Cerita di balik coretan tempat cincin pernikahan Kahiyang

Contoh suvenir yang dibuat Totok.
Contoh suvenir yang dibuat Totok. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Nama Mintorogo mendadak populer akhir-akhir ini. Perajin kaca (art glass) asal Banjarsari Surakarta itu ramai diberitakan media massa setelah produknya terpilih menjadi suvenir pernikahan puteri Presiden Joko Widodo.

Dalam waktu tiga minggu, lelaki 49 tahun itu dibantu enam orang pekerja, harus merampungkan 500 kotak perhiasan yang akan diberikan pada sebagian tamu undangan pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Afif Nasution. "Sudah jadi, Jumat (3 November) lalu sudah saya serahkan," kata Totok --demikian Mintorogo akrab disapa-- ditemui di rumahnya, Sabtu (4/11/2017) sore.

Rumahnya, tak jauh dari Pasar Legi Surakarta, adalah rumah kuno berukuran besar yang terdiri dari dua bangunan utama.

Satu berbentuk limasan di bagian depan yang berfungsi sebagai ruang tamu, serta joglo yang menjadi ruang tengah dan berisi kamar-kamar bagi penghuninya. "Rumah ini dibangun 1750," katanya.

Jika ditarik ke atas, garis keturunan Totok dari jalur ibu sampai pada Raden Mas Said, cucu penguasa Mataram-Kartasura Sunan Amangkurat IV (Pakubuwono I). Pada 1757, RM. Said naik tahta sebagai Adipati Mangkunegaran bergelar Mangkunegara I setelah terjadi perpecahan di Keraton Surakarta.

Belanda menjuluki Mangkunegara I dengan Pangeran Sambernyawa karena dalam tiap peperangan selalu membawa korban besar bagi musuhnya. "Kalau kepingin tahu kamarnya Pangeran Sambernyawa dulu ya di sini ini," katanya, tersenyum.

Kini rumah itu didiami keluarga Totok. Kedua orang tuanya juga tinggal di sana. Ruang depan rumah, selain menjadi ruang tamu, juga menjadi tempat memajang produk kerajinan kaca. Foto dan lukisan bergantungan di dinding dan sakaguru. Beberapa di antaranya berisi potret Totok bersama Jokowi semasa menjadi Walikota Surakarta.

Ya, perkenalan Totok dengan Jokowi terjadi jauh sebelum mantan Gubernur DKI itu menjadi presiden. Keluarga keduanya pun terbilang saling kenal. Ibu Jokowi, Sudjiatmi Notomihardjo, juga adik-adik Jokowi, bertemu dalam satu kelompok pengajian.

Jauh sebelum menjadi Walikota Surakarta, Jokowi pernah menjabat ketua Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia (Asmindo) Surakarta. Di organisasi itu pula, Totok kerap mendapat undangan pameran produk kerajinan.

Jokowi, kata Totok, bukan tipe orang yang mudah melupakan sejarah.

Mintorogo saat ditemui di rumahnya, Sabtu (4/11/2017) sore.
Mintorogo saat ditemui di rumahnya, Sabtu (4/11/2017) sore. | Anang Zakaria /Beritagar.id

Bermula dari produk tombo kecele

Pada 21 April 2017 lalu, sebuah pameran digelar dalam peringatan hari Kartini di Surakarta. Ibu negara Iriana Jokowi dan Mufidah Kalla, istri Wakil Presiden Jusuf Kalla datang berkunjung.

Salah satu peserta pengisi stan pameran adalah Totok dengan produk kerajinan kacanya. Iriana, kata Totok, mampir di stan tiap perajin dan membeli produknya. Termasuk di stannya, Iriana membeli kotak tisu berbahan kaca dan bermotif batik parang. "Bu Iriana juga tanya apa produk saya masih sering ekspor," kata Totok, mengenang perjumpaan itu.

Totok mengawali usaha di bidang kerajinan kaca pada 1997. Produknya memang pernah mencapai pasar ekspor tapi berhenti sejak 2009 lalu.

Totok terjun menjadi perajin setelah sering membantu usaha ayahnya, seorang pensiunan Perhutani yang bertugas di Kalimantan dan Jakarta.

Setelah tak lagi menjadi pegawai Perhutani, ayahnya kembali ke Surakarta dan mendirikan usaha kerajinan kaca. Merasa cocok dengan pekerjaan itu, Totok pun meninggalkan pekerjaan lamanya. "Latar belakang saya sebenarnya advertising," katanya.

Awalnya, tempat ini hanya memproduksi kaca cermin. Kaca benggala, demikian Totok menyebut jenis produk kerajinan kaca itu. Ukurannya besar dan cantik dengan bingkai berornamen ukiran indah.

Harga satu unit bisa mencapai Rp6 juta. Karena dianggap eksklusif dan berharga mahal, pembeli kerap kecele. Mereka pulang dengan tangan hampa tanpa membeli apa-apa dari tempatnya.

Melihat kondisi itu, muncullah gagasan memproduksi suvenir berbahan kaca dengan harga lebih terjangkau. "Konsepnya tombo kecele," katanya. Untuk satu produk suvenir dijual dengan harga terendah Rp50 ribu. "Ada yang sampai Rp300 ribu."

Setelah perjumpaan dengan Iriana Jokowi di pameran peringatan hari Kartini itu, Totok tak mengira jika pada pekan kedua September lalu datang kakak Iriana, bernama Ani, ke rumahnya.

Pada Totok, Ani mengatakan diminta Iriana mencari referensi produk suvenir untuk pernikahan Kahiyang. Totok pun antusias mengeluarkan contoh produk yang dimilikinya dan menyerahkan pada Ani.

Pada 27 September 2017, sebuah panggilan mendarat di telepon genggam Totok. Penelepon meminta Totok datang ke Graha Saba Buana Surakarta dan bertemu putera sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka. "Katanya jadi pesan suvenir," kata Totok menceritakan pesan dari si penelepon.

Dalam pertemuan itu, Gibran meminta contoh kotak perhiasan berbentuk segi enam berbahan kaca dengan motif batik kawung. Dalam waktu tiga hari, purwarupa suvenir itu jadi dan segera diserahkan Totok.

Beberapa hari kemudian, melalui saluran telepon, keluarga Jokowi meminta Totok membuat suvenir dari bahan kaca bermotif, tak lagi berhias ornamen batik kawung. Untuk Suvenir, mereka memesan 500 buah.

Selain suvenir, mereka juga memesan satu set tempat cincin pernikahan beserta nampannya. Khusus untuk pesanan terakhir itu, Totok diminta menghiasinya dengan ornamen batik Sidomulyo.

Motif batik bukan sekadar coretan dan asal gambar. Kawung, biasa berupa gambar empat biji beton yang tersusun secara simetris. Dalam pewayangan, motif ini bisa dilihat dalam pakaian yang dikenakan Semar.

Motif ini mengandung filosofi seorang pengayom. Batik ini lazim digunakan orang berpengetahuan tinggi yang momong dari belakang. Ini beda dengan motif parang. Kata parang konon berasal dari pereng atau tebing berbentuk garis diagonal. Batik motif ini biasa dikenakan oleh seorang pemimpin.

Sedangkan Sidomulyo adalah motif yang lazim dikenakan pengantin. Sidomulyo berasal dari dua kata. Sido berarti jadi dan mulyo berarti mulia.

Sidomulyo bisa dimaknai sebagai doa agar si pengantin membawa kemuliaan dan kebahagiaan. "Biasa dipakai pengantin atau orang tuanya," kata Totok.

Harapan itu tergambar dalam ornamen batik motif ini. Misalnya saja bentuk rumah yang menggambarkan rumah tangga, bunga yang mencerminkan harapan pasangan pengantin membawa keharuman di dalam rumah tangga dan lingkungannya.

Sidomulyo juga dihiasi dengan ornamen bergambar burung dan sulur-sulur daun. Burung menggambarkan cinta kasih dan sulur daun menggambarkan asa tumbuh berkembang sama-sama.

Ada banyak motif batik. Masing-masing membawa filosofinya sendiri. Begitulah tradisi Jawa menyelipkan kebudayaannya.

"Seperti saya ini," kata Totok memperlihatkan kemeja batik bermotif truntum yang melekat di tubuhnya. "Sebenarnya tak boleh memakai motif ini."

Ia tersenyum. Truntum adalah motif batik yang lazim dikenakan seorang lelaki yang telah menikahkan anaknya. Padahal Totok belum melampaui fase itu.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR