono /Antara Foto

Hingga Selasa (17/7/2018) pukul 00.00, KPU telah menutup pendaftaran calon legislator Indonesia untuk periode 2019-2024. Dari 16 partai politik yang bakal bertarung di tingkat nasional, komisi menjaring 7.985 calon anggota legislatif.

Profilnya sudah bisa diakses publik lewat Daftar Calon Tetap Pemilihan Anggota Legislatif 2019 di laman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dari daftar caleg tetap DPR RI yang terpampang, Lokadata Beritagar.id mengaksesnya pada 26 September 2018 lalu mengolah data profil mereka.

Sayangnya, tak semua caleg yang akan berlaga pada Pemilu 2019 itu bersedia mempublikasikan data pribadinya. Profil yang bisa diakses, alhasil hanya merujuk data caleg yang menyatakan bersedia terbuka. Sedangkan 2.954 lainnya, tertutup.

Berdasarkan rekapitulasi data caleg menurut partainya yang memilih membuka-menutup data, tak satupun caleg Partai Demokrat bersedia mempublikasikan data riwayat hidup. Sebaliknya, caleg Partai Golkar hanya satu yang menyatakan tidak bersedia mempublikasikan data pribadinya.

Di sisi lain, masih terdapat beberapa profil yang tak termasuk, karena belum dimutakhirkan di laman KPU saat data ini diolah.

Meski haknya dilindungi undang-undang, sejumlah pihak mengkritik tertutupnya riwayat hidup caleg. Lena Maryana Mukti, politisi senior Partai Persatuan Pembangunan, menyatakan, "Masyarakat butuh guidance caleg mana saja yang rekam jejaknya pantas untuk jadi anggota DPR," ucapnya, dalam laman resmi Perludem.

"Adalah hak publik untuk mengetahui rekam jejak seluruh caleg," tambahnya saat mengikuti acara "Transparansi Rekam Jejak Caleg Pemilu 2019" di Media Centre KPU, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018).

Aturan berbeda berlaku dalam hal Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN). KPU memutuskan, caleg terpilih takkan dilantik sebelum menyerahkan LHKPN ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menyerahkan buktinya ke KPU. Nasib caleg, tergantung pada penyerahan LHKPN yang selama ini sulit terwujud.

Dengan kondisi ini, perlu diingat bahwa data-data berikut hanya mengulas 4.990 profil caleg yang datanya bersedia dipublikasikan dan tersedia di situs KPU. Sebenarnya terdapat 4.991 caleg yang bersedia dipublikasikan, tetapi 1 caleg dari PPP dapil Sulawesi Tengah, laman profilnya tidak bisa diakses dengan keterangan "server KPU error".

Bermodal 4.990 data caleg tersebut, tampak caleg berusia milenial (kelahiran 1982-1999), hanya sekitar sepertujuhnya. Sebanyak 252 dari 522 caleg PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang datanya dipublikasikan, jadi yang terbesar dibanding partai lain.

Pendaftar terbanyak justru dari generasi X, yakni mereka yang lahir dalam rentang waktu 1966-1981. Jumlahnya, mencapai 2.400 orang, dibanding dari silent generations (31 caleg), baby boomers (1.487 caleg), maupun milenial (1.072 caleg).

Menurut peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Lucius Karus, banyaknya generasi X yang menjadi caleg, membawa keuntungan tersendiri. Caleg berusia sekitar 37 tahun, dianggap sebagai usia produktif.

"Jika mayoritas anggota terpilih berusia produktif, seharusnya DPR 2019-2024 akan lebih energik dalam melaksanakan tugas mereka," ucap Lucius dalam Detik.com.

Partai Golkar menjadi penyumbang caleg dengan usia 53-71 tahun. Salah satu partai tertua di Indonesia yang memiliki calon legislator generasi baby boomers terbanyak.

Untuk urusan ini, Golkar nampaknya lebih memilih para petarung politik yang sudah punya jam terbang. Mereka butuh upaya lebih keras untuk meraup suara milenial yang menurut data KPU, kini berjumlah 85 juta jiwa atau sekitar 45 persen dari Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2019.

Hal ini disadari oleh internal Partai Golkar. "Sesungguhnya partai Golkar agak berat masuk ke kelompok ini (generasi milenial). Sebab Partai Golkar ini dianggap partainya orang tua," ucap Ketua DPP Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia, dalam Merdeka.com.

Riwayat pendidikan para caleg

Dari 4.990 data profil caleg yang dipublikasikan, terdapat 354 caleg yang tidak mencantumkan latar belakang pendidikannya. Menurut data yang tersedia, tingkat strata 1 (S1) menjadi gelar akademis terbanyak dikantongi para caleg.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), terhitung sebagai partai dengan caleg berlatar pendidikan tinggi terbanyak. Dalam penelusuran tim Lokadata, partai tersebut memiliki 40 caleg dengan gelar Strata 3 (S3). Terbanyak dibandingkan dengan 15 partai lain yang bertarung ke Senayan.

Di tempat kedua, partai dengan penyumbang caleg dengan gelar S3 terbesar adalah Gerindra. Partai besutan Prabowo Subianto tersebut memiliki 35 caleg dengan gelar S3, disusul Golkar (32), Partai Amanat Nasional (23), dan PDI Perjuangan (22).

Soal pendidikan, Peraturan KPU No. 20/2018 - Pasal 7 ayat 1 butir e menyatakan bahwa caleg berpendidikan paling rendah tamat sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), madrasah aliyah kejuruan, atau sekolah lain yang sederajat.

Presentase tingkat pendidikan caleg 2019
Presentase tingkat pendidikan caleg 2019 | Lokadata /Beritagar.id

Meski syarat minimalnya SMA sederajat, masih ditemukan caleg dengan kelulusan paling rendah setingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) di laman KPU. Contohnya Nuni Harmayanti asal Partai Berkarya yang maju di Dapil Jawa Barat X, kolom pendidikan di laman KPU berstatus SMP/Sederajat.

Saat mencoba mengakses dokumen Daftar Riwayat Hidup (formulir model BB.2), pun berkasnya tak bisa diakses. Sehingga, tak ada dokumen pendukung yang bisa mengklarifikasi apakah data pendidikan dalam laman KPU benar adanya.

Caleg lainnya dari partai yang sama, atas nama Lesindaheti Marsudi yang maju di Dapil Jawa Barat VIII, juga tercatat sebagai lulusan SMP/sederajat. Namun dalam berkas dokumen profilnya, tertulis ia lulus dari SMA Sumbangsih pada 1986.

Bila menilik semua dokumen yang dibuka ke publik, dari 354 caleg yang tidak mencantumkan riwayat pendidikan, terbanyak datang dari PDI Perjuangan sejumlah 182 dari 462 caleg; lalu PPP dengan jumlah 67 caleg dari 537 caleg; kemudian PBB 30 orang dari 355 caleg yang bersedia merilis data riwayat hidupnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR