Jokowi mantu, dua menteri nongkrong di angkringan

Muhammad Hanif Dakhiri, Menteri Ketenagakerjaan (tengah) sedang menyanyi, Selasa (7/11/2017) malam.
Muhammad Hanif Dakhiri, Menteri Ketenagakerjaan (tengah) sedang menyanyi, Selasa (7/11/2017) malam. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Mulanya biasa saja. Seperti malam lainnya, orang-orang menikmati minuman dan makanan di angkringan Rumah Blogger Indonesia Surakarta. Sekelompok anak muda, tiga pemain gitar dan seorang penggebuk cajon (drum boks akuistik) memainkan musik untuk mengiringi lagu yang dinyanyikan remaja purempuan.

Semua berubah ketika seorang lelaki 45 tahun menggantikan posisi penabuh cajon. Pengunjung yang semula duduk di teras menikmati hidangan mulai merapat mengelilingi para pemain musik.

Satu lagu terlewati meski tak tuntas. Hingga akhirnya penabuh cajon dadakan itu mengambil alih posisi sebagai penyanyi utama. Pengunjung angkringan kian bersemangat menyoraki.

Bintang tamu dadakan itu adalah Muhammad Hanif Dakhiri, Menteri Ketenagakerjaan. Selasa (7/11/2017) malam, ia menyempatkan diri mampir ke angkringan sekadar mengisi waktu senggang di sela jadwal memenuhi undangan pernikahan puteri Presiden Joko Widodo. "Inisiatif mereka sendiri saja tadi mampir ke sini," kata Blontank Poer, pengelola Rumah Blogger Indonesia.

Tak ada kesan formal. Malam itu, Hanif tampil mengenakan setelan sarung dan kemeja putih. Tanpa kopyah di kepala, politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu datang dengan bersandal jepit. Sepanjang ngangkring, celoteh dan guyonan spontan terlontar antara pengunjung dan sang menteri.

Ia baru saja menyanyikan dua lagu, Resah (Payung Teduh) dan Cinta Terbaik (Cassandra), ketika seorang tamu istimewa lainnya datang. Kali ini, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Ia datang berkaos oblong, celana hitam, dan bersepatu kets. "Nah, Chief Rudi, ini pak menteri," kata Hanif dari tempatnya menyanyi, menyambut kedatangan Rudiantara.

Suasana pun kian semarak. Rudiantara segera didaulat menyanyi. Berbeda dengan Hanif, Rudiantara memilih lagu-lagu barat lawas. Ia menyanyikan Soldier of Fortune(Deep Purple) dan Wonderful Tonight (Eric Clapton). Sementara Rudiantara menyanyi, Hanif yang duduk di sampingnya lebih banyak menggoyangkan badan mengikuti irama musik. Hanya sesekali ia menirukan baitnya.

Suasana bertambah meriah ketika dua komedian asal Solo, Max Baihaqi dan She Doel Sumbing, datang memeriahkan malam. Komedian yang pernah bergabung di grup Pecas Ndahe itu berkali-kali melempar joke pada kedua menteri.

Dengan keterampilan mereka bermain gitar, mereka berkali-kali membajak nyanyian Hanif. Lagu yang dibawakan Hanif dibelokkan tak sesuai aslinya.

Bukan hanya Hanif yang jadi sasaran keisengan mereka. Alih-alih menerima dan mengucapkan terima untuk saweran US$ 100 dari Rudiantara, Doel justru melemparkan uang itu di depan penonton. "Duit ra payu (uang tak laku)," katanya yang disambut gelak tawa seluruh pengunjung, termasuk Rudiantara.

Sambil nyanyi menyerap aspirasi

Blontank mengatakan warga Solo dan sekitarnya memilik kebiasaan wedangan. Bukan sekadar makan dan minum, orang sekaligus berbicara dan berdiskusi di angkringan. Dari sinilah, banyak di antara mereka melahirkan gagasan dan solusi atas persoalan.

Jadi, kata dia, kebiasaan menikmati minuman dan makanan di angkringan ini menjadi media efektif membangun komunikasi antar masyarakat. "Ini media pertemuan tradisional," katanya.

Rudiantara, menurut dia, bukan sekali ini saja berkunjung ke angkringan Rumah Blogger. "Sudah dua kali," katanya. Adapun Hanif, ia melanjutkan, baru sekali ini mampir ke tempatnya.

Komunitas blogger ini berdiri pada 2009. Anggotanya berasal dari beragam latar belakang sosial. Mulanya, mereka kerap berkumpul di satu angkringan ke angkringan lain. Tahun 2010, komunitas ini mulai menempati sebuah rumah di Jalan Apel Laweyan Surakarta. Rumah itu bekas kantor lembaga non pemerintah di bidang penyandang difabel yang sudah habis masa sewanya.

Dua tahun lalu, teras rumah difungsikan sebagai tempat jualan makanan dan minuman khas angkringan. Selain jadi tempat usaha, rumah itu pun menjadi tempat berkumpul kaum muda. Sejumlah penyandang difabel pun hingga kini masih tinggal di sana.

Selain kedua menteri itu, Rudiantara dan Hanif, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto juga pernah berkunjung ke tempat ini. Sejumlah budayawan dan sutradara, semisal Sudjiwo Tedjo, Garin Nugroho, dan Arswendo Atmowiloto juga mampir ke angkringan ini.

Dalam tiap kunjungan seperti itu, kata Blontank, ia biasa menggelar diskusi kecil sebagai sarana berbagi pengetahuan untuk kaum muda. Syukur-syukur ada solusi mengatasi sejumlah persoalan yang ada.

Seperti malam itu, Hanif dan Rudiantara bertemu dengan Aprilian Bima, mahasiswa Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Solo.

Bima adalah seorang tuna rungu. Didampingi seorang penerjemah bahasa isyarat, mereka mendiskusikan beberapa persoalan yang dihadapi para penyandang tuna rungu. Tentang keterbatasan akses kerja salah satunya.

Pada Bima, Hanif menawarkan pelatihan Barista bagi tuna rungu. Ia juga mempersilakan penyandang tuna rungu memanfaatkan Balai Latihan Kerja di Surakarta untuk meningkatkan keterampilan. Bima senang dan menyanggupi akan mengorganisasikan kawan-kawannya sesama tuna rungu menjadi peserta aktif dalam pelatihan itu.

Aktivis perburuhan Migrant Care Wahyu Susilo yang juga hadir di acara itu, mengatakan cara itu sebagai langkah yang baik. Selama ini, tak banyak pemilik perusahaan yang memiliki kesadaran untuk mempekerjakan penyandang difabel.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR