Bunuh diri Indra dan sisi gelap siaran langsung Facebook

Ilustrasi - bunuh diri. Seorang pria bernama Indra, menyiarkan langsung peristiwa bunuh dirinya melalui Facebook, Jumat (17/3).
Ilustrasi - bunuh diri. Seorang pria bernama Indra, menyiarkan langsung peristiwa bunuh dirinya melalui Facebook, Jumat (17/3).
© BYKST/CC O, public domain /Pixabay

Pahinggar Indrawan alias Indra (35) telah menjemput jalan kematian. Lewat Facebook, ia mengirim video pengakuan dan menyiarkan langsung peristiwa bunuh dirinya.

Dalam video pengakuannya, pria itu mengeluh sakit hati karena ditinggal istri yang telah dinikahinya selama 17 tahun. Ia pun bilang, video siaran langsung itu sengaja dibuat sebagai "kenang-kenangan" untuk istrinya.

Rekaman itu juga sempat memberi sinyal perihal keraguan Indra soal jalan kematian yang hendak diambilnya. Struktur perkataannya acak, boleh jadi karena kalut bercampur ragu.

"Kita lihat ajalah gua berani atau gak. Kalaupun gua berani ngelakuin hal yang sebenarnya gue gak berani kita lihat aja."

Selanjutnya, nyaris dua jam, peristiwa bunuh diri itu tersiar langsung lewat fitur Facebook Live.

Siaran itu dimulai sekitar pukul 10.00 WIB, Jumat (17/3). Adapun jasad Indra akhirnya ditemukan tergantung tali tambang oleh anaknya dan warga setempat di rumahnya, bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan, sekitar pukul 13.00 WIB.

Video bunuh diri Indra tercatat sudah dilihat ratusan ribu kali, sebelum Facebook menghapusnya pada Jumat malam (17/3). Meski sudah dihapus, potongan rekaman tersebut telanjur menyebar dengan berbagai versi durasi lewat media sosial--Facebook, YouTube, WhatsApp, dan lain-lain.

Kepala Biro Humas Kemenkominfo, Noor Iza, mengklaim bahwa pihaknya yang meminta kepada Facebook agar video tersebut dihapus.

Adapun kepolisian menyebut aksi bunuh diri itu dipicu kecemburuan Indra kepada istrinya. Konon pula, Indra dan istrinya sempat bertikai sebelum peristiwa bunuh diri terjadi.

Sisi gelap Facebook Live

Kematian Indra seolah membuka sisi gelap Facebook Live. Terlebih, ini bukan peristiwa bunuh diri pertama yang tersiar lewat Facebook Live.

Paling tidak, kejadian serupa terjadi pada akhir Januari 2017, di Miami, Amerika Serikat. Lebih dari dua jam lamanya, remaja putri berusia 14, Naika Venant bersiaran langsung lewat Facebook, yang berujung pada aksi gantung diri di kamar mandi.

Pengujung Desember 2016, aksi nan mirip terjadi di Georgia, AS. Adalah Katelyn Nichole Davis, seorang dara 12 tahun yang memilih jalan kematian, dengan "melukai dirinya sendiri".

Bedanya, rekaman bunuh diri berdurasi sekitar 40 menit itu mulanya tersiar lewat Live.me--layanan siaran langsung yang tengah populer di kalangan remaja AS. Belakangan, video itu menyebar lewat Facebook. Mashable pun menyebut Facebook sebagai "distributor paling kuat" dalam penyebarannya.

Celakanya, sejauh ini, Facebook tampak kelimpungan dalam membatasi konten-konten bernuansa kekerasan macam ini.

Sejak Facebook Live diluncurkan (April 2016), raksasa teknologi itu seolah bingung menentukan: kapan atau bagaimana menyensor siaran langsung yang memuat kekerasan.

Tak lama setelah Facebook Live diluncurkan, dalam wawancara dengan BuzzFeed (6 April 2016), Mark Zuckerberg pun sudah menyadari kelemahan ini. "Karena ini siaran langsung, tidak ada cara untuk melakukan kurasi," kata Direktur Eksekutif Facebook itu.

Merujuk hitungan The Wall Street Journal (h/t The Weekend Australian, 8 Maret 2017), Facebook Live telah menyiarkan sedikitnya 50 tindak kekerasan, termasuk pembunuhan, bunuh diri, dan pemukulan terhadap remaja berkebutuhan khusus di Chicago, AS (Januari 2017).

Belakangan, Facebook berusaha menambal kelemahan ini--persisnya pada 1 Maret 2017 atau nyaris setahun setelah fitur siaran langsung ini tersedia. Layanan dengan 1,8 miliar pengguna aktif bulanan itu mencoba memberdayakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk melakukan deteksi dini atas aksi bunuh diri.

Jurnalis senior Mashable, Lance Ulanoff menulis, teknologi kecerdasan buatan itu akan mendeteksi kata-kata dalam sebuah kiriman dan komentar dari para pengguna, untuk mengindikasikan seseorang yang sedang "berjuang" (baca: menyakiti diri sendiri atau bunuh diri).

Kata-kata yang akan dideteksi, misalnya yang memuat kekhawatiran atau dukungan: "Apakah kamu baik-baik saja?" atau "Kamu tidak sendirian, kami bersamamu".

Facebook juga punya layanan 24 jam di seluruh dunia, guna menerima laporan dan menindaklanjuti kasus macam ini. Model pelaporan itu sebenarnya telah tersedia jauh hari, dan kini diharapkan bisa saling melengkapi dengan teknologi kecerdasan buatan.

Manajer Produk Facebook, Vanessa Callison-Burch, mengklaim model ini lebih akurat dalam mendeteksi percobaan bunuh diri. "Kecerdasan buatan, sebenarnya lebih akurat dibandingkan dengan laporan yang kami dapatkan dari orang-orang yang menandai (video) sebagai (adegan) bunuh diri dan menyakiti diri sendiri," katanya.

Rasa-rasanya, efektifitas usaha itu belum bisa diukur. Pun, model ini masih dalam tahap uji coba untuk wilayah terbatas.

Satu hal yang pasti, belum sampai tiga pekan uji coba teknologi kecerdasan buatan itu diluncurkan, peristiwa celaka kembali terulang.

Jauh dari negeri Paman Sam--negeri asal Facebook--Indra menyiarkan langsung aksi bunuh diri dari rumahnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia.

x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.