Cerita sadis pembunuhan Salim Kancil

assa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terkait dengan pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim alias Kancil, 52 tahun, di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, Senin, 28 September 2015.
assa yang tergabung dalam aliansi Sedulur Tunggal Roso melakukan aksi solidaritas terkait dengan pembunuhan petani penolak tambang pasir Lumajang bernama Salim alias Kancil, 52 tahun, di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, Senin, 28 September 2015. | Aris Novia Hidayat /TEMPO

Hari masih pagi. Suasana Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang juga masih tenang. Sabtu pukul 07.00 (26/9/2015), Tosan (51 tahun) ditemani saudaranya, Imam sudah berdiri di depan jalan rumahnya.

Keduanya membagi-bagikan selebaran kepada siapa saja yang lewat. Hanya setengah jam Tosan dan Imam membagi-bagi selebaran yang berisi ajakan menolak penambangan pasir di desanya itu.

Tiba-tiba pada pukul 07.30, sekitar 40 orang mengendarai kendaraan bermotor mendatangi Tosan dan Imam. Tanpa ba bi bu, massa yang membawa kayu, batu, batu, dan clurit ini langsung mengeroyok Tosan.

Achmad Zakky Qhufron yang melakukan investigasi kasus ini menuturkan, saat tiba di lokasi Imam sempat melerai. Namun karena jumlahnya banyak, keduanya melarikan diri berpencar.

Karena yang diincar Tosan, massa langsung memburu Tosan yang lari ke arah kebun. Nahas Tosan terjatuh. Massa pun langsung menganiaya. Ia dipukul dengan kayu.

Tak cukup. Mereka menelentangkan Tosan di tengah lapangan lalu melindasnya dengan motor berkali-kali. Tosan terluka parah. Pengeroyokan baru berhenti setelah seorang warga bernama Ridwan datang ke lokasi lalu menghentikan aksi biadab gerombolan itu.

Gerombolan ini rupanya langsung mendatangi target kedua yakni Salim Kancil (46). Salim yang pagi itu sedang asyik menimang cucunya yang berusia 5 tahun kaget. Mengetahui gelagat gerombolan itu tak baik, Salim langsung membawa cucunya masuk.

Begitu Salim keluar, gerombolan itu langsung mengikatnya dan menyeret Salim ke Balai Desa Awar-Awar yang letaknya 2 kilometer dari rumahnya. Sepanjang perjalanan, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata-senjata yang mereka bawa disaksikan warga yang ketakutan dengan aksi ini.

Di Balai Desa, tanpa mengindahkan ada banyak anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), gerombolan ini menyeret Salim masuk dan terus menghajarnya.

Di Balai desa, gerombolan ini sudah menyiapkan alat setrum yang kemudian dipakai untuk menyetrum Salim berkali-kali. Karena terlihat taka da reaksi kesakitan apa pun dari Salim, gerombolan itu menggergaji leher Salim. Anehnya, seolah Salim tak mempan dengan siksaan itu.

Tak kapok, mereka lalu membawa Salim yang masih dalam keadaan terikat ke tempat dekat makam yang ada di daerah itu. Di situ, dengan tangan masih terikat, Salim diminta berdiri dengan tangan di atas. Lalu mereka membacok perut salim tiga kali. Anehnya Salim tak tak tumbang. Bahkan luka pun tidak.

Saking kesalnya, gerombolan itu lalu mengepruk Salim dengan batu yang mengakibatkan korban ambruk. Salim tewas.

Salim dan Tosan adalah dua warga yang selama ini menolak penambangan pasir yang ada di desanya. Kedua orang ini bersama 10 warga lainnya membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar. Forum inilah yang selama Januari lalu terus melakukan penolakan terhadap aktivitas penambangan pasir itu.

Rupanya ada yang kurang nyaman dengan aksi Salim dan kawan-kawannya itu.

***

Atas peristiwa ini kepolisian setempat telah menetapkan 22 orang sebagai tersangka. "19 orang sudah ditahan. Sedang dua orang tidak karena masuk kategori di bawah umur," kata Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono seperti dilansir suarasurabaya.net.

Ke-22 orang itu, menurut Raden, ada yang terlibat pengeroyokan, ada juga yang terlibat pengeroyokan dan pembunuhan.

Peristiwa ini juga membuat Gubernur Jawa Timur Soekarwo murka. Ia berencana mengaudit aktivitas tambang yang ada di wilayahnya. "Ini tragis sekali, karena itu kami akan tertibkan mana tambang pasir yang legal dan ilegal. Menurut saya tambang tersebut (Desa Selok Awar-awar) harus ditutup," kata Soekarwo, seperti dilansir Metrotvnews.

Kasus ini juga sempat menjadi perhatian Presiden Joko Widodo. Menurut Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Teten Masduki, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengusut pelaku penganiayaan yang berujung hilangnya nyawa aktivis Salim Kancil di Lumajang, Jawa Timur.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR