DAYA SAING GLOBAL

Daya saing Indonesia melorot, apa saja penyebabnya

Suasana di pasar Peunayong, Banda Aceh, Aceh, Jumat (11/1/2019).  Keunggulan Indonesia dalam daya saing global terletak pada besarnya penduduk yang menjadi pasar.
Suasana di pasar Peunayong, Banda Aceh, Aceh, Jumat (11/1/2019). Keunggulan Indonesia dalam daya saing global terletak pada besarnya penduduk yang menjadi pasar. | Irwansyah Putra /Antara Foto

Daya saing Indonesia dalam kancah global melorot 5 tingkat dalam setahun. Menurut World Economic Forum (WEF) dalam Global Competitive Report 2019 menempatkan Indonesia di ranking 50 dari 141 negara. Padahal laporan tahun sebelumnya Indonesia ada di peringkat 45. Skor Indonesia juga turun dari 64,9 poin menjadi 64,6 poin.

Klaus Schwab, pendiri WEF yang mengedit laporan itu menulis ada 12 pilar yang dibandingkan antarnegara. Yakni Lembaga, infrastruktur, adopsi IT, stabilitas makroekonomi, kesehatan, skil tenaga kerja, pasar produk, pasar tenaga kerja, sistem keuangan, ukuran pasar, dinamisme pasar, dan inovasi.

Indonesia unggul dalam ukuran pasar yang besar (skor 82 poin, peringkat 7), mengingat jumlah penduduknya yang besar 264,2 juta jiwa. Stabilitas makro ekonomi Indonesia sebenarnya skornya bagus, 96 poin. Namun jika dibandingkan dengan negara-negara lain, skor itu hanya menempatkan Indonesia di peringkat 54.

Sedangkan lima pilar yang paling lemah adalah kesehatan (skor 71, peringkat 95), pasar tenaga kerja (skor 68, peringkat 85), inovasi (skor 38, peringkat 74), infrastruktur (skor 68, peringkat 72), serta adopsi IT (skor 55, peringkat 72).

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyadari, Indonesia masih kalah dari negara lain dalam peringkat daya saing global. "Kami menyadari itu. Oleh karena itu harus diperbaiki," ujar Kalla di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (9/10/2019) seperti dinukil dari Kompas.com.

Kalla mengatakan, Indonesia memerlukan perbaikan regulasi dalam investasi agar investor mendapat banyak kemudahan saat menanamkan modal. Menurut Kalla, pemerintah terus mengupayakan masuknya investasi agar masyarakat bisa mendapat pekerjaan yang layak dengan gaji sesuai upah minimum regional (UMR). "Oleh karena itu harus diperbaiki. Iya, regulasi, macam-macam, perbaikan investasi. Itu sedang kami lakukan," ucap Kalla.

Jika ditelisik lebih dalam, Indonesia tertinggal dalam soal lamanya mengurus izin bisnis (19,6 hari; peringkat 103), rendahnya bujet penelitian (0,1 persen dari PDB; peringkat 116), ongkos mubazir dalam urusan tenaga kerja (setara gaji 57,8 minggu; peringkat 136), serta konektivitas jalan raya (59,8 persen; peringkat 109).

Secara umum, Indonesia kalah kompetitif dibanding negara tetangga seperti Singapura (peringkat 1, skor 84,8), Malaysia (peringkat 27, skor 74,6), Thailand (peringkat 40, skor 68,1). Indonesia masih lebih kompetitif dibanding Brunei Darussalam (peringkat 56, skor 62,8), Filipina (peringkat 64, skor 61,9), dan Vietnam (peringkat 67, skor 61,5).

Namun jika dibandingkan tahun lalu, Vietnam juaranya. Negara yang sedang menggeliat itu peringkatnya naik 10 tingkat dalam setahun ini. Brunei Darussalam naik 6 tingkat, dan Singapura naik 1.

Peringkat Indonesia longsor bersama Malaysia dan Thailand. Dua negara tetangga itu peringkatnya turun 2 tingkat. Filipina yang paling ambyar, turun 8 tingkat.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR