MONETER

Dampak The Fed perlu diwaspadai pada 2019

Pekerja konstruksi membangun sebuah gedung di Jakarta, 21 November 2018.
Pekerja konstruksi membangun sebuah gedung di Jakarta, 21 November 2018. | Bagus Indahono /EPA-EFE

Sejumlah parameter pergerakan ekonomi terpantau stabil pasca-keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps), Rabu (19/12/2018).

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya terkoreksi 0,44 persen pada pembukaan perdagangan, Jumat (21/12/2018), dari posisi 6.117 terhadap penutupan hari sebelumnya, 6.147.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berkontraksi tipis, dengan dibuka pada posisi 14.502 dari penutupan Kamis (20/12/2018), di posisi 14.472.

Bank Indonesia (BI) merespons tenang dengan memutuskan untuk tetap mempertahankan tingkat bunga acuan 7-day Reverse Repo Rate (7DRRR) pada level 6 persen. Begitu juga dengan tingkat suku bunga deposit facility dan bunga lending facility, masing-masing 5,25 persen dan 6,75 persen.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menduga, dampak minim dari kenaikan suku bunga The Fed ini diakibatkan lantaran pelaku pasar sudah melakukan price in (memasukkan indikator harga) sebelumnya.

“Koreksi IHSG dan rupiah tidak signifikan. Itu pun lebih ke profit taking akhir tahun. Pasar sudah bersiap dalam menghadapi kenaikan ini,” ucap Bhima saat dihubungi Beritagar.id, Kamis (20/12/2018).

Untuk diketahui, The Fed kembali menaikkan suku bunganya untuk yang keempat kalinya pada tahun ini. Dengan tambahan 25 bps, maka suku bunga AS saat ini berada pada rentang 2,25 persen hingga 2,5 persen.

Jika ditotal, selama tiga tahun terakhir, The Fed sudah sembilan kali menaikkan suku bunganya. The Fed sengaja melakukan ini. Mereka memiliki target untuk mengembalikan suku bunga AS ke level normalnya sebelum krisis keuangan 2008 terjadi, yakni di kisaran 5 persen.

Tak ayal, Gubernur The Fed Jerome Powell mengumumkan adanya kemungkinan pihaknya kembali menaikkan suku bunga sebanyak dua kali pada 2019. Apalagi, Powell menyebut ekonomi AS sangat ini “sangat sehat”.

Potensi kenaikan suku bunga pada 2019 inilah yang menurut Bhima harus diwaspadai. Kenaikan suku bunga itu yang bakal membuat ekonomi Indonesia sulit bergerak.

“Pelaku pasar akan menanggapi dengan memborong surat utang. Kondisi ini akan menahan masuk pasar modal,” ujar Bhima.

Rupiah kemungkinannya masih akan bergerak pada level 15.000 karena dolar AS bakal semakin menguat, pertumbuhan ekonomi pun tak akan melonjak drastis melebihi 5 persen. “Tahun depan bisa dikatakan ekonomi bakal slow down. Ketakpastian dari global masih sangat kuat,” lanjutnya.

BI tak mungkin akan terus mempertahankan suku bunganya pada level 6 persen pada tahun depan. Pada dasarnya, BI tetap harus menjaga selisih bunga acuannya alias interest rate differential dengan The Fed agar tidak terjadi arus keluar modal asing dari pasar keuangan.

Hal ini dilakukan agar posisi nilai tukar rupiah diharapkan dapat terjaga. Efeknya, tambah Bhima, suku bunga konsumsi juga pasti akan naik. “Bunga pinjaman di perbankan pada tahun mendatang bisa sangat tinggi,” tukas Bhima.

Di sisi lain, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan tetap berada pada rentang 5,0-5,4 persen serta inflasi di kisaran 3,5 persen plus/minus 1 persen menjadi salah satu pertimbangan keputusan ini.

Namun, kondisi bisa berubah jika ekonomi global bergerak di luar prediksi.

“Kami memantau pengaruh risiko geopolitik yang membuat perdagangan dunia menjadi lebih rendah dan harga komoditas menurun, termasuk minyak mentah karena ada kenaikan proyeksi produksi OPEC,” kata Perry.

Jauhi saham farmasi

Proyeksi penguatan dolar AS yang masih berlanjut membuat investor lebih berhati-hati. Bhima menuturkan, untuk sementara investor sebaiknya menghindari saham-saham farmasi, rumah sakit, atau obat-obatan.

Persoalannya satu: nyaris 90 persen bahan baku untuk komoditas ini adalah impor. Artinya, beban rupiah akan semakin berat dalam arus perdagangan barang-barang ini.

Untuk menjaga rupiah tidak mengalami depresiasi, Bhima juga menyarankan BI menggunakan cadangan devisa (cadev) untuk stabilisasi kurs jangka pendek. Apabila BI menggunakan suku bunga yang terlalu tinggi, bisa berisiko menghambat laju ekonomi karena naiknya cost of borrowing pelaku usaha.

"Lagi pula posisi cadev naik menjadi sekitar $117 miliar AS pada November. BI bisa konsisten melakukan intervensi dengan cadev apabila rupiah dirasa terlalu fluktuatif," jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, yang paling penting adalah menurunkan defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) secara konsisten. Dalam jangka menengah panjang, CAD yang melebar membuat rupiah mengalami pelemahan.

Bhima mengatakan cara menekan CAD adalah dengan mengurangi impor migas lewat kenaikan produksi minyak sekaligus memperbaiki implementasi B20.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR