DAYA BELI

Daya beli petani semakin turun

Sejumlah petani memetik cabai merah saat panen di Desa Cot Lam Pisee, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (8/1/2019). Para petani itu mengeluh harga jual cabai merah tingkat petani hanya berkisar Rp10.000 sampai Rp11.000 per kilogram sementara harga jual di tingkat pedagang pengumpul mencapai Rp 22.000 sampai Rp 28.000 per kilogram.
Sejumlah petani memetik cabai merah saat panen di Desa Cot Lam Pisee, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Selasa (8/1/2019). Para petani itu mengeluh harga jual cabai merah tingkat petani hanya berkisar Rp10.000 sampai Rp11.000 per kilogram sementara harga jual di tingkat pedagang pengumpul mencapai Rp 22.000 sampai Rp 28.000 per kilogram. | Syifa Yulinnas /Antara Foto

Indonesia merupakan negara agraris dengan jumlah penduduk yang terlibat dalam kegiatan pertanian sangat besar. Oleh karena itu perhatian terhadap kesejahteraan petani dinilai sangat strategis.

Petani dinilai semakin sejahtera jika penghasilan dari bertani bisa membeli lebih banyak barang dan jasa yang dibutuhkannya. Itu akan terjadi jika harga hasil pertanian naik lebih tinggi dari harga barang dan jasa yang dibeli petani.

Salah satu alat ukur kesejahteraan petani yang digunakan saat ini adalah Nilai Tukar Petani (NTP). NTP dihitung dari rasio harga yang diterima petani (HT) terhadap harga yang dibayar petani (HB). Konsep ini secara sederhana menggambarkan daya beli pendapatan petani. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula daya beli petani.

Selama pemerintahan Presiden Joko "Jokowi" Widodo, ternyata rata-rata nilai upah riil yang diterima oleh petani cenderung menurun. Sejak 2014, kenaikan upah baru terjadi pada 2018, namun itu pun tipis.

Upah nominal, mengutip penjelasan Badan Pusat Statistik (BPS), adalah rata-rata upah harian yang diterima pekerja sebagai balas jasa pekerjaan yang telah dilakukan.

Sementara upah riil menggambarkan daya beli dari pendapatan yang diterima pekerja. Upah riil adalah perbandingan antara upah nominal dengan indeks konsumsi rumah tangga.

Data yang diolah oleh Lokadata menunjukkan, sepanjang tahun 2014 hingga kuartal III 2018, upah nominal yang diterima oleh petani memang mengalami kenaikan setiap tahunnya. Namun, rerata tingkat kenaikan upah petani berada di bawah tingkat kenaikan harga secara umum.

Hal ini menunjukkan bahwa upah riil yang diterima petani semakin turun. Artinya, kemampuan petani untuk membeli barang pun semakin menurun.

Rerata upah riil dan nominal buruh tani nasional 2014-2018.
Rerata upah riil dan nominal buruh tani nasional 2014-2018. | Lokadata /Beritagar.id

Nasib para petani di tanah air seperti tidak banyak mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Ini tercermin dari indeks NTP yang cenderung bergerak datar seperti terlihat pada grafik di bawah ini.

Selama empat tahun terakhir, petani sektor perkebunan rakyat tercatat yang paling drastis mengalami penurunan NTP hingga -0,92 persen. Sementara, NTP di sektor tanaman pangan tercatat yang paling tinggi mengalami kenaikan yakni mencapai 1,01 persen sejak 2014.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa daya beli petani tanaman pangan mengalami peningkatan seiring naiknya harga pangan. Penguatan ini dipicu oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih besar dibanding kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga serta keperluan produksi pertanian.

Sementara di sisi lain, pertumbuhan NTP petani lainnya cenderung mengalami penurunan, terutama petani tanaman hortikultura dan perkebunan rakyat akibat turunnya harga komoditas.

Meskipun harga-harga bahan pangan (pertanian) sering mengalami kenaikan seperti saat menjelang puasa dan lebaran, tapi tidak banyak berdampak terhadap para petani. Sebab yang mendapat untung besar justru bukan petani. Hal ini terlihat dari peningkatan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) yang tumbuh positif selama empat tahun terakhir.

Rerata pertumbuhan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) 2014-2018.
Rerata pertumbuhan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) 2014-2018. | Lokadata /Beritagar.id

BPS mencatat, saat ini terdapat sekitar 33.487.806 petani di seluruh Indonesia. Jika dilihat secara provinsi, dari 33 provinsi di Indonesia hanya 15 provinsi yang memiliki NTP di atas 100, sementara rata-rata NTP secara nasional mencapai 101,80.

Menurut definisi BPS, jika skor NTP di atas 100 menunjukkan pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya. Sebaliknya, jika skor NTP di bawah 100 berarti pendapatan petani turun lebih kecil dari pengeluarannya.

Sebagai catatan, pendataan dilakukan pada 33 provinsi karena data Provinsi Kalimantan Utara masih tergabung dengan Kalimantan Timur.

Provinsi Nusa Tenggara Barat tercatat memiliki rata-rata pertumbuhan NTP tertinggi 2,1 persen setiap tahunnya. Sementara, pertumbuhan NTP Provinsi Bangka Belitung tercatat negatif hingga 3,83 persen.

Lima Provinsi dengan perbandingan rerata nilai tukar petani tertinggi dan terendah 2014-2018.
Lima Provinsi dengan perbandingan rerata nilai tukar petani tertinggi dan terendah 2014-2018. | Lokadata /Beritagar.id

Kendati begitu, Aliansi Petani Indonesia (API) menilai indikator utama tingkat kesejahteraan petani bukan berasal dari harga produksi pertaniannya, melainkan masalah penguasaan lahan.

Muhammad Rivai, salah satu perwakilan dari API mencontohkan harga beras di Vietnam dan Thailand yang lebih rendah dari Indonesia. Namun, mayoritas petani di dua negara tersebut lebih sejahtera dibanding di Indonesia.

"Persoalannya memang ada di penguasaan lahan, saat ini ada 14 juta rumah tangga petani yang memiliki lahan hanya seluas kurang dari 0,5 hektare (ha)," ungkap Muhammad, saat dihubungi Beritagar.id, Kamis (10/1/2018).

Terang saja, kata Muhammad, berapapun kenaikan harga beras sulit membuat petani di Indonesia layak hidup sehari-hari karena pemilik lahan akan mendapat keuntungan lebih tinggi ketimbang petani yang hanya memperoleh komisi dari hasil tanam.

Kontribusi subsektor pertanian terhadap PDB 2014-2018.
Kontribusi subsektor pertanian terhadap PDB 2014-2018. | Lokadata /Beritagar.id

Bagaimana pun, sektor pertanian sangat berperan penting bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Pada 2017, BPS mencatat sektor pertanian sebagai penyumbang pertumbuhan PDB terbesar kedua sebesar yakni 13,26 persen tumbuh 3,14 persen dari 2016. Dari empat subsektor pertanian yang ada, perkebunan rakyat tercatat sebagai salah satu kontributor terbesar dalam PDB.

Perkebunan rakyat merupakan usaha tanaman perkebunan yang dimiliki dan atau diselenggarakan atau dikelola oleh perorangan atau tidak berbadan hukum, dengan luasan maksimal 25 ha. Di Indonesia, jenis usaha pertanian ini umumnya memproduksi teh, kopi, kelapa sawit, dan rempah.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR