REKAYASA GENETIKA

Cara Tiongkok melenyapkan nyamuk

Petugas melakukan pengasapan di kompleks Perum Permata Depok, Cipayung, Depok, Jawa Barat, Minggu (3/3/2019) untuk memberantas penyebaran nyamuk Adedes aegypti penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Petugas melakukan pengasapan di kompleks Perum Permata Depok, Cipayung, Depok, Jawa Barat, Minggu (3/3/2019) untuk memberantas penyebaran nyamuk Adedes aegypti penyebab demam berdarah dengue (DBD). | Andika Wahyu /ANTARA FOTO

Lebih dari 90 persen nyamuk pembawa penyakit berhasil dilenyapkan dari dua pulau di Tiongkok. Ini bisa mengubah cara manusia memerangi penyakit mematikan akibat nyamuk.

Tim periset internasional di balik penelitian ini dipimpin oleh Zhiyong Xi dari Sun Yat-sen University-Michigan State University Joint Centre of Vector Control for Tropical Diseases di Tiongkok. Ada pula peneliti lain dari Tiongkok, Australia, AS dan Austria.

"Kami membuat nyamuk baik yang bisa membantu kita melawan nyamuk jahat," ujar Xi. Hasil penelitian mereka dipublikasikan dalam jurnal Nature.

Para peneliti berharap bisa mengurangi populasi nyamuk jenis Aedes albopictus. Jika tujuan ini tercapai, penularan virus seperti demam berdarah, Chikungunya dan Zika pun berkurang.

Selama hampir dua tahun, para ilmuwan melepaskan lebih dari 200 juta nyamuk macan Asia atau nyamuk hutan jantan yang dibiakkan secara khusus di pulau Shazai dan Dadaosha. Kedua pulau ini terdapat di delta sebelah selatan Guangzhou, daerah dengan jumlah kasus demam berdarah tertinggi di Tiongkok.

Nyamuk macan Asia mendapat namanya dari garis putihnya yang khas. Mereka bisa menularkan berbagai penyakit, termasuk demam berdarah, virus Zika dan West Nile.

Hal pertama yang dilakukan para ilmuwan adalah berupaya mengurangi kemungkinan nyamuk Aedes albopictus berkembang biak. Teknik radikal pun digunakan, yakni membuat nyamuk jantan infertil.

Nyamuk-nyamuk ini telah terpapar radiasi gamma dan menerima tiga infeksi buatan dari tiga spesies Wolbachia--mikroorganisme parasit, untuk membuat mereka infertil.

Nyamuk jantan juga diberi asupan gula. Harapannya, mereka jadi lebih besar dan kuat sehingga lebih menarik bagi nyamuk betina selama musim kawin.

Dengan banyaknya jumlah nyamuk infertil, para peneliti berusaha mengusik keseimbangan evolusi. Mereka memastikan kalaupun ada telur betina, tidak sampai menetas.

Mereka berhasil. Pada akhir percobaan, populasi nyamuk asli di kedua pulau itu telah sepenuhnya lenyap.

Kalaupun ada beberapa nyamuk yang masih hidup di kedua pulau itu, analisis genetik menunjukkan mereka berasal dari tempat lain. Mungkin mereka sampai di pulau menumpang mobil atau kapal.

Pada awal percobaan, banyak penduduk pulau skeptis dengan riset ini. Mereka merasa tidak nyaman karena kehadiran begitu banyak nyamuk di sekitar mereka, bahkan jika nyamuk-nyamuk itu tidak menggigit.

Namun, di akhir percobaan, jajak pendapat menunjukkan hampir semua penduduk setempat mendukung, atau setidaknya tidak menentang riset ini. Setelah jumlah gigitan nyamuk tercatat turun lebih dari 96 persen.

Seorang warga mengatakan, dulu ada begitu banyak nyamuk sampai mereka tidak berani berada di luar pada sore hari. Sekarang nyamuk hampir tidak terlihat, dan beberapa yang tersisa jarang menggigit.

"Teknologi ini adalah keajaiban. Kami dulu skeptis. Sekarang kami jadi penggemarnya," kata seorang pemilik restoran Shazai yang bermarga Li.

Moritz Kraemer, peneliti di bidang epidemiologi dan zoologi di University of Oxford yang tidak terlibat dalam penelitian berpendapat bahwa riset ini luar biasa. Namun, punya keterbatasan.

"Keterbatasan besar dari studi ini adalah pengaturan di mana mereka bekerja dan tidak berfungsi. Pada tahap ini, hasilnya menggembirakan tetapi belum digeneralisasikan ke pengaturan geografis lain (misali daerah dengan populasi Aedes albopictus tinggi sepanjang tahun atau daerah yang sangat terhubung di mana impor spesies sering terjadi)," papar Kraemer.

Fasilitas pengembangbiakan nyamuk yang dikelola pemerintah di provinsi selatan Guangdong bisa menghasilkan 10 juta pejantan hasil rekayasa genetika dalam sepekan. Akan tetapi, dampak ekologis dari riset ini menimbulkan dilema bagi para ilmuwan.

Larva nyamuk adalah sumber makanan penting bagi ikan. Sementara serangga yang sudah dewasa berfungsi sebagai mangsa burung.

Tetapi survei yang dilakukan Nature pada 2010 menunjukkan, sebagian besar ahli biologi lebih memilih nyamuk sepenuhnya dimusnahkan karena mereka menularkan banyak penyakit mematikan.

Melihat angka kesakitan (Incidence Rate) Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia, tahun 2017 menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 78,85 menjadi 26,10 per 100 ribu penduduk. Angka kesakitan ini sejak tahun 2000 cenderung meningkat hingga tahun 2015.

Angka kesakitan merupakan jumlah kasus DBD di suatu wilayah tertentu selama satu tahun tiap 100 ribu penduduk.

Pada 2019, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, drg. Widyawati, MKM mengatakan, kasus DBD terus meningkat.

Secara nasional hingga (3/2/2019) ada 16.692 kasus DBD dan 169 orang meninggal dunia karenanya. Kasus terbanyak ada di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, Kupang.

Setiap tahun nyamuk membunuh lebih dari 700 ribu orang di seluruh dunia. Walau ukurannya kecil, nyamuk bisa dibilang makhluk paling mematikan bagi manusia.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR