Cerita penyintas: 18 tahun terpapar asap Riau

Rahmi Carolina, salah satu penyintas asap asal Riau.
Rahmi Carolina, salah satu penyintas asap asal Riau. | Rahmi Carolina Sembiring /via Facebook

Berbahagialah mereka yang bisa hidup berdampingan dengan hutan. Pasalnya, hutan memiliki peran penting dalam kehidupan sehari-hari, sebut saja sebagai penyeimbang lingkungan dan sumber ekonomi. Tetapi, bagaimana jika hutan mengalami kerusakan sejak 18 tahun lalu?

Hal itulah yang dialami oleh Rahmi Carolina (22), mahasiswi Universitas Islam Riau yang dijumpai Tim Beritagar.id dalam diskusi bersama Greenpeace Indonesia, Selasa (20/10/2015) di Jakarta. Rahmi adalah penduduk asli Kabupaten Pelalawan, Riau. Selama hidupnya, ia merasakan dampak asap dari kebakaran hutan sejak 18 tahun lalu.

"Saya ingat tahun 1997, tepatnya di Kerinci, tidak ada angin, tidak ada hujan, adanya cuma asap, semua terbakar. Asap muncul setiap musim kemarau, waktu itu pesawat Malaysia sempat bantu," cerita Rahmi.

Menurutnya, pergerakan asap di Riau cukup hebat dibandingkan dengan provinsi lain, terlebih dua tahun tahun belakangan. Tahun lalu, ia sempat sakit karena asap meskipun asap tak separah tahun ini. Rahmi bosan dengan paparan asap yang tak berkesudahan. Karena hal itu membuat ruang geraknya menjadi terbatas.

"Saya harus menggunakan masker, tidur juga pakai masker, semua ventilasi ditutup agar asap tidak masuk rumah. Tahun ini, saya tidak sakit, tapi ada adik-adik yang meninggal karena asap," lanjut pemenang blog Aksi Lawan Asap tersebut.

Tuntut hak atas udara bersih

Rahmi sadar, munculnya asap disebabkan oleh masyarakat yang membakar hutan untuk membuka lahan. Di samping itu, ada beberapa masyarakat yang "menyulap" lahan menjadi kebun sawit. Bahkan, di beberapa tempat, seperti Kabupaten Indragiri Hilir (dekat Taman Nasional Bukit Tigapuluh), lahan habis terbakar pasca-Idul Fitri lalu.

Sebagai warga negara, Rahmi sungguh menyesalkan keadaan ini. Ia sempat putus asa dan menumpahkan kekesalannya dengan menulis blog, media sosial, berkomentar di televisi swasta nasional, serta mengikuti bincang-bincang di radio lokal. Ia pun sempat bertemu dengan Presiden Joko Widodo dan mencurahkan kegundahannya soal asap.

"Katanya tidak ada asap tahun ini. Namun, nyatanya asap tetap ada. Saya sempat cerita kepada teman dan bilang, 'Mungkin saya menunggu mati'. Kata teman, 'Kamu berjuang, nanti kami bantu'," cerita Rahmi.

Keputusasaan Rahmi menuntunnya untuk menuntut hak dari pemerintah. Pasalnya, kondisi udara Riau sudah melewati ambang batas normal dan membahayakan kesehatan warga. Sejak tahun lalu, para pemuda Riau sudah tak tahan dengan kondisi tersebut. Mereka marah dan turun ke jalan.

"Hak saya dan warga Riau untuk menghirup udara bersih, adik-adik terancam bodoh karena sekolah diliburkan. Tahun ini adalah bencana asap paling parah."

Kondisi jalan raya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang tertutup asap tebal.
Kondisi jalan raya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, yang tertutup asap tebal. | Greenpeace Indonesia /https://www.facebook.com/GreenpeaceIndonesia/

Petisi untuk Jokowi

Sebagai anak muda Riau, Rahmi merasa perlu bertindak lebih, tak cukup dengan menulis unek-unek di media sosial. Sebenarnya, ada beberapa partai politik yang mungkin bisa menampung kegelisahannya. Namun, ia ragu apakah parpol bisa benar-benar mewakili warga Riau.

Kemudian muncullah ide membuat petisi untuk Jokowi melalui Change.org. Petisi berjudul 'Kembalikan Hak Masyarakat Riau atas Udara yang Bersih!' ditujukkan kepada Presiden, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kapolri, dan Kejaksaan.

"Kami butuh udara yang sehat. Tolong kembalikan hak kami atas udara yang bersih! Tolong cegah kebakaran hutan lahan! Bukankah mencegah lebih baik dari pada mengobati? Atau kami mati dulu baru diobati?" tulis Rahmi.

"Saya tidak tahu harus bagaimana. Saya bikin petisi pribadi, tidak ada partisipan. Awalnya yang ikut 50 orang, ketika petisi di-retweet Greenpeace jadi sekitar 21.900. Lalu, ditanggapi Bu Menteri (Siti Nurbaya, Menteri LHK). Katanya yang bikin petisi banyak, tapi yang ditanggapi cuma saya," kisahnya.

Berikut penggalan tanggapan Siti Nurbaya terhadap petisi Rahmi pada 25 September lalu, dilansir dari laman Change.org:

"Solusi jangka panjang yang sedang dikembangkan adalah tata kelola gambut dan penggunaan lahan yang tepat, kekuatan kelembagaan masyarakat dalam pemadaman secara partisipatif, dan tentunya yang sangat penting: ketaatan hukum bersama dunia usaha para pemegang konsesi lahan."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR