Curhat siswi SD tentang sekolahnya berbuah trauma

Sejumlah murid SD Negeri Sadah belajar di bedeng bekas kandang kerbau di Kampung Kaserangan, Ciruas, Banten, Rabu (29/11). Sejak tahun 2014, Pemda mengambil alih bangunan sekolah SD Negeri Sadah untuk Puspemkab Serang, tanpa memberikan bangunan sekolah pengganti, kemudian atas inisiatif dan partisipasi warga, dibangunlah bangunan sekolah baru dengan memanfaatkan bekas kandang kerbau dan bahan bangunan yang tak terpakai.
Sejumlah murid SD Negeri Sadah belajar di bedeng bekas kandang kerbau di Kampung Kaserangan, Ciruas, Banten, Rabu (29/11). Sejak tahun 2014, Pemda mengambil alih bangunan sekolah SD Negeri Sadah untuk Puspemkab Serang, tanpa memberikan bangunan sekolah pengganti, kemudian atas inisiatif dan partisipasi warga, dibangunlah bangunan sekolah baru dengan memanfaatkan bekas kandang kerbau dan bahan bangunan yang tak terpakai.
© Asep Fathulrahman /Antara Foto

"Pak, kami minta tolong, tolong sekolah kami diperbenarkan karena sekolah kami kurang nyaman tidak asyik untuk dilihat. Pak, kalau bisa main ke SDN Sadah."

Perkataan itu meluncur dari mulut Devi Marsya, siswi kelas VI, Sekolah Dasar Negeri Sadah, Desa Kaserangan, Ciruas, Kabupaten Serang, Banten. Di hadapan teman-temannya, Devi membaca surat yang ditujukan kepada Gubernur Banten, Wahidin Halim.

Devi membaca surat terbukanya dalam rangkaian acara peringatan Sumpah Pemuda, Sabtu (28/10/2017). Acara bertajuk "Kecil-kecil jujur" itu dipandu relawan Dompet Dhuafa Banten yang menampilkan beragam kegiatan termasuk menulis surat.

Ada 40 surat dari kelas 4-6 di sekolah dan dibacakan ketika acara penutupan. Devi membacakan suratnya, sambil menahan tangis.

Adegan Devi membaca surat itu direkam video kemudian diunggah ke media sosial pada 30 Oktober 2017. Meski hanya berdurasi 51 detik, suara Devi telah membuat haru warganet.

Video Devi menyebar luas di media sosial sehingga sejumlah media menelisik kondisi sekolah itu. Bantennews, misalnya, datang ke lokasi dan memperincikan kondisi SDN Sadah --jaraknya sekitar 70 kilometer arah barat Jakarta.

Sekolah yang ada saat ini terdiri dari kelas 1 dan 2 menempati bangunan madrasah. Kelas 4 berada di dapur milik warga, dan kelas 6 menempati lahan milik warga dengan bangunan hasil bantuan Dinas Pendidikan Kabupaten Serang. Ada juga kelas 3 dan 5 menempati lahan bekas kandang kerbau.

Antara Foto, dalam keterangannya menulis, Pemda mengambil alih bangunan sekolah SD Negeri Sadah untuk Puspemkab Serang sejak 2014 tanpa memberikan bangunan sekolah pengganti. Atas inisiatif dan partisipasi warga, dibangunlah sekolah baru dengan memanfaatkan bekas kandang kerbau dan bahan bangunan yang tak terpakai.

Penggusuran SDN Sadah untuk proyek pembangunan Pusat Pemerintah Kabupaten Serang berlangsung pada September 2015. Sekolah sudah roboh tetapi gedung baru belum tersedia.

Sekitar 90 siswa SDN Sadah belajar di lokasi yang tidak kondusif untuk kegiatan belajar mengajar. Dinding triplek, lantai tanpa keramik, atap bolong, serta aroma kotoran kerbau.

Dua tahun setelah penggusuran, kondisi sekolah kembali menjadi sorotan setelah ada surat terbuka dari Devi. Video Devi itu sampai pula ke Gubernur Banten, Wahidin Halim, sebulan setelah diunggah.

Wahidin mengaku baru melihat tayangan itu pada Selasa 28 November 2017 malam. Ia pun bergegas meninjau sekolah itu pada Rabu (29/11/2017) pagi.

Wahidin menyapa Devi dan siswa lainnya. Ia mengatakan prihatin dengan kondisi ruang kelas yang ditempati murid SDN Sadah. "Ini zaman tahun 60 tempat saya sekolah. Saya tahun 60-an belajar tempat yang kaya begini," ujar Wahidin dikutip Kabar Banten.

Wahidin memberikan semangat kepada murid-murid agar semangat dalam belajar walaupun kondisi sekolahnya rusak. Ia mengatakan segera membangun sekolah dengan terlebih dahulu berkoordinasi bersama Pemerintah Kabupaten Serang.

Setelah Gubernur, giliran Bupati Serang, Tatu Chasanah menyoroti ihwal sekolah itu pada Senin (4/12/2017). Bedanya, Tatu mengumpulkan warga dan Komite Sekolah SD Negeri Sadah di pendopo Bupati Serang, alih-alih mendatangi lokasi sekolah.

Devi Marsya dan satu teman sekolahnya termasuk yang dipanggil oleh Bupati. Tatu pun mencecar Devi dengan pertanyaan mengenai suratnya. Devi mengiyakan dengan pelan ketika Tatu menanyakan surat itu hasil tulisannya atau bukan.

"Adek kemarin kan bilang sekolah di kandang kerbau. Adek ngeluh ke Presiden ke Gubernur. Sekarang Ibu mau nolongin, jadi gimana? Harus jelas. Sekarang mau Ibu cari solusinya," kata Tatu Chasanah dilansir Detikcom.

Menurut Tatu, pemerintah tidak akan membiarkan siswa di daerahnya bersekolah di kandang kerbau. Namun ia bingung kenapa ada anak siswa sampai bicara kepada umum soal belajar di sekolah tidak layak.

Tatu menuding, ada media yang ingin membunuh karakternya mengenai banyaknya sekolah rusak dan warga yang tinggal di rumah tidak layak huni di Kabupaten Serang.

Bupati mengaku prihatin dengan ramainya pemberitaan tentang SDN Sadah ini. "Kalau sampai diekspose di tingkat nasional seperti ini mempermalukan kita semua. Bukan hanya saya saja yang dipermalukan," kata Tatu.

Tatu mengaku pemerintah daerah memang lambat dalam menangani persoalan SDN Sadah setelah tergusur oleh pembangunan Pusat Pemkab pada 2015, ketika menjadi wakil Bupati Serang.

"Itu kan zaman 2015, saya belum jadi bupati. Kalau secara keseluruhan, disebut lambat boleh. Tapi nggak semudah itu juga," kata Tatu.

Respons Bupati Serang terhadap keluh kesah anak sekolah itu mendapat sorotan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan sikap Bupati Serang memanggil siswa.

"Alangkah eloknya jika keluhan itu disambut dengan positif. Cek kebenaran keluhannya ke lokasi, segera perbaiki dan bangun jika memang sangat emergency," ujar Ketua KPAI, Susanto.

Susanto menambahkan jika ditemukan kendala pembangunan atau renovasi maka tak ada salahnya Bupati Tatu menyampaikan ke publik. Dia menilai meninjau ke lokasi lebih bijak dilakukan ketimbang memanggil siswa ke pendopo.

Menurutnya, sikap Tatu yang memanggil siswa ke pendopo kurang arif dan bijak. "Kami menyayangkan atas pemanggilan siswa untuk klarifikasi karena yang bersangkutan mengeluhkan soal kondisi sekolahnya. Hemat saya kurang arif," kata Susanto.

KPAI akan mengunjungi SD Sadah untuk melihat kondisi dan fakta yang sebenarnya. KPAI akan menemui Devi dan orang tuanya untuk memastikan kondisi psikologis siswi tersebut seusai pemanggilan oleh Bupati Serang.

Devi dikabarkan mengalami trauma setelah dipanggil ke kantor Bupati Serang. Dilansir Bantennews, Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten, Uut Luthfi mengatakan Devi tertekan karena harus memberikan keterangan di hadapan banyak orang dewasa.

"Devi tadi sebetulnya tidak mau ditemui karena takut, syok takut ketemu orang," kata Uut setelah menemui dan berbincang dengan Devi.

Menyentuh! Ini Curahan Hati Anak SDN Sadah untuk Gubernur Banten
© Dompet Dhuafa Volunteer
MUAT LAGI
x
BERLANGGANAN SUREL DARI KAMI

Daftarkan surel Anda untuk berlangganan sekarang.