Dalam sebulan, 34 pelanggar syariat Islam dicambuk di Banda Aceh

Seorang perempuan menjalani hukuman cambuk di halaman Masjid Al A'la, Gampong Cot Mesjid, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh, Senin (15/4/2019).
Seorang perempuan menjalani hukuman cambuk di halaman Masjid Al A'la, Gampong Cot Mesjid, Kecamatan Lueng Bata, Banda Aceh, Aceh, Senin (15/4/2019). | Habil Razali /Beritagar.id

Sebanyak 12 orang pelanggar aturan syariat Islam menjalani hukuman cambuk di muka umum di halaman Masjid Al A'la, Gampong Cot Mesjid, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh, Aceh, Senin (15/4/2019). Dengan begitu, sudah 34 orang mendapat hukuman tersebut dalam sebulan terakhir.

Sebelumnya pada Maret 2019, ada dua eksekusi. Pertama menimpa enam pasangan. Lantas kedua, 10 orang menjalaninya. Adapun 12 orang terbaru divonis melanggar Qanun Aceh No. 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Eksekusi cambuk digelar sekitar pukul 11.00 WIB dan disaksikan warga dari berbagai usia. Terdakwa lelaki dicambuk oleh algojo dalam posisi berdiri, sedangkan perempuan divonis dalam keadaan bersila.

Kedua belas terdakwa itu divonis bersalah melanggar pasal khalwat (berduaan dengan pasangan tidak sah di tempat tertutup), ikhtilat (bermesraan dengan pasangan tidak sah), penyedia tempat ikhtilat, dan penyedia fasilitas untuk berjudi. Vonis mereka antara 8-37 kali cambukan.

Terdakwa yang melanggar pasal 23 ayat 1 tentang khalwat adalah MZ yang divonis 22 kali cambukan. Sementara yang divonis bersalah melanggar pasal 25 ayat 1 tentang ikhtilat adalah ZZ (22 kali), UH (21 kali), AF (23 kali), F (23 kali), M (22 kali), MA (26 kali), NA (23 kali), FH (8 kali), dan AS (8 kali).

Sedangkan RJ divonis bersalah karena melanggar pasal 20 tentang penyediaan fasilitas berjudi dan dicambuk 18 kali. Selain itu, FI disabet 37 kali karena terbukti bersalah melanggar pasal 25 ayat 2 tentang penyediaan fasilitas untuk ikhtilat.

Kepala Bidang Penegakan Perundang-undangan Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP-WH) Aceh, Marwan, mengatakan di antara 12 orang terpidana itu adalah oknum dokter yang bertugas di Kabupaten Aceh Barat Daya.

Dokter itu, kata Marwan, berinisial FH. Sementara yang perempuan berinisial AS berasal dari Pekanbaru. "Perempuan datang ke sini jumpai lelaki. Kemudian ketangkap dan diadili," ujar Marwan kepada para jurnalis, Senin (15/4).

FH dan AS kepergok sedang berduaan di kamar hotel di Banda Aceh. Tapi saat hendak ditangkap, mereka sempat lari ke luar hotel. "Kita tangkapnya di dalam mobil," kata Marwan.

Sementara Kepala Satpol PP-WH Kota Banda Aceh, Muhammad Hidayat, menuturkan sebagian pelanggaran syariat Islam datang dari laporan masyarakat. Oleh karenanya, dia mengapresiasi masyarakat karena sudah peduli terhadap penegakan syariat Islam di kota Banda Aceh.

"Jadi kita harapkan kepada masyarakat agar berperan aktif untuk melaporkan kepada call center jika terjadi pelanggaran syariat Islam. Karena petugas kita bekerja 24 jam," tutur Hidayat.

Menurut data tahunan Mahkamah Syar'iyah Aceh, pada tahun 2018, mereka menerima 308 kasus pelanggaran Jinayat. Jumlah itu kemudian ditambah 18 kasus sisa dari tahun 2017 yang belum diputuskan sehingga menjadi 326 kasus.

Dari 326 kasus jinayat, yang diputuskan pada tahun 2018 sebanyak 315 kasus dan menyisakan 11 kasus yang akan dilanjutkan pada tahun 2019.

Kasus jinayat terdiri dari perjudian, minum-minuman keras, khalwat, ikhtilath, zina, pelecehan seksual, pemerkosaan, qadzaf, liwaht (gay) dan musahaqah (lesbian).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR