DAYA SAING GLOBAL

Daya saing Indonesia meningkat drastis

Foto ilustrasi. Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (15/5/2019).
Foto ilustrasi. Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (15/5/2019). | Indrianto Eko Suwarso /Antara Foto

Daya saing ekonomi Indonesia meningkat drastis hingga 11 posisi. Ini adalah lonjakan paling drastis dari total 63 negara yang diukur oleh para akademisi dari IMD Business School di Swiss.

Dalam laporan tahunan daya saing internasional (World Competitiveness Yearbook) 2019 yang diterima Beritagar.id, Rabu (29/5/2019), Indonesia berada di posisi 32 setelah naik dari urutan 43 pada 2018. Sementara Arab Saudi mencatat kenaikan daya saing paling drastis hingga 13 posisi sehingga kini duduk di urutan 26.

Namun untuk lingkup regional, Indonesia melonjak paling jauh. Meski begitu; daya saing Indonesia masih tetap di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand sehingga peta persaingan belum berubah dari 2018 seperti pernah dilansir World Economic Forum.

Secara detail, Singapura naik dua posisi sehingga kini berada di nomor satu global dengan melompati Hong Kong dan menggusur Amerika Serikat (AS). Asia Pasifik secara keseluruhan paling baik karena daya saing 11 dari 14 negara di kawasan ini meningkat atau bertahan.

Semua berkat performa daya saing Singapura dan Hong Kong di dua besar. Adapun Jepang justru turun lima posisi di urutan ke-30.

Sedangkan Malaysia tetap di posisi 22 dan Thailand melonjak lima posisi di urutan ke-25. Kenaikan Thailand disebabkan oleh peningkatan investasi asing dan produktivitasnya.

Asia Tenggara, secara khusus, punya keunggulan dan perbaikan penampilan. Indonesia, misalnya menurut IMD; memperbaiki performa berkat efisiensi di sektor pemerintahan, pembangunan infrastruktur, dan situasi bisnis.

Satu hal lain yang membantu negara-negara Asia Tenggara dalam memperbaiki daya saingnya adalah biaya tenaga kerja yang paling rendah dibanding 63 negara dalam indeks terkait.

IMD Business School sudah menyusun indeks ini sejak 1989. Indeks mereka pun mendapat pujian selama 7 tahun beruntun (2012-2018) dari media Financial Times.

Arturo Bris, Direktur IMD World Competitiveness Center, mengatakan daya saing sebuah negara akan ditentukan oleh kebijakan ekonominya dan situasi politik. Bris memberi contoh bagaimana Hong Kong punya daya saing tinggi akibat pajak yang ramah bagi investor dan orang asing serta kebijakan bisnis atau investasi yang cukup kondusif.

"Dalam tahun dengan ketidakpastian pasar global yang tinggi dan perubahan cepat politik internasional serta hubungan perdagangan, kualitas pemerintahan menjadi elemen utama dalam meningkatkan kemakmuran," kata Bris dalam laporan itu.

"Pemerintahan yang kuat akan melahirkan stabilitas bagi para investor untuk berbisnis dan melakukan inovasi, serta memastikan kualitas hidup yang lebih baik bagi warganya," imbuh Bris.

Untuk menghitung daya saing sebuah negara, IMD menggunakan sekitar 230 indikator. Namun; empat indikator utama adalah performa ekonomi, efisiensi bisnis, efisiensi pemerintahan, dan infrastruktur.

Khusus Indonesia, indikator stabilitas makroekonomi menjadi indikator paling baik menurut data World Economic Forum (WEF) 2018. Perbedaan indeks daya saing WEF dengan IMD adalah pengukuran indikator lingkungan, tenaga manusia, pasar, dan ekosistem inovasi yang totalnya mencapai 12 aspek.

Lebih lanjut Bris menegaskan bahwa peringkat ini bukan untuk kepentingan menang-kalah. Daya saing hanya sebagai sasaran sebuah negara dalam berkompetisi di dunia.

"Daya saing akan menentukan bagaimana sebuah negara, kawasan, atau perusahaan mengelola kompetensi mereka untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan," pungkasnya.

Indeks daya saing 2019 versi IMD Business School.
Indeks daya saing 2019 versi IMD Business School. | IMD Business School
BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR