E-COMMERCE

Bukalapak efisiensi karyawan, diduga akibat perang promo

Karyawan menunjukkan fitur pembelian tiket Kereta Api (KA) Bandara pada aplikasi Bukalapak dengan menggunakan gawai saat perjalanan dari Stasiun BNI City menuju ke Stasiun Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, Rabu (28/8/2019).
Karyawan menunjukkan fitur pembelian tiket Kereta Api (KA) Bandara pada aplikasi Bukalapak dengan menggunakan gawai saat perjalanan dari Stasiun BNI City menuju ke Stasiun Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta, Rabu (28/8/2019). | Aprillio Akbar /Antara Foto

Kabar kurang sedap tersiar awal pekan ini dari salah satu perusahaan unicorn lokal, Bukalapak. Marketplace pimpinan Achmad Zaky itu disebut telah merumahkan sejumlah pegawainya dalam rangka efisiensi.

Ada beberapa posisi yang menjadi sasaran pemangkasan. Divisi seperti engineer, marketing, dan costumer service dikabarkan menjadi "korban" dari dugaan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Bukalapak tersebut.

Selain berbagai divisi yang mengalami perampingan, Bukalapak pun dikabarkan menutup kantornya yang berada di Medan dan Surabaya.

Menanggapi kabar PHK itu, Chief of Strategy Officer of Bukalapak Teddy Oetomo buka suara. Dalam laman blog Bukalapak, Selasa (10/9/2019), ia mengatakan penataan diri di dalam suatu perusahaan menjadi kewajiban yang harus dilakukan untuk mengikuti dinamika perkembangan teknologi yang pesat.

Bukalapak menargetkan menjadi perusahaan e-commerce yang menghasilkan keuntungan berkelanjutan, walaupun pertumbuhan Gross Merchant Value (GMV) adalah indikator yang penting bagi semua e-commerce.

"Kami perlu melakukan penyelarasan secara internal untuk menerapkan strategi bisnis jangka panjang kami, melakukan penataan yang diperlukan, serta menentukan arah selanjutnya," ucap Teddy.

Bukalapak merupakan unicorn Indonesia yang keempat. Unicorn adalah istilah untuk startup digital yang sudah memiliki kapitalisasi pasar minimal AS $1 miliar.

Namun setelah berdiri hampir satu dekade, Bukalapak belum mencapai titik impas (break even point/BEP). Bukalapak diketahui masih berada di bawah garis keseimbangan yang diduga menjadi latar belakang perusahaan harus melakukan efisiensi.

"Kami ingin menjadi e-commerce unicorn pertama yang meraih keuntungan, dan dengan pencapaian performa bisnis yang baik dan modal yang cukup, kami menargetkan untuk dapat mencapai break even bahkan keuntungan dalam waktu dekat," ujarnya.

Dalam ilmu ekonomi akuntansi dan bisnis, pengertian BEP adalah suatu titik tertentu saat pengeluaran atau biaya dan pendapatan berada di posisi yang seimbang sehingga tidak terdapat kerugian atau keuntungan.

Tidak ada yang bisa diketahui bagaimana kondisi keuangan Bukalapak secara rinci, mengingat perusahaan ini bukanlah perusahaan publik yang wajib membuka laporan keuangannya secara berkala.

Tapi Teddy menyebut pada pertengahan tahun ini, laba kotor (gross profit) Bukalapak mampu meraup naik tiga kali lipat dibandingkan pertengahan 2018. Bukalapak juga berhasil mengurangi setengah kerugian dari pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) selama delapan bulan terakhir ini.

Dalam wawancara dengan Bloomberg, Co-Founder dan President Bukalapak M. Fajrin Rasyid mengungkapkan bahwa GMV bulanan perusahaan mencapai Rp4 triliun (AS $270 juta) per bulan atau Annualized GMV mencapai Rp48 triliun (sekitar AS $3,2 miliar).

Promo yang membakar duit

Adanya PHK di Bukalapak ini disebut-sebut karena persaingan yang kian ketat di industri e-commerce. Langkah untuk mengurangi jumlah pegawai agar lebih efisien disebut sebagai hal wajar.

Ketua umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung mengatakan, pada dasarnya e-commerce harus bisa menyeimbangkan strategi jangka panjang dan pendek agar bisa bertahan.

E-commerce, kata Untung, juga harus bijaksana dalam mengalokasikan dana yang dimiliki. Salah satunya ialah kebiasaan untuk bakar uang dan memberikan aneka promo.

Menurut Untung, kebiasaan bakar uang tersebut memang membuat e-commerce menjadi lebih kompetitif. Cuma, bila pengelolaannya tak hati-hati justru bisa membuat perusahaan merugi.

"Walaupun sejujurnya memang nggak mudah, terutama karena bakar uangnya juga sudah dilakukan beramai-ramai. Kalau nggak ikutan ya memang jadi kurang kompetitif," katanya kepada Beritagar.id.

Di Indonesia, banjir promo kerap digunakan sejumlah marketplace untuk menarik pembeli. Mulai dari promo bebas ongkos kirim, hingga potongan harga atau cash back. Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) kerap menjadi momen berbagai e-commerce melakukan perang promo.

Selain Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada, Blibli, dan e-commerce lainnya kerap menawarkan promo potongan harga.

Menurut data iPrice, layanan pembanding e-commerce, Tokopedia adalah toko online di Indonesia yang paling disering dikunjungi pembeli. Data pada kuartal 2 2019 menunjukkan, tiap bulan Tokopedia dikunjungi sebanyak 140 juta kali.

Angka ini melampaui para pesaingnya. Shopee, pesaing terdekatnya, memiliki angka kunjungan per bulan "hanya" sekitar 90 juta kali. Peringkat ketiga adalah Bukalapak dengan 89 juta kunjungan.

Strategi bakar uang memang menjadi senjata utama e-commerce untuk menarik pembeli. Masyarakat Indonesia dimanjakan oleh diskon. Namun di sisi lain, e-commerce harus menanggung tambahan beban karena menanggung risiko diskon yang diberikan.

Biasanya untuk menutup beban atau memberikan diskon pada pembeli e-commerce sangat mengandalkan suntikan dana dari investor.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR