E-COMMERCE

Bukalapak dapat suntikan modal dari investor Korsel

Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky (kanan) meninjau stan warung mitra Bukalapak saat Perayaan HUT ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1/2019).
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Founder dan CEO Bukalapak Achmad Zaky (kanan) meninjau stan warung mitra Bukalapak saat Perayaan HUT ke-9 Bukalapak di Jakarta, Kamis (10/1/2019). | Puspa Perwitasari /Antara Foto

Perusahaan e-commerce lokal, Bukalapak dikabarkan telah menerima modal baru dari Shinhan Financial Group Co Ltd asal Korea Selatan. Dengan putaran pendanaan baru ini, valuasi Bukalapak disebut kini menjadi AS$2,5 miliar atau Rp35 triliun lebih.

Dalam keterangan resminya, Bukalapak tidak mengungkapkan berapa nilai investasi yang akan diterimanya melalui unit perbankan investasi Shinhan GIB. Adapun Shinhan Financial Group adalah grup modal No.1 di Korea dengan total aset AS$413 milIar dan kapitalisasi pasar AS$19 milIar.

Sebelumnya Bukalapak berhasil mengumpulkan dana senilai AS$50 juta dalam putaran penggalangan dana pada Januari dari perusahaan Korea Selatan yang dipimpin oleh Mirae Asset Daewoo Co Ltd dan portal internet Naver Corp.

Dalam kesempatan wawancara, Kamis (12/9/2019), Chief Strategy Officer (CSO) Bukalapak Teddy Oetomo menjelaskan fokus bisnis Bukalapak dalam jangka pendek adalah meningkatkan pendapatan, meningkatkan efisiensi biaya, dan menjaga inovasi agar lebih terukur serta terarah.

Ia mengatakan perusahaan juga tidak menutup kemungkinan hadirnya investor baru di Bukalapak. Namun perusahaan memiliki kriteria sendiri bagi investor yang ingin ikut menanamkan modalnya di Bukalapak. Satu di antaranya adalah memiliki visi yang sama dengan perusahaan pimpinan Achmad Zaky tersebut.

"Kita saat ini punya capital cukup, sesuai rencana. Tapi industri ini sangat dinamis, kita tidak tahu sewaktu-waktu kita butuh dana. Tapi yang perlu dicatat, kita akan lebih selektif terhadap investor yang ingin masuk. Kalau investor mau masuk tapi tidak punya visi yang sama buat apa," ujar Teddy dikutip Jumat (4/10).

Dalam jangka menengah Bukalapak menargetkan menjadi startup tanah air pertama di Indonesia yang mencatatkan profit dan mencapai titik impas. Salah satu langkah yang diambil perusahaan adalah dengan melakukan efisiensi pengurangan karyawan dari berbagai divisi seperti yang dilakukan bulan lalu.

"Bukalapak ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih BEP atau bahkan keuntungan dalam waktu dekat. Hingga saat ini, Bukalapak sudah memiliki modal yang cukup dari para pemegang saham untuk meraih EBITDA positif, tentunya apabila semua rencana dan program berjalan lancar tanpa halangan," tulis Bukalapak dalam keterangan resminya.

Manajemen mengklaim laba kotor Bukalapak di pertengahan 2019 juga naik tiga kali lipat dibandingkan pertengahan 2018. Mereka juga berhasil mengurangi setengah kerugian dari pendapatan sebelum beban bunga, pajak dan depresiasi (EBITDA) selama delapan bulan terakhir ini.

Dalam satu tahun Gross Merchandise Value (GMV) Bukalapak telah mencapai AS$5 miliar. GMV adalah total nilai penjualan seluruh barang di platform e-commerce selama kurun waktu tertentu. Pengukuran GMV dilakukan untuk mengetahui apa yang disukai konsumen dalam marketplace.

Meski didirikan oleh orang Indonesia, Bukalapak tak sepenuhnya didukung oleh pemain lokal. Pada 13 Februari 2014, investor 500 Startups masuk walau tidak dibeberkan berapa injeksi pendanaan seri A yang diberikan.

500 Startups merupakan perusahaan modal ventura yang bermarkas di San Francisco, AS. Pendanaan yang masuk seri A lainnya adalah GREE Ventures, IREP, dan aucfan Co.Ltd.

Pada pendanaan seri B, masuklah Emtek (Elang Mahkota). Sang pemilik stasiun televisi SCTV ini masuk Bukalapak sebagai Lead Investor lewat KMK Online pada Februari 2015 yang juga bersamaan dengan 500 Startups. Adapun investor lain Bukalapak adalah GIC Pte Ltd Singapura dan Ant Financial China.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR