PEMILU 2019

C1 aspal sempat ganggu Kawal Pemilu, capres 02 diuntungkan

Foto ilustrasi. Petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) merekapitulasi di tingkat kelurahan di Pendapa Kecamatan Tegal Timur, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (19/4/2019).
Foto ilustrasi. Petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) merekapitulasi di tingkat kelurahan di Pendapa Kecamatan Tegal Timur, Tegal, Jawa Tengah, Jumat (19/4/2019). | Oky Lukmansyah /Antara Foto

Kelompok independen Kawal Pemilu mendapat gangguan dalam kegiatannya melakukan hitungan riil (real count) pemilihan presiden (Pilpres 2019). Meski tak banyak, mereka kemasukan formulir C1 plano yang kelihatan asli tapi datanya palsu (aspal).

"Tidak banyak, tapi ada beberapa foto C1 plano yang kelihatan asli. Tapi setelah diverifikasi jumlah pemilih justru jauh di atas angka yang tertera dalam DPT di TPS tersebut," ujar satu dari sekian orang penggagas Kawal Pemilu, Elina Ciptadi, kepada Beritagar.id, Sabtu (20/4/2019).

Setiap TPS, menurut aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU), memiliki maksimal 300 pemilih yang termuat dalam daftar pemilih tetap (DPT). Namun ada seseorang yang mengunduh (upload) data pemilih mencapai 500 orang meski DPT hanya berisi kurang dari 300 orang.

Menurut catatan; satu di antaranya yang ditemui terjadi di TPS 6 di Raci, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. "Kami punya data DPT di seluruh TPS di Indonesia, jadi kalau ada kejanggalan bisa diketahui," tukas Elina melalui telepon.

Bukti C1 plano bermasalah yang ditemui Kawal Pemilu.
Bukti C1 plano bermasalah yang ditemui Kawal Pemilu. | Kawal Pemilu

Elina tak bisa menyebut berapa jumlah C1 yang bermasalah tersebut karena saat ini sedang disisir oleh para relawan. Kejadian yang disebut isolated incident oleh Elina ini terjadi pada Jumat (19/4) malam.

Lebih lanjut Elina mengaku tidak tahu siapa dan dari mana para pengunduh C1 bermasalah itu. "Kami tidak tahu, tidak mengidentifikasi sampai sana. Yang jelas menurut para pembersih data, capres 02 diuntungkan dari insiden ini. Tidak ada untuk capres 01," tegasnya.

Akun Twitter Kawal Pemilu pun menjelaskan dalam rangkaian utasnya (thread), C1 bermasalah itu misalnya tanpa hologram. Ada pula upaya perusakan data dengan mengunggah hingga 200 foto C1 dari TPS yang sama dalam satu kesempatan. Ada pula unggahan foto non-C1 dalam jumlah banyak.

Saat ini Kawal Pemilu menyimpan seluruh data yang bermasalah itu untuk dijadikan sebagai bukti di kemudian hari. Elina mengatakan seluruh kegiatan pengunggah sebenarnya bisa diketahui karena masing-masing memiliki satu akun. Jika akun tersebut melakukan kejanggalan berkali-kali, Kawal Pemilu akan memblokir (banned).

Apakah akan menempuh jalur hukum? Elina menyatakan tidak.

"Fokus kami tidak ke situ, tapi membersihkan data dan sekarang mulai teratasi. Bagi kami yang penting adalah data bersih dan tetap independen," sergahnya.

Tidak mau terkompromi

Kawal Pemilu adalah kelompok independen yang melakukan penghitungan riil jumlah suara pilpres dari lapangan. Cara kerjanya; masyarakat memotret formulir C1 plano dari setiap TPS dan mengunggahnya ke laman Kawal Pemilu.

Berikutnya, tim relawan Kawal Pemilu akan melakukan validasi. Setelah itu tim akan memutakhirkan (update) data tabulasi di laman Kawal Pemilu.

"Kawal Pemilu tidak mau terkompromi. Jadi kami minta para relawan melakukan pembersihan data C1 bermasalah yang sudah ter-upload. Sebagian lainnya tetap melakukan digitalisasi C1 plano," kata Elina.

Saat ini, situasinya sudah kondusif. Elina menyatakan sebagian besar data dan sistem tetap aman.

Namun, insiden ini membuktikan betapa sulitnya merekrut relawan yang berintegritas. Elina menceritakan perekrutan relawan untuk dijadikan moderator, level tertinggi di Kawal Pemilu, menggunakan sistem rekomendasi agar bisa dipercaya.

"Relawan kami 25 sampai 30 ribu orang. Sebagian kecil dipercaya menjadi moderator dan sisanya menjadi relawan di lapangan untuk mengurus dokumentasi C1 plano," ungkap Elina.

Pada Pemilu 2014, relawan Kawal Pemilu cuma 700 orang. Kenaikan jumlah relawan pada 2019 dipengaruhi oleh jumlah TPS yang naik dua kali lipat.

Selain itu ada perbedaan cara kerja pula antara 2014 dan 2019. "Pada 2014, kami hanya mengunduh (download) data salinan C1 di situs KPU. Namun menurut kami, salinan C1 itu bisa bermasalah karena peluang kesalahan manusia cukup tinggi.

"Maklum, para petugas pemilihan di lapangan bekerja dalam durasi panjang. Dari pagi hingga pagi lagi. Jadi ada faktor kelelahan dalam pengisian data," kata Elina.

Itu sebabnya Kawal Pemilu memanfaatkan fenomena swafoto (selfie) anak-anak muda. "Kenapa kegiatan selfie anak-anak muda itu tidak dimanfaatkan untuk memotret C1 pula langsung di TPS. Ini data yang paling sulit untuk dipalsu," imbuh Elina.

Adapun hingga Sabtu (20/4/2019) sore pukul 15.50 WIB, data Kawal Pemilu menunjukkan calon presiden (capres) 01 Joko "Jokowi" Widodo untuk sementara unggul tipis dari capres 02 Prabowo Subianto.

Sedangkan pada laman KPU, hitungan rill pada hari ini pukul 15.45 WIB menunjukkan perolehan suara Jokowi unggul sedikit dari Prabowo. Adapun suara yang masuk dari TPS baru 4,64 persen.

Tabulasi data Pilpres 2019 versi Kawal Pemilu.
Tabulasi data Pilpres 2019 versi Kawal Pemilu. | Kawal Pemilu

Elina menegaskan bahwa data ini belum representatif, seperti juga dijelaskan oleh Kawal Pemilu, karena jumlahnya masih 5,8 juta suara. Adapun jumlah pemilih yang termuat dalam DPT adalah 190.770.329 orang.

Elina menjelaskan bahwa saling menyusul akan terjadi hingga data representatif. Karena perubahan data tabulasi akan tergantung pada unggahan yang masuk.

Bila saat ini data yang masuk paling banyak dari Jawa Tengah, tentu saja suara Jokowi juga akan meningkat drastis lantaran wilayah itu adalah kantong suaranya. Sebaliknya jika pada satu kesempatan data yang masuk dari daerah Jawa Barat atau Banten, suara Prabowo bakal melejit.

"Saling menyusul akan terjadi hingga data representatif. Level representatif itu adalah 80-90 persen," tutur Elina.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR