Capim KPK mengaku hanya punya uang Rp20 juta

Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel KPK) Destry Damayanti (ketiga kiri) bersama anggota Pansel KPK lainnya  mewawancarai calon pimpinan KPK di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (24/8/2015).
Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel KPK) Destry Damayanti (ketiga kiri) bersama anggota Pansel KPK lainnya mewawancarai calon pimpinan KPK di Gedung Sekretariat Negara, Jakarta, Senin (24/8/2015). | Widodo S. Jusuf /Antara Foto

Senin kemarin, Panitia Seleksi melakukan tes wawancara terhadap 19 orang calon yang lolos. Pada hari pertama kemarin Pansel mewawancarai tujuh calon. Salah satu calon pimpinan KPK yang diwawancara hari itu adalah Agus Rahardjo.

Agus--pegawai negeri sipil di Bappenas--di depan anggota Pansel mengaku hanya punya uang Rp20 juta di empat rekening bank. Mendengar jawaban itu, begitu Kompas.com menulis, angggota Pansel KPK, Enny Nurbaningsih, langsung mencerca Agus. Ia meminta Agus menyebutkan harta kekayaannya berikut dengan penjelasan dan asal-usulnya.

Pasalnya, Pansel KPK menerima laporan dari masyarakat terkait harta kekayaan Agus yang mencurigakan, dan dikaitkan dengan pengalamannya menjabat Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintahan.

Agus lalu membeberkan harta tak bergerak yang dimilikinya. Ia punya sebidang tanah di daerah Cariu, Jawa Barat yang dibelinya pada 2003 seharga Rp3.500 per meter persegi atau harga totalnya Rp35 juta.

"Hari ini (harganya) baru Rp 12.000 per meter persegi. Itu tanah yang enggak subur, saya menanam, (tanamannya) sering mati karena waktu kekeringan enggak ada air," ujar Agus.

Tak hanya itu, ia juga punya satu kavling tanah di kawasan BSD, Tangerang Selatan. Tanah itu dibelinya sekitar 1997 sebelum Indonesia dilanda krisis ekonomi, dengan harga sekitar Rp 170 juta, dan dibayar dengan cara diangsur.

Kata dia, semua aset yang dimilikinya itu dibeli dari uang hasil menabung selama bekerja sebagai PNS. Dia menambahkan, sebagian uang yang dia dapat juga berasal dari posisinya sebagai perwakilan Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 1995-1997.

Ia menyebut selalu mendapat sekitar 6.000 euro dari lembaga tersebut sehingga dapat menyisihkan uang untuk menabung.

Eny Nurbaningsih, begitu tempo.co menulis, langsung menanggapi jawaban Agus itu. Kata Eny, penyelenggara OECD tidak pernah memberikan honor, hanya uang transportasi. "Saya tahu karena saya juga beberapa kali diundang," ujarnya.

Agus tetap berkukuh OECD memberi honor. Biasanya acaranya hanya berlansung tiga hari. "Saya bisa cari tiket murah sekitar US$ 800," ujarnya.

Selain itu, Agus mengaku juga sering menerima honor dalam acara yang diselenggarakan oleh pemerintah. "Di pemerintah kan legal dan umum menerima honor."

Salah seorang anggota Pansel lainnya, Harkristuti Harkrisnowo, menanyakan apakah dalam laporan harta kekayaan pejabat negara (LHKPN) 2012, Agus juga memasukkan harta anak dan istri.

Pertanyaan itu diajukan karena berdasarkan data Pansel Pimpinan KPK, Agus memiliki satu unit Honda CRV, satu unit Mitsubishi, dan satu unit mobil Avanza.

Agus mengaku tidak memiliki mobil pribadi hingga dua hari lalu. "Mobil CRV sudah lama sekali saya jual. Saya juga punya tiga truk untuk angkut sayur di Magetan atas nama adik saya, tapi saya laporkan," jawab Agus.

Itulah, kata Agus, "Situasi keuangan saya, sebelum satu setengah tahun terakhir, mobil tidak punya, nikah juga utang ke bank, saya yakin PPATK memberikan data itu secara kuat."

Sebelumnya diberitakan Indonesian Corruption Watch (ICW) memberikan sepuluh nama calon pimpinan KPK kepada Pansel yang dinilai bermasalah. Mereka di antaranya memiliki harta kekayaan yang mencurigakan.

Ternyata empat nama di antaranya juga masuk dalam catatan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) lantaran memiliki transaksi keuangan yang mencurigakan. Data PPATK itu juga sudah ada pada Pansel Pimpinan KPK.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR