KERUSAKAN LINGKUNGAN

Burung migran dan ancaman sampah plastik di Danau Limboto

Tumpukan sampah yang berasal dari limbah masyarakat tampak menumpuk di area Danau Limboto, Desa Lupoyo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.
Tumpukan sampah yang berasal dari limbah masyarakat tampak menumpuk di area Danau Limboto, Desa Lupoyo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. | Franco Dengo /Beritagar.id

Indonesia merupakan negara yang menjadi lintasan utama dan tujuan akhir berbagai jenis burung migrasi, atau yang sering disebut dengan burung migran (migratory bird). Dan Gorontalo adalah salah satu wilayah yang menjadi tempat persinggahan burung-burung migran tersebut.

Namun, dewasa ini, banyak hal yang mengancam habitat tempat bernaung burung-burung yang datang dari berbagai belahan dunia ini. Masalah terbesarnya adalah sampah plastik.

Dilatarbelakangi persoalan itu, Biodiversitas Gorontalo (Biota), sebuah organisasi yang menaruh perhatian pada perlindungan keanekaragaman hayati, menggelar perayaan World Migratory Bird Day (WMBD) atau Hari Burung Migran Sedunia, di Desa Timuato, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, pada awal Mei lalu.

Seiring dengan perayaan itu. Biota juga melakukan diskusi publik dengan mengangkat tema "Polusi dan solusi sampah plastik di Danau Limboto".

"Kami ingin kampanye ke masyarakat mengenai bahaya sampah plastik yang bertebaran di danau ini. Tahun ini perayaan WMBD digelar dua kali, Mei dan Oktober 2019. Sebetulnya, dirayakan 11 Mei, tapi kami membuat lebih awal, 4 Mei 2019,” kata Debby Hariyanti Mano, Direktur Perkumpulan Biota Gorontalo, kepada Beritagar.id.

Jika melihat secara spesifik, Gorontalo berada di jalur East Asia Australia Fly Way atau lintasan terbang Asia Timur-Australia. Hal ini membuat burung migran banyak singgah ke Gorontalo. Salah satu wilayahnya Danau Limboto, namun ancaman sampah plastik harus dihadapi burung-burung pendatang ini.

Habitat kritis

Sejumlah warga melihat pameran foto burung migran, Danau Limboto dan pengolahan sampah plastik oleh Biodiversitas Gorontalo (BIOTA) pada peringatan World Migratory Birds Day di Timuato, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Sabtu (4/5/2019).
Sejumlah warga melihat pameran foto burung migran, Danau Limboto dan pengolahan sampah plastik oleh Biodiversitas Gorontalo (BIOTA) pada peringatan World Migratory Birds Day di Timuato, Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Sabtu (4/5/2019). | Adiwinata Solihin /Antara Foto

Danau Limboto merupakan bagian dari habitat utama burung migran di Gorontalo. Dari data yang dimiliki Biota, sesuai pengamatan mereka dalam kurun waktu 2014-2018, ada sekitar 94 spesies burung migran yang pernah singgah maupun menetap di danau itu.

Jumlah tersebut terancam berkurang melihat kondisi salah satu danau tertua di Indonesia ini mulai rusak. Dari 15 kawasan danau kritis nasional yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup, Limboto merupakan satu di antaranya.

Makin hari, danau ini makin dangkal. Saking dangkalnya, ada yang meramal pada 2025 atau 2030 danau ini bakal hilang.

Prediksi-prediksi tersebut bukan tanpa sebab. Tercatat, pada 1950an, kedalaman danau rata-rata masih berkisar 27 meter. Namun saat ini diperkirakan tinggal 7-10 meter. Bahkan data terbaru, dari Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Provinsi Gorontalo, kedalaman Danau Limboto sekarang tidak lebih dari 2 meter.

Kondisi ini disebabkan oleh banyak faktor. Ada 127 daerah aliran sungai (DAS) kondisinya kritis. Erosi aliran sungai itu berakibat terjadinya sedimentasi di Danau Limboto.

Seorang warga memancing di Danau Limboto yang mulai tertutup eceng gondok di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Rabu (27/03/2019). Danau Limboto ditetapkan menjadi salah satu dari 15 danau kritis di Indonesia yang menjadi prioritas nasional untuk ditangani secara terpadu oleh pemerintah pusat dan daerah.
Seorang warga memancing di Danau Limboto yang mulai tertutup eceng gondok di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Rabu (27/03/2019). Danau Limboto ditetapkan menjadi salah satu dari 15 danau kritis di Indonesia yang menjadi prioritas nasional untuk ditangani secara terpadu oleh pemerintah pusat dan daerah. | Adiwinata Solihin /Antara Foto

Selain itu, eceng gondok yang menyebar di danau itu juga dianggap sebagai momok. Mengutip Invasive Species Database, eceng gondok bisa meningkatkan penguapan air dan menurunkan jumlah cahaya dalam perairan.

Kondisi itu diperparah oleh kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan. Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Gorontalo, pada tahun 2018 memperkirakan timbunan sampah di Gorontalo mencapai 520,709 ton per hari, atau 190.508,79 ton per tahun.

Penyumbang jumlah sampah terbesar ialah Kabupaten Gorontalo (28,20 persen), termasuk Danau Limboto didalamnya.

Sebanyak 65 persen dari jumlah sampah yang ada di Gorontalo adalah sampah organik yang mudah terurai. Sedangkan sisanya adalah sampah non-organik yang sulit terurai.

Ahli sosiologi dari Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, mengatakan selama ini sudah banyak yang berkabung dengan kondisi Danau Limboto.

“Orang-orang tahu Danau Limboto makin ke sini makin dangkal. Tapi apa yang kita lakukan untuk menyelamatkannya? Jangan-jangan niat kita yang dangkal,” ujarnya kepada Beritagar.id, Jumat (14/12/2018).

Danau Limboto adalah “pertaruhan” bagi masa depan Gorontalo. Ia akan terus menguji semua kadar keilmuan, kapasitas manajerial, peran negara, advokasi masyarakat dan media, serta komitmen kepemimpinan dan ketokohan di Gorontalo.

Semua pihak atau sektor haruslah ditagih janji-janjinya untuk danau. Jika tidak begitu, danau ini benar-benar akan punah, beserta dengan dampak lingkungan, sosial dan keanekaragaman hayati yang di dalamnya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR