TRANSPORTASI MASSAL

Butuh 43 tahun untuk merasai MRT dan LRT

LRT fase 1 dinilai tanggung. Pendek dan kurang bermakna. Tapi kenyataannya, Jakarta butuh 43 tahun untuk punya MRT dan LRT.
LRT fase 1 dinilai tanggung. Pendek dan kurang bermakna. Tapi kenyataannya, Jakarta butuh 43 tahun untuk punya MRT dan LRT. | Antyo® /Beritagar.id

Hari ini (13/6/2019) adalah hari ketiga uji coba publik, secara gratis, untuk light train transit (LRT) fase 1 di Jakarta. Uji coba sepanjang 5,8 kilometer itu berlangsung selama 11-21 Juni. Tersedia kesempatan untuk 5.000 pendaftar secara daring.

Memang ada kritik, percuma jika nanti setelah beroperasi LRT Kelapa Gading - Rawamangun tak segera tersambung dengan jurusan lain. Jarak 5,8 km terlalu pendek. Bandingkan dengan mass rapid transit (MRT) Lebakbulus - Bundaran HI yang 16 km dan Transjakarta Blok M - Kota yang 13 km.

Menurut Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, "Kalau cuma enam kilometer tak ada maknanya, tak banyak bermanfaat." (→ BBC Indonesia)

Menambah jaringan aneka transportasi massal dan mengintegrasikannya memang butuh waktu. Di jalur rel saja, jika kereta rel listrik (KRL) versi baru dihitung sejak 1976 — mengabaikan rintisan dari masa sebelumnya — berarti butuh waktu 43 tahun untuk mewujudkan MRT dan LRT.

Memang sih tak berarti masa-masa lalu tak ada yang memikirkan transportasi massal untuk Jakarta Rata. Wacana bermunculan sejak 1980-an. Rintisan dimulai pada 1990-an untuk mewujudkan MRT dan monorel namun terkendala pendanaan dan kemauan politik.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR