KARHUTLA

Cerita warga Palangka Raya saat dikepung kabut asap tebal

Warga menggunakan masker saat berada di objek wisata bantaran Sungai Kahayan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (15/9/2019).
Warga menggunakan masker saat berada di objek wisata bantaran Sungai Kahayan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (15/9/2019). | Rendhik Andika /Antara Foto

Kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), membuat warga enggan keluar rumah. Mereka khawatir asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) itu berdampak pada kesehatan.

Selain aktivitas warga, kabut asap pada Minggu (15/9/2019) juga mengakibatkan sejumlah penerbangan dari dan menuju Pulau Kalimantan dan Sumatra terganggu.

Iin Trisniyanti (39) menuturkan, meski asap dari karhutla itu bukan lagi hal asing, namun asap pekat yang menyelimuti wilayah tempat tinggalnya pada Minggu (15/9) membuat ia enggan keluar rumah.

"Buruk alias parah banget, asapnya tebal banget. Makanya mending diam di rumah, kalau keluar takut nyesek," ungkap Iin melalui pesan WhatsApp kepada Beritagar.id, Minggu (15/9) sore.

Menurut ibu tiga anak ini, wilayah tempat tinggalnya sudah beberapa pekan diselimuti asap. "Kemarin-kemarin agak mending, sekarang (Minggu 15/9) parah banget. Mau pulang ke Tasik (Tasikmalaya, Jawa Barat) pesawat juga enggak ada yang terbang," keluhnya.

Ia mengisahkan, sekitar rumahnya diselimuti asap sejak Juni lalu, namun hanya asap tipis. Memasuki Agustus, asap terasa semakin menebal, bahkan semakin hari semakin menebal.

Ditanya seberapa jauh jarak pandang, ia menyebut mencapai puluhan meter. Tetapi, yang dikeluhkan warga, kata dia, bukan soal jarak pandang. Ia dan warga lainnya merasa terhambat beraktivitas dan mencemaskan kesehatan anak-anaknya.

Asap pekat dua hari terakhir ini membuat ia mengurung anak-anaknya di dalam rumah. "Biasanya main di luar, sekarang anak-anak terpaksa dikurung di rumah. Kalau ke luar rumah bisa pakai masker, tapi kalau asapnya tebal begini masker juga enggak ngaruh," ujarnya.

Ia berharap pemerintah bisa segera menuntaskan kebakaran hutan yang melanda wilayahnya. Selain mengganggu aktivitas orang dewasa, kabut asap juga mengganggu aktivitas sekolah anak-anak. "Anak-anak dari Sabtu (14/9) sampai Senin (16/9) sekolah diliburkan, malah kalau enggak membaik libur akan diperpanjang," sebutnya.

Bencana kabut asap tak hanya melanda wilayah Kalteng, melainkan hampir seluruh Pulau Kalimantan. Begitu juga sejumlah wilayah di Sumatra seperti Provinsi Riau, Sumatra Selatan, Jambi, dan Sumatra Barat.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 31 Agustus 2019, karhutla di Kalteng mencapai 34 ribu hektare, Kalimantan Barat 25,8 ribu ha, Kalimantan Selatan 19,5 ribu ha, Riau 49 ribu ha, dan Sumatra Selatan 12 ribu ha.

Penerbangan nyaris lumpuh

Bencana yang dipicu ulah manusia ini tak hanya mengganggu aktivitas warga, aktivitas penerbangan juga nyaris lumpuh pada Minggu (15/9). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Tjilik Riwut Palangka Raya menyatakan jarak pandang terbatas lantaran tebalnya kabut asap.

Eksekutif General Manager (EMG) PT Angkasa Pura II Kantor Cabang Bandara Tjilik Riwut Siswanto mengungkapkan, pekatnya kabut asap yang melanda wilayah Palangka Raya membuat aktivitas penerbangan sejumlah maskapai ditunda.

"Jarak pandang (saat ini) kurang dari 600 meter sehingga tidak memungkinkan pesawat untuk turun," ujar Siswanto (15/9).

Lantaran jarak pandang terbatas, kata dia, maskapai Garuda Indonesia sudah memastikan tidak akan terbang atau batal terbang menuju Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Tak hanya itu, sejumlah rute seperti ke Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Solo juga tidak ada aktivitas penerbangan.

"Aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut hanya ada dua Lion yang terbang dengan tujuan Surabaya dan Jakarta dengan waktu keberangkatan pagi," sebutnya.

Penerbangan Lion Air, Wings Air, dan Batik Air, dari dan menuju Pulau Kalimantan dan Sumatra juga terganggu. Setidaknya, 74 penerbangan terlambat.

"Kondisi ini (kabut asap) mengakibatkan jarak pandang pendek dan tidak memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan untuk proses lepas landas dan mendarat," ujar Corporate Communications Strategic Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, dalam keterangan tertulis yang diterima Beritagar.id, (15/9).

Sejumlah penumpang mengenakan masker di Bandara Supadio di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (15/9/2019).
Sejumlah penumpang mengenakan masker di Bandara Supadio di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (15/9/2019). | Jessica Helena Wuysang /Antara Foto

Kondisi serupa terjadi di Bandara Internasional Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Pelaksana Teknis (Plt) Kepala Divisi Operasional Bandara Internasional Supadio Andry Felanie menyebutkan, pada Minggu (15/9) terdapat 19 penerbangan keberangkatan dan 18 penerbangan kedatangan yang dibatalkan lantaran jarak pandang di landasan mengalami penurunan akibat kabut asap.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR