KREDO

CEO TaniHub Ivan Arie bicara agrikultur, teknologi, dan dampak sosial

CEO TaniGroup Ivan Arie Sustiawan.
CEO TaniGroup Ivan Arie Sustiawan. | Corporate Communications Team /TaniHub

Permasalahan pada rantai distribusi yang melibatkan petani atau peternak Indonesia menjadi sorotan serius banyak pihak. Kondisi demikian turut melahirkan banyak startup baru di sektor ini. Satu di antaranya adalah TaniHub.

Firma yang berdiri pada 2016 itu mengupayakan solusi atas tiga problem: rantai distribusi yang tidak efisien, akses pasar yang terbatas karena petani jarang bisa menjual ke ritel besar, dan persyaratan pembayaran yang memberatkan pembeli.

TaniHub bagian dari TaniGroup, perusahaan teknologi rintisan yang didirikan oleh Ivan Arie Sustiawan, Pamitra Wineka, Michael Jovan, William Setiawan, Edwin Setiawan, dan Oki Setiawan.

***

Bagaimana awalnya Anda bisa terjun ke bisnis ini?
Waktu itu saya melihat anak-anak muda punya mimpi kok besar banget. Seperti mimpi saya. Mereka itu perlu supporting system yang besar.

Waktu itu Tanihub belum berkembang karena masih bermain di level Business to Consumer (B to C). Yang levelnya masih eceran. Level itu tentu perlu modal besar. Timnya juga lumayan. Plus, kalau kita beli bahan dari petani itu kan enggak bisa sedikit-sedikit.

Kita ingin membuat bagaimana kita bisa menyatukan antara teknologi, agrikultur, dan dampak sosial. Karena kalau hanya profit-oriented saja, bisa aja sebetulnya. Tetapi, itu bukan jalan yang kita pilih.

Yang menghubungkan petani ke Tanihub itu pertama siapa?
Temen-temen kita sendiri. Kita punya tenaga di lapangan. Kita lakukan pendekatan secara emosional dan personal.

Di mana petani perintis yang pertama dihubungi?
Banyak. Ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat. Hampir merata di pulau Jawa, karena kita mulai di sini.

Dari respons mereka yang awalnya masih bingung, lama-lama mereka paham. Dan akhirnya, efek digitalisasi dan financial literacy itu jadi tercapai.

Banyak hal yang berubah di kehidupan petani. Perubahan itu yang membuat kita merasa happy, karena tidak semata-mata bisnis kita hanya profit-oriented saja.

Anda sering menemui petani secara langsung?
Sering.

Ke mana?
Di Ciamis. Saya pernah juga ke Jogja. Lebih sering dulu sih dari pada sekarang, karena sekarang timnya sudah besar.

Yang dibicarakan apa?
Kita bicarakan apa yang menjadi permasalahan mereka. Apa yang menjadi kendala mereka. Apa ekspektasi mereka pada pertanian. Kenapa mereka tidak ingin anak-cucu mereka menjadi petani.

Jadi, seolah-olah menjadi seorang petani itu bukan suatu hal yang mulia, tidak menjanjikan.

Tapi, dengan kehadiran kita, pelan-pelan kita ingin membuktikan banyak petani muda yang terjun, karena ada harapan di situ.

***

TaniGroup bergerak dalam dua lini utama yaitu TaniHub, sebuah e-commerce yang menghubungkan petani langsung dengan pembeli korporasi (supermarket, hypermarket, hotel, dan restoran), dan TaniFund, sebuah crowdfunding platform yang menyediakan sarana investasi bagi masyarakat umum serta pembiayaan bagi kelompok tani yang ingin mengembangkan usahanya.

Menuju tahun keempat, TaniHub perlahan menunjukkan eksistensi mereka sebagai salah satu platform yang menghubungkan petani dan para konsumen. Dilengkapi dengan gudang, teknologi dan jaringan petani di pulau Jawa, TaniHub berhasrat menjadi layanan supply chain terlengkap di Indonesia.

***

Masuk ke industri yang sudah lama dikuasai oleh ‘rente’, apa saja tantangannya?
Tantangannya adalah bagaimana membangun kepercayaan dan hubungan dengan para petani. Karena mereka sudah skeptis dengan ekosistem yang sudah ada. Karena sudah bertahun-tahun orang datang dan pergi, tapi mungkin buat mereka tidak ada yang konkret.

Sektor pertanian itu memiliki risiko bisnis yang besar, bagaimana mitigasi risiko yang dilakukan Tanihub agar stigma ini tidak menjadi beban?
Risiko besar atau kecil itu relatif ya, tergantung seberapa besar output daripada bisnis yang dikerjakan dengan mereka.

Kita mencoba memitigasi dengan beberapa hal. Pertama, kita mitigasi dengan asuransi kerugian.

Kedua, mitigasi dengan cara model budidayanya, sehingga bilamana terjadi bencana alam atau wabah penyakit, itu bisa diminimalkan.

Ketiga mitigasi dengan model budidaya pertanian yang lebih advanced. Contoh, green house, memberdayakan dengan suplemen unggulan.

Persentuhan yang akhirnya membuat anda mau terjun ke sektor bisnis pertanian itu apa?
Orang tua. Kakek dan nenek saya adalah petani di daerah Sumatra Barat dan di daerah Jawa. Ada padi, palawija dan sebagainya. Orang tua saya sendiri juga punya kebun.

Kebetulan background saya juga di logistik dan ritel. Jadi, saya mengerti bagaimana masyarakat kita atau petani kita sangat sulit untuk bersaing dengan barang impor. Bukan karena kualitasnya, tapi lebih karena kurang efisien. Plus juga karena perilaku masyarakatnya.

Produk pertanian itu harus bersaing dengan waktu, karena akan mudah busuk. Untuk tetap menjaga kesegaran hingga ke tangan konsumen, bagaimana strategi TaniHub?
Kita sediakan warehouse. Kita buat integrated cold chain system. Sekitar 20 persen investasi dialokasikan ke infrastruktur ini.

Kita adalah satu-satunya startup di bidang pertanian yang mau--dan sudah--berinvestasi untuk membuat cold chain system. Tujuannya untuk memperpanjang masa hidup produk kita.

Kita juga menciptakan processor untuk blast freezing (pembekuan buah), di mana pembekuan ini memenuhi standar yang berlaku, yang bisa dijadikan bahan baku minuman. Contohnya adalah smoothies.

***

Kepada Bonardo Maulana dan Elisa Valenta, Senin (16/09/2019), CEO TaniGroup, Ivan Arie Sustiawan, di kantornya di kawasan Mega Kuningan, mengatakan bahwa pertanian, teknologi, dan dampak sosial menjadi pilar bisnis utama TaniHub.

Sejauh ini, TaniHub memiliki kurang lebih 35.000 petani yang terhubung dengan sistem mereka yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Mayoritas darinya berada di Pulau Jawa.

Pada April 2018, TaniHub mendapat pendanaan pra- Seri A dari Alpha JWC Ventures. Lalu, usai beroleh permodalan Seri A sebesar AS$10 juta--setara dengan Rp143 miliar--pada Mei 2019 dari Openspace Ventures dan sejumlah investor lain, TaniHub masih ingin berfokus mengakuisisi lebih banyak petani untuk bergabung sekaligus mengembangkan ekosistem agritech di Indonesia.

Perusahaan ini menargetkan tahun depan bakal berkolaborasi dengan sejuta petani.

***

Apakah semua Sumber Daya Manusia (SDM) Tanihub harus punya latar pendidikan teknologi?
Enggak. Campur-campur. Tergantung pada disiplin ilmunya. Kalau tim sosial ilmu petani, tentu berlatar belakang pertanian. Karena kalau kita ketemu petani, itu tidak bisa pakai ilmu sehari-hari.

Kita harus menyesuaikan dengan bahasa daerah petani, yang sesuai dengan yang petani nyaman. Tim teknologi diprioritaskan yang punya background teknologi. Umumnya tenaga kerja kita itu punya tiga pilar itu; teknologi, sosial, dan pertanian.

Dalam pengembangan bisnis, kenapa memilih bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dompet Dhuafa, atau International Finance Corporation (IFC)?
Buat kita, kolaborasi adalah kunci.

Stakeholder itu bisa lebih besar karena kita bisa memanfaatkan kelebihan dari masing-masing kita semua. Tanihub, Tanifund punya keterbatasan. IPB punya hal yang tidak kita miliki. Kalau dengan Dompet Dhuafa, balik lagi ke social impact.

Ketika hendak membuat roadmap atau langkah selanjutnya, apa yang pertama kali anda pikirkan untuk menjangkau visi tertentu? Apalagi di era yang mudah berubah seperti saat ini.
Sebetulnya, mimpinya tidak pernah berubah. Yaitu agriculture for everyone.

Tapi, bagaimana cara menuju ke sananya yang mesti berubah. Mana yang lebih cepat dan lebih banyak manfaatnya. Itu yang kita lakukan. Kita enggak terlalu pusing dengan segala macam. Kita fokus saja sama bagaimana kita mewujudkan visi ini.

Bagaimana Anda mentransfer mimpi itu ke tim Anda?
Tidak mudah.

Kita rekrut orang-orang yang tidak hanya mencari karier dan juga remunerasi yang besar. Tetapi, bagaimana hati mereka itu betul-betul nyambung sama visi kita. Karena, jujur, kalau hatinya tidak passionate dengan agriculture, teknologi atau social impact, maka agak sulit bagi mereka untuk mencapai mimpi sama-sama.

Apakah ada cara khusus untuk membuat orang-orang dalam tim besar ini bekerja sesuai dengan yang Anda harapkan?
Kita memberdayakan mereka. Jadi kita menghindari terlalu banyak top-down, dan kita lebih ke bottom-up.

Kita berikan otonomi ke mereka sehingga mereka punya tanggung jawab dan ingin memberikan yang terbaik.

We always try to appreciate every small achievement.

Banyak startup yang orientasinya adalah mengejar valuasi. Bagaimana dengan TaniHub?
Kita enggak mengejar valuasi, tapi lebih ke arah bagaimana bisnis kita bisa sustain (berkelanjutan).

Mungkin dari sisi investor, market mereka lebih senang melihat dari sisi valuasi. Mereka mengejar yang namanya status unicorn atau decacorn. Kalau saya, enggak terlalu pusing mau statusnya unicorn atau decacorn, yang penting adalah kita bisa buat bisnis kita sustain.

TaniHub sempat disebut Joko Widodo dalam debat capres, itu bisa disebut valuasi juga?
Itu sesuatu yang tidak pernah kita harapkan, tapi datang begitu saja. Buat kita adalah, itu rezeki.

Siapa orang yang paling menginspirasi Anda?
Salah satu orang yang paling menginspirasi saya adalah almarhum B.J. Habibie.

Bagaimana beliau punya mimpi dan cita-cita besar untuk negara dan bangsa ini. Tidak mementingkan ambisi dan kepentingan pribadi beliau.

Itu yang membuat sangat jarang orang seperti beliau. Jangan kita berjuang buat bangsa ini hanya untuk gelar, tapi lebih ke arah esensinya. Kalau yang berkaitan dengan agama, karena saya muslim, tentu panutan saya adalah Nabi Muhammad S.A.W.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR