LION AIR JT610

Evakuasi korban berhenti, CVR masih dicari

Penumpang berjalan di samping pesawat Lion Air jenis Boeing 737-900 ER, registrasi PK-LGY dengan nomor penerbangan JT633 yang terparkir setelah di "grounded" di landasan parkir pesawat Bandara Fatmawati, Bengkulu, Jumat (9/11/2018).
Penumpang berjalan di samping pesawat Lion Air jenis Boeing 737-900 ER, registrasi PK-LGY dengan nomor penerbangan JT633 yang terparkir setelah di "grounded" di landasan parkir pesawat Bandara Fatmawati, Bengkulu, Jumat (9/11/2018). | David Muharmansyah /AntaraFoto

Sabtu (10/11/2018), menjadi hari terakhir operasi pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT610 oleh tim SAR gabungan di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsyda Muhammad Syaugi menjelaskan, operasi ini ditutup karena tim sudah tak lagi menemukan korban setelah melakukan pencarian selama 13 hari di sekitar lokasi jatuhnya pesawat.

Syaugi memastikan, keputusan mengakhiri pencarian korban telah melalui pertimbangan dan masukan dari banyak pihak yang didukung dengan data-data faktual di lapangan.

"Tolak ukur operasi SAR adalah korban. Sejak siang kemarin (Jumat, 9/11/2018) hingga siang ini, tim SAR sudah tidak menemukan korban lagi. Karena itu, operasi SAR secara terpusat saya nyatakan ditutup," sebut Syaugi, dikutip dari situs resmi Basarnas, Sabtu sore.

Kendati tim Basarnas pusat tak lagi melakukan pencarian, Syaugi memastikan tim SAR dari kantor cabang Jakarta dan Bandung akan tetap bersiaga di sekitar lokasi kejadian.

Hal ini untuk berjaga-jaga apabila ada informasi dari nelayan atau warga sekitar terkait temuan korban atau benda-benda lain yang menjadi bagian dari pesawat Lion Air PK-LQP.

Selain itu, Basarnas juga tetap menugaskan sepuluh penyelamnya untuk membantu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang masih melakukan pencarian cockpit voice recorder (CVR) pada bagian lain kotak hitam.

Pada Kamis (1/11/2018), tim penyelam KNKT telah menemukan kotak hitam yang berisi flight data recorder (FDR) atau perekam data penerbangan. Dari penemuan itu, beberapa temuan berhasil dihimpun, seperti misalnya kerusakan pada indikator kecepatan udara (airspeed indicator) dan juga sensor posisi angle of attack (AOA).

Meski begitu, penyebab kecelakaan seutuhnya masih belum dapat disimpulkan. Tanpa didukung data faktual yang termuat oleh CVR, kesimpulan yang dibuat berdasarkan temuan pada FDR akan tetap mengganjal.

"Kita sudah bentuk tim khusus untuk pencarian CVR-nya. Penyelidikan masih dilakukan KNKT untuk analisis lengkapnya," ujar Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dinukil dari Okezone.com.

Di sisi lain, tim peneliti kebencanaan pesawat dari Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer LAPAN meyakini bahwa cuaca bukanlah penyebab jatuhnya pesawat.

Kepada tempo.co, anggota tim peneliti Erma Yulihastin menyampaikan simpulan tersebut berdasarkan penelitian terhadap tiga fenomena cuaca yang biasanya mengganggu pesawat sehingga menimbulkan kecelakaan.

Penelitian dilakukan melalui pengolahan data dari beberapa peralatan, pengamatan, termasuk konfirmasi data model atmosfer dari Satellite-base Disaster Early Warning System (Sadewa), dan eksperimen khusus dengan resolusi 1 kilometer.

Terkait pencarian VCR, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menyatakan pihaknya telah menurunkan dua unit alat pencari tambahan, per Jumat (9/11/2018). Alat yang berfungsi sebagai pencari sinyal atau ping locator finder itu diklaim sebagai salah satu yang paling canggih di dunia.

"Kemarin sudah empat. Tadi pagi kami berangkatkan dua alat, boleh dikatakan tercanggih di dunia," sebut Soerjanto dalam laporan KOMPAS.com, di Dermaga JICT 2 Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Kecanggihan alat yang berasal dari Amerika Serikat (AS) itu salah satunya lantaran sensitivitasnya yang tinggi dalam menemukan sinyal di dasar laut. Apalagi dalam perkembangan pencarian, sinyal CVR yang lokasinya belum bisa dipastikan itu disebut-sebut semakin melemah.

Total, ada 201 personel Basarnas yang dikerahkan untuk mencari korban dan bagian pesawat. Ratusan personel itu termasuk 41 penyelam Basarnas Special Group yang melakukan pencarian di area seluas 900 meter persegi.

Di luar personel, tim SAR gabungan juga mengerahkan 12 unit kapal yang bergerak di area pencarian sejauh 25 kilometer (km). Kapal yang bertugas mencari VCR adalah Kapal Baruna Jaya I milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sampai Sabtu malam, tim Disaster Victim Identification (DVI) telah berhasil melakukan identifikasi dua jenazah lain korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610. Hingga saat ini sudah ada 79 jenazah yang berhasil terkonfirmasi identitasnya, dengan perincian 59 pria dan 20 wanita.

Data antemortem yang sudah diterima RS Polri Kramat Jati sebanyak 256, dengan jumlah yang telah diverifikasi sebanyak 189. Sementara data post-mortem yang telah diterima dari Basarnas berjumlah 196 kantung jenazah dengan data post-mortem DNA sebanayk 626 sampel.

Pesawat Lion Air JT610 rute Jakarta-Pangkalpinang jatuh di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin (29/10/2018) pagi. Pesawat mengangkut 181 penumpang dan delapan awak.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR