PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Dari dalam rutan, Umar Kei masih bisa pesan sabu

Umar Kei kala rilis kasus narkotika di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (15/8/2019).
Umar Kei kala rilis kasus narkotika di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (15/8/2019). | Rivan Awal Lingga /Antara Foto

Umar Ohoitenen, alias Umar Kei, kembali membuat masalah. Pada pertengahan Agustus kemarin, tokoh pemuda Maluku tersebut ditangkap oleh Kepolisian karena kasus narkoba dan dijebloskan ke Rumah Tahanan Polda Metro Jaya.

Toh, nyatanya, meski kini menghuni hotel prodeo, dia tetap melakukan aksi negatifnya itu. Aksi tersebut diketahui setelah Korps Bhayangkara menangkap Muhammad Hasan (MH) pada Sabtu (28/9/2019) lalu.

Hasan adalah orang suruhan Kei, alias kurir, untuk memasok narkoba wilayah Cengkareng ke dalam penjara. Modus yang dilakukan Hasan adalah memasukkan sabu ke dalam rutan dengan menyembunyikan sabu di dalam kaleng biskuit.

"MH ini membawa sabu dengan dimasukan ke dalam biskuit untuk mengelabui petugas," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, Senin (7/10), yang dikutip dalam detikcom.

Argo pun menjelaskan, bagaimana Hasan bisa sampai melakukan aksi tersebut. Awalnya, Hasan membeli sebuah biskuit berkaleng baru. Sabu kemudian dibungkus dengan plastik hitam dan diletakkan ke dasar kaleng biskuit. Setelah itu, ditumpuk kembali dengan biskuit.

Hasan kemudian menyegel kaleng biskuit itu dengan selotip untuk menunjukkan seolah-olah buah tangan tersebut masih baru. Kaleng biskuit itu ditutup kembali dengan dus bawaan dari biskuit tersebut.

"Ini biskuit baru. Sabu dibungkus dengan plasitk hitam dan ditaruh di bawah dan ditutupi roti (biskuit) biar nggak keliatan. Kemudian ditutup dan dimasukkan ke dusnya lagi," papar Argo.

Pada aksinya kali ini, Hasan tidak hanya membawa sabu. Dia juga menyelundupkan cangklong--perlengkapan untuk menghisap sabu yang biasa disebut bong.

Cangklong itu dibawa ke rutan dengan dimasukkan ke dalam botol air mineral yang diisi dengan air. Karena material bong adalah kaca bening, maka secara kasat mata tidak akan terlihat oleh masyarakat umum, pun petugas.

Dalam penangkapan tersebut, polisi mengamankan sabu seberat 20,95 gram di dalam kaleng biskuit dan empat buah cangklong di dalam 3 botol air mineral. Selain itu, polisi juga menyita sabu yang ada di dalam rutan.

Hasan pun dianggap melanggar Pasal 114 ayat (2) subsider Pasal 112 ayat 2 junto Pasal 132 ayat 1 UU RI Nomor 35/2009 tentang narkotika. Ia terancam hukuman penjara paling singkat 6 tahun.

Bukan kali pertama

Memang, sabu seberat 20,95 gram yang disita tersebut bukan yang pertama diselundupkan oleh Hasan. Menurut Kasubdit I Ditnarkoba PMJ AKBP Ahmad Fanani Eko Prasetya, dalam pemeriksaan Hasan mengakui sudah tiga kali menyelundupkan barang haram itu.

Setiap pengiriman, Hasan mendapat upah Rp1 juta. Artinya, sejauh ini Hasan telah mendapat Rp3 juta. "Jumlah barang bukti keseluruhan sebanyak 21,47 gram sabu," ucap Fanani dalam Liputan6.

Puluhan sabu yang disita tersebut, menurut Fanani, bukan hanya ditujukan kepada Umar Kei. Namun juga untuk tiga tahanan lain bernama Ersa Bagus Pratama Putra, Ahmad Yasin alias Elang, dan Ikhnatius Novel.

Menurut Medcom.id, Umar Kei menghuni Rutan Ditresnarkoba Polda Metro Jaya kamar C20. Sedangkan, Ersa Bagus dan Ikhnatius Novel di kamar C21. Ahmad Yasin menghuni tahanan kamar C12.

Akibat laku berulang ini, pihak Kepolisian pun kini menempatkan Umar ke sel isolasi. "Yang bersangkutan kami masukkan sel isolasi," kata Direktur Tahanan dan Barang Bukti Polda Metro Jaya AKBP Barnabas S Iman, Senin (7/10) dalam kompascom.

Menurut Barnabas, Kei--yang saat ditangkap menjabat sebagai Ketua Front Pemuda Muslim Maluku--sudah berada di ruang isolasi sejak tiga hari lalu.

Sadar yang berulang

Umar, yang tergabung dalam kelompok Kei, selama ini ditahan di Rutan Polda Metro karena jadi tersangka pada kasus penyalahgunaan sabu-sabu pada pertengahan Agustus kemarin.

Saat ditangkap, dari tangan Umar polisi juga mengamankan satu buah pistol. Akibat kasus-kasus tersebut Umar dijerat dengan Pasal Pasal 112, 114, 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 jo Undang-Undang darurat No 12 tahun 1951.

Saat ditangkap tersebut, Umar menjawab bahwa itu adalah sebuah takdir. "Saya pikir bahwa ini sudah menjadi takdir, apa yang pernah kita lakukan kesalahan pasti akan mendapatkan hukuman. Istilahnya bahwa ini adalah menghukum diri saya sendiri," ucapnya.

"Saya juga berterima kasih kepada aparat, bahwa aparat dengan menangkap saya, aparat membuat saya menjadi sadar."

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR