Dampak 5G bagi kesehatan belum terbukti

Pengunjung berjalan melewati sebuah video pameran yang mempromosikan konektivitas 5G di booth Qualcomm saat CES 2019 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, 8 Januari 2019.
Pengunjung berjalan melewati sebuah video pameran yang mempromosikan konektivitas 5G di booth Qualcomm saat CES 2019 di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, 8 Januari 2019. | Steve Marcus - RC142052BF00 /ANTARA FOTO/REUTERS

Sejatinya, belum ada bukti ilmiah teknologi 5G menimbulkan dampak kesehatan, Banyak analisis soal radiasi jaringan nirkabel memicu kanker berangkat dari temuan cacat dan ketidakkritisan. Meski begitu, penelitian lebih lanjut diperlukan.

Hal itu diungkap Kenneth Foster, seorang profesor bioteknologi di Pennsylvania State University yang telah mempelajari dampak kesehatan dari gelombang radio selama hampir lima dekade.

“Semua orang yang saya kenal, termasuk saya, merekomendasikan lebih banyak penelitian tentang 5G karena tidak ada banyak studi toksikologi soal ini," kata Foster (17/7).

Sama halnya jaringan-jaringan seluler sebelumnya, teknologi 5G mengandalkan sinyal dari gelombang radio—bagian dari spektrum elektromagnetik—yang ditransmisikan antara antena dan ponsel.

Bedanya, 5G menggunakan gelombang dengan frekuensi jauh lebih tinggi dalam satuan milimeter –gelombang radio generasi 4G dan sebelumnya menggunakan satuan centimeter.

Frekuensi tinggi oleh gelombang millimeter ini bukan hanya menawarkan kapasitas lebih besar dan nyaris tanpa jeda transmisi data (latensi). Tapi juga memungkinkan perangkat 5G mengakses internet ataupun mengunduh lebih cepat 10-100 kali lipat dibanding jaringan 4G dan WiFi.

Di sisi lain, gelombang millimeter memiliki jangkauan sinyal pendek dan mudah terhalang dedaunan atau bangunan. Sebagai antisipasi, jaringan 5G membutuhkan lebih banyak stasiun pangkalan (tiang pemancar) berjarak dekat, dipasangi antena “sel kecil”.

Banyaknya pemancar inilah yang menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia seperti Belgia, Belanda, Swiss, termasuk beberapa negara bagian AS, radiasi 5G lebih berbahaya dibanding generasi sebelumnya.

Apalagi, perdebatan soal gelombang radio dapat memancarkan radiasi memang telah berlangsung sejak lama.

Berawal dari temuan cacat

Menyelisik muasal, New York Times mencatat ketakutan tidak beralasan tentang kemajuan teknologi nirkabel meningkatkan risiko kanker terutama pada anak-anak, berasal dari ketidakakuratan data penelitian Dr. Bill P. Curry, seorang konsultan dan fisikawan kesohor.

Selama bertahun-tahun, peringatan Curry pada tahun 2000-an yang tadinya hanya berupa penelitian terbatas untuk sekolah kaya di Florida, AS, berkembang dan menyebar luas.

Dalam penelitian, Curry melihat bagaimana gelombang radio memengaruhi jaringan yang diisolasi di laboratorium. Ia salah mengartikan hasil sebagai penerapan pada sel-sel jauh di dalam tubuh manusia.

Analisis Curry, menurut Christopher M. Collins, seorang profesor radiologi di New York University yang mempelajari efek gelombang elektromagnetik frekuensi tinggi pada manusia, gagal memperhitungkan efek perlindungan dari kulit manusia yang dikenal dengan istilah “efek perisai”.

Ini tak mengherankan lantaran Curry memang tak memiliki keahlian biologis maupun biomedis, meskipun ia dapat memecahkan teka-teki atom dan elektromagnetik dengan mudah.

Miris, temuan cacat Curry diadopsi dalam dua laporan Dr. David O. Carpenter, seorang ilmuwan yang saat ini menjabat sebagai direktur Institute for Health and the Environment University di Albany.

Dua laporan akhir 2011 dan 2012 menyimpulkan semakin tinggi frekuensi teknologi nirkabel akan semakin berbahaya, sempat mencuri perhatian dunia. Pasalnya, kemunculan ponsel generasi 4G antara 2010-2012 memang disempali frekuensi tinggi.

Bahkan, Carpenter pada tahun 2013 menambahkan pesatnya peningkatan penggunaan ponsel memperburuk risiko berbagai jenis kanker, infertilitas, dan kelainan perilaku otak.

Kendati dua peneliti Universitas Oxford menyimpulkan seluruh laporan Carpenter sebagai "didiskreditkan secara ilmiah.", banyak peneliti dan aktivis justru menjadikan analisis-analisis tidak akurat tersebut semacam fakta mapan.

Profesor Foster menyebut fenomena itu sebagai tidak kritis. "Sering ada kebingungan antara radiasi pengion dan non-pengion karena istilah radiasi digunakan untuk keduanya," jelasnya.

Radiasi pengion, lanjut dia, contohnya adalah semua cahaya baik buatan atau alami seperti sinar X dan sinar matahari. Ini berbahaya karena punya cukup energi untuk merusak ikatan kimia sel kulit atau DNA. Itulah mengapa kita perlu tabir surya saat panas terik.

Sebaliknya, gelombang radio pada jaringan seluler menghasilkan radiasi non-ionisasi, “Yang berarti tidak memiliki energi cukup untuk menghancurkan DNA dan menyebabkan kerusakan sel," terang David Robert Grimes, fisikawan dan peneliti kanker.

Sambung Foster, satu-satunya bahaya radiasi non-ionisasi adalah pemanasan terlalu tinggi yang bisa menimbulkan luka bakar dan kerusakan termal lain. “Tetapi paparan ini hanya terjadi dalam pekerjaan di dekat pemancar frekuensi radio berdaya tinggi, atau kesalahan prosedur medis,” tegas dia.

Namun, karena ada lebih banyak pemancar untuk gelombang milimeter, maka paparan radiasi jaringan 5G bakal lebih rendah dan tidak merugikan kesehatan.

Hal ini dibenarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2014. Termasuk International Agency for Research on Cancer (IARC) yang mengklaim bukti karsinogenik jaringan nirkabel tidak meyakinkan.

Lagipula, "Jika ponsel dikaitkan dengan kanker, kami berharap akan melihat tanda kenaikan. Namun belum terjadi," tandas Grimes.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR