IMPOR JAGUNG

Bulog akan serap jagung kering saat harga jatuh

Pekerja mengemas jagung yang akan didistribusikan ke peternak di Gudang Bulog, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/1/2019).
Pekerja mengemas jagung yang akan didistribusikan ke peternak di Gudang Bulog, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (24/1/2019). | Zabur Karuru /AntaraFoto

Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) mengaku siap melakukan penyerapan jagung produksi petani dalam jumlah sebanyak-banyaknya. Langkah ini diambil demi menstabilkan harga jagung yang jatuh akibat panen raya pada Februari hingga April mendatang.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 58 Tahun 2018, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk jagung adalah Rp3.150 per kilogram (kg). Jika nanti harga jual berada di bawah itu, maka Bulog akan tetap membeli sesuai dengan HPP-nya.

Sebaliknya, jika harga jual saat panen raya di atas HPP, maka Bulog tidak akan melakukan intervensi dengan membeli jagung dari petani.

“Kalau harga bagus di tingkat petani ya sudah biar saja, toh yang butuh kan peternak ayam,” sebut Buwas, sapaan akrab Budi Waseso, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (24/1/2019).

Terkait rencana penyerapan jagung dari petani lokal, saat ini Bulog bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) tengah memetakan daerah-daerah di Indonesia yang akan menjadi pusat panen jagung, salah satunya di Garut, Jawa Barat.

Buwas belum dapat menyebut berapa banyak jagung yang akan diserap Bulog, begitu pula dengan prediksi jumlah produksi jagung pada masa panen, bulan depan.

“Umpamanya begini, Garut produksi sekian, kebutuhannya berapa banyak? Kalau di sana kelebihan, kita ambil untuk kemudian disuplai ke wilayah lain yang defisit. Begitu juga di daerah lain,” sambungnya.

Selain untuk produksi dan estimasi kebutuhan jagung, pemetaan yang dilakukan Bulog dan BPS juga akan dimanfaatkan sebagai jalur distribusi ketika 30.000 jagung impor dari Amerika Latin tiba di Indonesia.

Untuk diketahui, Kementerian Perdagangan telah merilis persetujuan impor (PI) tambahan jagung kering untuk pakan ternak sebanyak 30.000 ton dari Amerika Latin. Tenggat waktu impor itu sampai Februari 2019.

Keputusan impor diambil dalam rapat koordinasi yang dipimpin Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Rabu (23/1/2019). Dalam rapat itu ditemukan fakta bahwa belum seluruh peternak ayam petelur di Blitar, Jawa Timur, yang belum menerima distribusi impor jagung tahap sebelumnya, yakni sebanyak 99.000 ton.

Buwas mengakui bahwa dirinya telah menerima surat persetujuan impor (SPI) tersebut. Namun, pihaknya tak ingin buru-buru dalam merealisasikan impor tersebut, apalagi dalam waktu dekat musim panen akan tiba.

“Kita lihat dulu perkembangannya. Sebetulnya yang dibutuhkan peternak real-nya berapa? Jangan sampai kita berlebihan. Kedua, waktu kami impor jangan sampai bertepatan dengan panen,” sambungnya.

Oleh karenya, pihaknya bakal mengebut kajian produksi dan kebutuhan jagung untuk pakan ternak di seluruh wilayah. Jika mulus, Buwas menargetkan impor bisa masuk sebelum Februari 2019.

Pada kesempatan yang sama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan keputusan impor dikeluarkan karena melihat dinamika harga jagung untuk pakan ternak yang masih tinggi.

"Apa yang terjadi? Impor sudah ada (99 ribu ton), kok belum turun (harga) seperti yang diharapkan? Ada memang turunnya, tapi kecil. Harga di peternak masih Rp7.000-an, padahal kita impor itu," sebut Darmin.

Ia mengutip pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menyebut produksi jagung tahun ini diperkirakan 1,6 juta ton. Berbekal situasi yang ada, Darmin telah menugaskan Kementerian BUMN--selaku induk Bulog--mengecek situasi di lapangan.

Berdasarkan data BPS dan Kementerian Pertanian, volume impor jagung per September tahun 2018 mencapai 477 ribu ton. Sementara, volume produksi per September sebesar 30,1 juta ton.

Volume produksi ini merupakan data perkiraan dari Kementerian Pertanian dengan merujuk pada kondisi lima tahun sebelumnya, yakni produksi jagung nasional yang meningkat sekitar 12,49 persen per tahun, penambahan luas lahan panen 11 persen, serta produktivitas yang naik 1,42 persen.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR