PERANG DAGANG

Bumerang tarif Trump untuk Tiongkok bagi AS

Tampak atas Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok, 30 April 2018.
Tampak atas Pelabuhan Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok, 30 April 2018. | Wu Hong /EPA-EFE

Banyak yang mengira hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok akan membaik pasca-pertemuan Donald Trump dengan Kim Jong-un, sejawat Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Suasana hati Trump usai bertemu Kim, 12 Juni 2018, di Singapura, tampak membaik. Bahkan, Presiden AS itu sempat berujar akan menghubungi Jinping.

"Tiongkok adalah negara hebat, dengan pemimpin yang hebat juga," begitu ucapnya saat itu.

Tak sampai sepekan, Trump ternyata berubah arah. Dirinya pun kembali menghidupkan ketegangan dengan negara ekonomi terbesar kedua itu melalui pemberlakuan tarif impor sebesar 25 persen untuk 1.102 produk asal Tiongkok yang nilai perdagangan tahunannya setara US $50 miliar (sekitar Rp703,61 triliun).

Tarif akan mulai berlaku 6 Juli 2018. Penerapan awal akan menyasar pada sekitar 800 produk dengan nilai perdagangan setara US $34 miliar (sekitar Rp478,45 triliun).

Sementara US $16 miliar (sekitar Rp255,15 triliun) akan menyusul setelah hasil pengkajian rampung dilakukan pejabat Gedung Putih, demikian kutip rilis resmi Kementerian Perdagangan, Jumat (15/6/2018) pagi waktu AS.

Trump mengatakan penerapan tarif ini penting untuk menghalau transaksi perdagangan yang tidak adil oleh Tiongkok, melalui praktik-praktik pencurian hak intelektual properti.

Selain itu, langkah ini diyakininya bisa melindungi ketersediaan lapangan pekerjaan di AS.

"Hubungan baikku dengan XI Jinping dan hubungan baik antara AS dan Tiongkok sangatlah penting bagiku..Namun, kerja sama perdagangan antara negara kita dengan mereka telah berjalan dengan tidak adil," sambung Trump.

Sebagian besar produk Tiongkok yang dikenakan tarif oleh AS masuk dalam lis "Buatan Tiongkok 2025" inisiatif, sebuah rencana ambisius untuk meningkatkan sektor manufaktur dan basis teknologi di Negeri Panda itu.

Banyak yang menganggap rencana itu mengancam bisnis AS pada masa mendatang.

Tiongkok, di sisi lain, langsung merespons dengan perlakuan sama. Kementerian Perdagangan Tiongkok mengancam akan memberlakukan tarif serupa untuk produk-produk AS dengan total nilai perdagangan setara, US $50 miliar.

Pemberlakuan tarif juga akan berlaku dua tahap, pertama untuk produk-produk senilai total US $34 miliar yang meliputi produk pertanian, otomotif, dan perikanan. Tarif itu juga akan dimulai 6 Juli 2018.

Tahap kedua bakal menyasar industri peralatan medis, bahan kimia dan produk energi. Tenggat waktu pemberlakuan menyusul.

Perang dagang ini semakin panas manakala AS mengancam akan menambah tarif untuk produk lainnya jika Tiongkok jadi memberlakukan tarifnya.

"Tiongkok sebenarnya tak ingin terlibat dalam perang dagang ini, namun tindakan picik AS ini memaksa Tiongkok untuk mengambil sikap lebih tegas," sebut Menteri Perdagangan Tiongkok dalam pernyataan yang dikutip South China Morning Post, beberapa jam setelah pernyataan Trump.

Ketegangan menular

Banyak pengamat ekonomi yang berpendapat penerapan tarif ini justru akan menyakiti bisnis dalam negeri AS, utamanya pada perusahaan-perusahaan yang mengandalkan onderdil dari Tiongkok.

Sejumlah petani AS juga ketakutan dengan langkah balasan yang diambil Tiongkok. Apalagi, Tiongkok berencana membatalkan perjanjian pembelian produk pertanian dan energi AS dengan nilai setara US $70 miliar (sekitar Rp985 triliun).

Produk Domestik Bruto (PDB) AS juga diprediksi akan tercederai sekitar 0,5 persen akibat pemberlakuan tarif ini.

Dana Moneter Internasional sudah mengeluarkan peringatan bahwa perselisihan dua negara ini hanya bukan hanya menyakiti pelaku bisnis saja, melainkan juga kepercayaan konsumen.

"Hanya kekalahan yang akan didapat dua negara," sebut Direktur IMF, Chistine Lagarde, dalam The Independent.

Teresa Barger, pendiri dan CEO Cartica Management dalam CNBC menganalisis, langkah agresif Trump ini hanya akan merugikan AS.

Pasalnya, dari seluruh US $2 triliun perdagangan Tiongkok per tahunnya, hanya sekitar seperempatnya saja yang masuk ke AS, sementara sisanya mengincar negara-negara berkembang di Asia Tenggara dan India.

Sebaliknya, bagi AS, Tiongkok adalah mitra dagang terbesar dan terloyal dibandingkan negara yang lain. Apalagi Tiongkok selama ini membuat kontribusi yang signifikan di negara-negara Latin Amerika melalui pendanaan pemerintah dan proyek infrastruktur swasta.

Pasca-pengumuman tarif, pasar saham di Eropa dan Amerika Serikat bereaksi negatif. Investor mengkhawatirkan perang dagang akan benar terjadi.

Bursa Dow Jones jatuh lebih dari 280 poin pada pertengahan perdagangan Jumat (15/6/2018). Pada penutupan hari yang sama, Dow hanya mampu menaikkan 85 poin dari kejatuhannya.

Sejumlah saham milik perusahaan multinasional, seperti Apple (AAPL), Boeing (BA), Caterpillar (CAT), dan Intel (INTC) juga terjun bebas.

Kinerja serupa juga menghantam S&P 500 dan Nasdaq.

Dua sisi bagi Indonesia

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, sudah pernah berujar, dampak dari perang dagang AS-Tiongkok akan beragam bagi Indonesia.

"Sebetulnya tidak usah jadi pusing, biarkan saja, karena itu kan lanjutan kebijakan yang lalu. Jadi ya kalau dampak tidak selalu negatif, ada saja positifnya," kata dia.

Bagi konsumen ini mungkin menguntungkan. Sebab, ada kemungkinan impor barang konsumsi Tiongkok yang dilarang AS akan menyerbu Indonesia. Sehingga harga barang menjadi lebih cukup murah.

Namun, bagi produsen, arus barang impor tentu membuat produsen dalam negeri ketar-ketir karena khawatir daya saingnya berkurang. Jika arus impor barang dari Tiongkok masuk ke Indonesia, neraca perdagangan Indonesia dengan negeri asal Xiaomi itu akan makin defisit.

Untuk diketahui, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Lokadata Beritagar.id menunjukkan, perdagangan Indonesia tak selalu bergantung pada Tiongkok dan AS.

Dengan Tiongkok, perdagangan Indonesia selalu mengalami defisit sejak 2008 hingga 2017. Padahal, Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia.

Gambaran berbeda terjadi pada hubungan dagang Indonesia dengan AS. Sejak 2012, Indonesia selalu mencatatkan surplus perdagangan dengan negara pengekspor barang konsumen terbesar itu. AS hanya berbeda satu posisi di bawah Jepang ketika berbicara tentang surplus dagang Indonesia.

Neraca perdagangan Indonesia di regional
Neraca perdagangan Indonesia di regional | Lokadata /Beritagar.id
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR