DAYA SAING GLOBAL

Daya saing meningkat, korupsi masih jadi penghambat

Massa yang tergabung dalam Perempuan Indonesia Anti Korupsi melakukan jalan santai sambil membentangkan spanduk dan poster berisikan antikorupsi saat hari bebas kendaraan bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (24/9/2017)
Massa yang tergabung dalam Perempuan Indonesia Anti Korupsi melakukan jalan santai sambil membentangkan spanduk dan poster berisikan antikorupsi saat hari bebas kendaraan bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (24/9/2017) | Hafidz Mubarak A /Antara Foto

Daya saing Indonesia secara global (Global Competitiveness Index) periode 2017-2018 menempati peringkat ke-36 dari 137 negara, atau naik lima tingkat dibanding peringkat sebelumnya pada posisi ke-41. Korupsi masih jadi isu penghambat terbesar.

World Economic Forum (WEF) mempublikasikan GDI 2017-2018 pada Kamis (28/9/2017). Seperti Korea Selatan, Indonesia dinilai telah memperbaiki kinerja di semua pilar, mulai dari infrastruktur hingga makro ekonomi.

"Posisi tersebut didorong utamanya oleh ukuran pasar yang besar (peringkat 9) dan lingkungan makro ekonomi yang relatif kuat (peringkat 26). Indonesia merupakan salah satu negara terbaik dalam inovasi di antara negara-negara yang sedang tumbuh," demikian bunyi siaran pers melalui situs weforum.org.

Namun Indonesia juga masih mencatat kelemahan. Dalam hal kesiapan teknologi, hanya berada di peringkat 80. Efisiensi di bidang pasar tenaga kerja juga masih butuh perbaikan, bila ingin bergeser dari peringkat 96 saat ini.

Menanggapi laporan tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus D.W. Martowardojo, menyatakan kenaikan peringkat itu merupakan bukti jerih payah seluruh masyarakat Indonesia dan pemerintah dalam rangka memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi.

"Kalau indeks competitiveness Indonesia meningkat, itu sejalan dengan kepercayaan global kepada Indonesia," kata Agus di Hotel Intercontinental, Bandung, Kamis (28/9/2017), dilansir Liputan6.com.

Dalam survei kemudahan berbisnis (ease of doing business/EODB) versi Bank Dunia, posisi Indonesia juga naik dari peringkat 106 menjadi 91. Meski begitu, Agus Martowardojo mengingatkan perlunya perbaikan sektor infrastruktur sebagai penyokong daya saing.

Meski naik ke peringkat 36, tingkat daya saing Indonesia masih di bawah tiga negara jiran di kawasan ASEAN, yaitu Thailand yang berada di peringkat 32, Malaysia di peringkat 23, dan Singapura di peringkat 3--peringkat tertinggi untuk negara-negara di Asia Tenggara.

Di peringkat pertama adalah Swiss, yang telah bertengger selama sembilan tahun berturut-turut. Disusul Amerika Serikat, Singapura, Belanda dan Jerman. Namun secara global, Indonesia masih lebih baik dari Rusia (38), India (40), Portugal (42), dan Italia (43).

Dari total 16 faktor, responden survei WEF diminta memilih lima yang paling menghambat bila berbisnis di Indonesia, dan merangkingnya. Isu korupsi, ternyata ada di puncak daftar tersebut, kemudian birokrasi yang tak efisien, akses terhadap pendanaan atau permodalan, dan infrastruktur yang lemah.

Hal lainnya yang dianggap masih menghambat, termasuk masalah ketidakajegan kebijakan, stabilitas pemerintahan, tarif pajak, rendahnya etos kerja, inflasi, dan angka kejahatan serta pencurian.

Menurut analisis ekonom Institute for Development Economic and Finance (INDEF), Berly Martawardaya, daya saing Indonesia masih kalah dari negara tetangga karena anggaran untuk penelitian dan pengembangan atau riset masih minim.

Berdasarkan kajian INDEF, belanja riset Indonesia hanya sebesar 0,2 persen terhadap PDB selama dua tahun terakhir. Sementara negara lain di ASEAN seperti Singapura dan Thailand sudah diatas 2,5 persen. Demikian dilansir Kontan (28/9).

16 hal yang masih menghambat bisnis di Indonesia
16 hal yang masih menghambat bisnis di Indonesia | WEF

Laporan survei yayasan organisasi nonprofit yang didirikan di Jenewa pada 1971 dan terkenal dengan pertemuan tahunannya di Davos, Swiss tersebut dilakukan terhadap 14.375 eksekutif bisnis di 148 negara pada periode Februari-Juni tahun ini. Sebanyak 94 responden di antaranya berasal dari Indonesia.

Indeks daya saing sebuah negara dipecah dalam 12 pilar, yang dikelompokkan dalam tiga sub-indeks. Ketiganya adalah institusi, infrastruktur, dan yang terakhir seputar ekonomi makro, kesehatan, dan pendidikan dasar. Ketiga sub-indeks pilar ini disebut sebagai pilar dasar, yang harus ditangani sebuah negara bila ingin tumbuh dengan baik.

Daya saing ekonomi jadi penting--meski bukan yang paling utama--karena menurut WEF sebuah negara yang kompetitif artinya lebih produktif. Semakin produktif sebuah negara, berarti mampu menyediakan semua kebutuhan dasar warganya.

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR