TRANSPORTASI UDARA

Daya saing wisata bisa tergerus tiket pesawat

Calon penumpang mengantre di loket check in Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (20/5/2019). Jumlah penumpang pesawat di bandara ini mengalami penurunan sekitar 10 ribu orang per hari akibat mahalnya harga tiket pesawat.
Calon penumpang mengantre di loket check in Bandara Internasional Juanda Surabaya di Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (20/5/2019). Jumlah penumpang pesawat di bandara ini mengalami penurunan sekitar 10 ribu orang per hari akibat mahalnya harga tiket pesawat. | Umarul Faruq /AntaraFoto

Kemampuan beli masyarakat terhadap nilai jual tiket pesawat bakal jadi polemik tak berkesudahan.

Keputusan penurunan tarif batas atas (TBA) demi mengakomodir pemudik dengan pesawat dinilai hanya bersifat sementara dalam meredam kegaduhan yang muncul jelang periode mudik Lebaran 2019.

Kebijakan ini pada dasarnya masih membuat banyak pihak menjerit, salah satunya pelaku usaha sektor pariwisata.

Menteri Pariwisata Arief Yahya secara tegas menyebut kebijakan ini tak akan mampu mengangkat kinerja sektor pariwisata yang anjlok hingga 30 persen sejak akhir 2018. Paling maksimal, kebijakan itu hanya mampu menambal 10 persen dari keterpurukan.

Menurut Arief, kebijakan penurunan tarif batas tiket pesawat ekonomi tidak secara langsung membuat ongkos penerbangan berbiaya murah (low cost carrier) turun.

Padahal, jenis penerbangan ini cukup populer di kalangan wisatawan baik dalam dan luar negeri ketimbang jenis layanan penuh (full service). Akibatnya, sejumlah rute perjalanan menuju destinasi wisata, khususnya di luar Pulau Jawa, kini menjadi lebih sepi dibandingkan musim-musim sebelumnya.

Arief jadi khawatir tingginya tarif penerbangan domestik bisa membuat orang membandingkan dengan harga tiket pesawat untuk rute internasional yang cenderung lebih murah.

“Nanti kita dipermalukan orang, dibilang tidak efisien,” ketusnya, pertengahan April lalu. Ujung-ujungnya, daya saing sektor yang tengah diunggulkan ini bisa dibalap tetangga sendiri.

Kekhawatiran Arief boleh jadi benar. Merujuk data analisis tarif maskapai di Asia Tenggara yang dibuat situs penjualan tiket, rome2rio.com, sepanjang 2019, Indonesia adalah negara dengan penerbangan domestik paling mahal ketimbang Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Thailand.

Rerata harga jual tiket penerbangan domestik oleh maskapai Air Asia, Lion Air Group, dan Garuda Indonesia Group, berkisar $0,1 AS per seat per kilometernya (km).

Harga tiket perjalanan domestik di Indonesia ini berbanding terbalik dengan Thailand dengan kisaran rerata harga jual senilai $0,04 AS per seat per km—dijual oleh maskapai Thai Smile.

Besaran harga yang dipatok Thailand itu menjadikannya negara dengan harga penerbangan domestik termurah di kawasan.

Perbandingan harga tiket perjalanan domestik di Asia Tenggara.
Perbandingan harga tiket perjalanan domestik di Asia Tenggara. | Lokadata /Beritagar.id

Kinerja Indonesia sepanjang tahun ini begitu jomplang dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2018, Indonesia adalah Thailand saat ini, negara dengan harga tiket perjalanan domestik termurah se-Asia Tenggara. Bukan hanya domestiknya saja, melainkan juga rute internasionalnya.

Ketika itu, AirAsia mematok tarif untuk penerbangan domestik sebesar $0,09 AS per seat per km, sedangkan internasionalnya $0,08 AS per seat per km. Perjalanan domestik di Lion Air reratanya $0,1 AS per seat per km dan internasionalnya dengan $0,11 AS per seat per km.

Sedangkan penerbangan yang paling mahal ada di Kamboja melalui Cambodia Angkor Air yang mematok penerbangan domestiknya seharga $0,45 AS per seat per km dan internasional $0,4 AS per seat per km.

Harga tiket pesawat domestik dan internasional di Asia Tenggara, tahun 2018.
Harga tiket pesawat domestik dan internasional di Asia Tenggara, tahun 2018. | Lokadata /Beritagar.id

Sinergi pariwisata dan penerbangan

Tingginya harga tiket pesawat tujuan domestik terhadap jumlah kunjungan wisatawan sejatinya turut berimbas pada bisnis perhotelan, restoran, hingga usaha kecil menengah (UKM) di daerah.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani memprediksi tingkat hunian kamar hotel berbintang pada tahun ini bakal stagnan di kisaran 55 persen, sama seperti tahun 2018.

Padahal, tingkat okupansi hotel berbintang pada 2017 bisa mencapai 57 persen.

Catatan PHRI menunjukkan, jumlah kamar hotel berbintang saat ini mencapai 350.000 unit dan hotel nonbintang sebanyak 310.000 unit. Sementara, jumlah restoran sudah mencapai di atas 100.000 unit.

Sejalan dengan turunnya tingkat okupansi, jumlah penambahan kamar pada tahun ini juga tercatat hanya sekitar 20.000-25.000 unit berbanding dengan realisasi tahun 2018 yang mencapai 28.000 ribu kamar.

Kementerian Perhubungan, di sisi lain, tak bisa berbuat banyak. Kebijakan TBA adalah satu-satunya jalan yang bisa dilakukan pemerintah dalam menekan harga. Selebihnya, pemerintah sejatinya tak memiliki kewenangan dalam mengatur aksi korporasi.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun seolah mafhum. Keputusan penurunan TBA pada kisaran 12 persen sampai 16 persen tetap tidak akan memberi pengaruh signifikan terhadap harga tiket pesawat yang diklaim selangit itu.

Dua faktor kerap diucapkan Budi. Satu, TBA yang normalnya dinaikkan setiap dua tahun sekali tidak terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Sekarang kondisi itu malah diputarbalikkan. Padahal, ada faktor-faktor seperti inflasi, harga avtur, hingga nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang terus melonjak tiap tahunnya.

Dua, momentum perang tarif antarmaskapai yang berakhir pada penghujung tahun 2018. Sehingga, tanpa masyarakat sadari, tarif tiket pesawat yang mereka lihat saat ini adalah harga sebenar-benarnya.

Maskapai jelas akan menjerit. Apalagi jika maskapai pelat merah tak kunjung untung, maka pemerintah juga yang pada akhirnya akan sakit kepala.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan, Djoko Sasono, menilai langkah yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah memperkuat sinergi antara dunia penerbangan nasional dan pariwisata.

Menurut Djoko perlu dirumuskan strategi maupun langkah promosi dari berbagai pihak, baik itu pengusaha hotel, restoran, biro perjalanan bersama maskapai dan pemerintah.

"Semua pihak harus mau terbuka dan bekerja sama untuk mencari langkah dan solusi yang tepat untuk memajukan dunia pariwisata Indonesia," tukas Djoko, Selasa (22/5/2019).

BACA JUGA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR